Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Menyampaikan


__ADS_3

Jihan duduk sebentar di bangku karena merasa pusing. Jujur saja Ia sendiri merasa heran karena semenjak kecelakaan itu Ia sering sekali sakit kepala, mimisan atau bahkan sesak napas. Kata dokter dia sudah sembuh dan baik baik saja. Namun kenyataanya lain. Kondisi tubuhnya tak mungkin bisa dibohongi.


"Dek. Kamu kenapa?" Tanya Riza baru pulang langsung menghampiri istrinya. Pria itu panik karena melihat Jihan sedang memegangi kepala. "Mas. Aku kok sering pusing sih. Padahal dokter bilang aku sudah sembuh. Iya kan?" Tanyanya membuat Riza kesulitan. Pria itu langsung merengkuh tubuh sang istri membawa dalam pelukan. "Dek. Jika Mas katakan sesuatu janji untuk jangan terlalu di pikirkan dan jangan emosi." Ucap Pria itu dengan lembut dan Jihan mengangguk. Riza menggenggam tangan Istrinya dengan satu tangan dan tangan yang lain mengusap wajah wanita itu. "Kamu tidak baik baik saja Dek. Maaf kami semua menyembunyikan ini karena menunggu waktu yang tepat. Kondisi kamu yang dalam proses pemulihan membuat kami merahasiakan sementara bahwa cedera otak dan paru paru yang kamu alami waktu kecelakaan itu tidak bisa sembuh total." Ucap Riza dengan mata berkaca kaca tak kuasa melihat wajah sendu istrinya. "Oleh karena itu Mas dan yang lain selalu mewanti wanti kamu untuk jangan terlalu berpikir berat dan kelelahan karena itu akan mempengaruhi kondisi kamu. Maafkan Mas. Ini semua gara gara Mas. Kalau saja waktu itu bukan karena Mas kamu tidak akan mungkin menderita seperti ini. Mas ingin sekali menggantikan posisi kamu jika Allah berkehendak." Riza memeluk tubuh istrinya. "Im Ok." Jawab Jihan dengan lirih.


Jaffan dan Jalwa cepat cepatan berlari untuk memeluk Ibunya. "Aku menang." Ucap bocah tampan itu berhasil mendahului sang adik. "Wah. Kalian sudah bangun dari tidur siang." Jihan mengusap kepala kedua anaknya dan mencium pipi mereka dengan lembut. "Omnya juga dong." Kata Mark tiba tiba muncul. "Sudah besar masih manja." Kata Jihan mengecup pipi Mark. "Ibu. Mau pusing susu." Pinta Jalwa. "Kalau Affan mau puding coklat." Jihan mengangguk kemudian segera mengajak keduanya ke dapur.

__ADS_1


Riza celingukan mencari keberadaan Istrinya. Padahal baru saja Ia tinggal sebentar untuk menaruh laporan keuangan ruko di kamar wanita itu sudah menghilang saja. Ia melangkahkan kaki menuju dapur karena lamat lamat mendengar suara tawa dari sana.


"Lagi bikin apa?" Tanya Riza menghampiri istri dan anak anaknya yang sibuk membuat sesuatu. "Lagi bikin puding. Nah...Minta tolong Ayah ambilkan buah di kulkas." Kata Jihan. "Ayah. Ambilkan buahnya dong..." Riza tersenyum Ia kemudian menggendong Jalwa membiarkan gadis kecil itu memilih buah sesuai instruksi Ibunya. "Strawberry iya nggak Ibu?" Tanyanya. "Iya Sayang. Jangan lupa bawa kiwi dan buah berry lainnya. Kalau tidak tau tanya ayah." Jawab Jihan. "Kalau bahan Brownis nya dimana Ibu?" Jalwa terus bertanya meskipun masih dalam gendongan Ayahnya. Jihan membalikkan badan menatap gadis kecil itu sambil bersedekap dada. "Jalwa mau brownies juga?" Tanyanya sambil tersenyum. "Iya." Jawabnya sambil tertawa kecil.


Malam hari semuanya berkumpul setelah makan malam. Ya kini mereka sedang berada di rumah Papa dan akan menginap disana. Pria paruh baya itu tampak sangat senang. "Baru saja mengoceh sudah tidur mereka berdua." Kata Mark melihat dua keponakannya sudah tertidur pulas di paha sang Ibu. "Biasa. Jam segini sudah mengantuk." Ucap Jihan. "Pindahin ke kamar biar nyaman." Kata Papa langsung di angguki menantunya.

__ADS_1


Jihan dan Riza kembali bergabung setelah memindahkan anak anak ke kamar. "Jaafar bagaiman?" Tanya Papa. "Sudah sembuh." Jawab Jihan. "Lalu Ayah, Bunda sama Adek kamu kemana nggak ada waktu dia sakit?" Tanyanya lagi. "Ada sebenarnya Pa. Kak Jaafar yang nggak mau ketemu." Pria paruh baya itu mengangguk mendengar jawaban putrinya. "Pa. Papa mau ya tinggal sama Jihan. Papa di sini buat Jihan khawatir. Nanti kalau papa pusing atau gimana gimana kan nggak ada yang tau." Ucapnya sambil menggenggam tangan Papa. "Iya Pa. Papa sudah tua lo. Papa apa nggak mau nikmati waktu papa sama cucu sama anak Papa? Daripada tinggal sendiri sepi kan mending sama kita Pa. Riza juga pernah rasakan dulu tinggal sendiri nggak enak. Papa mau ya?" Pria itu mengangguk menanggapi anak dan menantunya. Ia sebenarnya dari dulu ingin tinggal bersama anaknya. Jihan juga sudah memintanya untuk tinggal bersama berkali kali namun Ia menolak karena tak ingin mengganggu. "Terimakasih Nak." Ucapnya memeluk Kedua anak dan menantunya bergantian.


Hy Guys.....


Semoga kalian sehat selalu dan diberi kelancaran dalam segala hal. Im really thank you for your loyalty and support. Because you all make this novel continue. Mau tanya nih. Masih betah ngga? Kira kira mau di lanjut sampai berapa episode?

__ADS_1


__ADS_2