Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Ayah Nggak Kesambet Kan??????


__ADS_3

Juma menatap Ayahnya heran. Pria itu tiba tiba saja begitu sumringah sejak pulang dari kerja. Namun remaja itu tak peduli. Ia memilih menyibukkan diri bermain tenis dengan Ibunya. "Aw..." Keluhnya saat lengan di hantam bola. "Kenapa melamun?" Tanya Jihan hanya di jawab gelengan. Ia tersenyum kemudian melanjutkan permainan yang tertunda.


"Ibu. Ayo keluar. Juma bosen di rumah." Ucapnya. "Kemana?" Tanya Jihan sambil mengusap keringat di kening putranya dengan handuk kecil yang Ia bawa. "Kemana saja. Kita berdua. Jangan ada yang ikut." Remaja itu menaik turunkan kedua alisnya sambil tersenyum. "Coba kamu izin sama Ayah." Jawab Jihan sambil melangkah pergi. "Izin sama Ayah?" Gumamnya. Pria itu pasti tidak mengizinkan Istrinya pergi sendiri. Riza kan orangnya...Ah tidak ada salahnya di coba. Pikirnya kemudian bergegas pergi.

__ADS_1


Juma menghampiri Ayahnya yang sedang mengobrol dengan Kakek. Ia masih berantakan dengan tubuh yang berkeringat. "Mandi sana." Riza menutup hidungnya saat si bungsu duduk di dekatnya. "Ayah. Mau ngomong penting." Ucapnya sambil meneguk es jeruk milik sang Ayah. "Aku mau ajak Ibu keluar. Hanya aku sama Ibu. Boleh?" Tanyanya sambil meletakkan gelas yang masih tersisa seperempat di atas meja. Riza tampak berpikir cukup lama. Pria itu menimang nimang keputusan apa kiranya yang akan di buat. "Boleh." Jawabnya membuat Papa dan Juma melongo. "Apa kiamat akan datang?" Pikir keduanya karena Riza membiarkan Jihan keluar sendiri di luar pekerjaan terlebih Ia tak ikut. Kan sangat tidak pernah. Baru kali ini. "Ayah nggak kesambet kan?" Tanyanya polos. "Mau di cabut izinnya?" Tanya Riza seketika putranya itu menggeleng. "Makasih Yah." Remaja itu tersenyum senang sambil memuji Ayahnya kemudian menghabiskan es jeruk yang enak itu dan bergegas pergi. "Oh anak itu." Ucap Riza melihat gelasnya telah kosong. "Iya Za. Kesambet apa kamu mengizinkan istrimu hanya pergi berdua dengan si manja itu." Riza tersenyum. "Biar Pa. Sesekali bikin anak senang." Jawabnya sambil terkekeh. Papa tidak tau saja jika hari ini menantunya itu mendapatkan ribuan triliun kebahagiaan.


Jaffan dan Jalwa menghampiri Ayahnya yang hendak masuk ke dalam rumah. Keduanya begitu sibuk mengerjakan tugas sehingga daritadi berdiam diri di kamar belum berjumpa dengan sang Ibu. "Yah. Ibu mana?" Tanya Remaja tampan itu. "Ibu pergi sama Adek kalian." Jawab Riza sambil berlalu pergi meninggalkan dua putra putrinya yang masih melongo di tempat. "Kok Ayah kasih izin. Mana kita enggak di ajak lagi." Keluh Jalwa mengikuti langkah sang Ayah. "Biarkan." Riza duduk di sofa sembari membuka laptopnya. "Perginya kemana Yah?" Tanya Jaffan. "Nggak tau, tadi tidak bilang mau kemana." Jawabnya tanpa menoleh pada mereka.

__ADS_1


Jihan sampai di Mall bersama putranya. Ibu dan anak itu bagaikan adik kakak yang sedang menghabiskan waktu bersama. "Ibu. Mau burger." Ia menarik tangan Ibunya menuju ke tempat yang menarik perhatiannya. "Duduk. Ibu pesankan dulu." Ucapnya di jawab anggukan. Jihan memesan burger untuk di makan di tempat dan dibawa pulang untuk anak anaknya di rumah.


Jihan menggandeng tangan putranya memasuki salah satu toko pakaian dengan brand ternama. Wanita itu memilih dengan teliti. Apapun yang dibelikan Jihan tidak ada yang mengeluh. Karena hanya wanita itu yang tau selera masing masing orang.

__ADS_1


Cukup berjam jam menghabiskan waktu di Mall Jihan memutuskan untuk pulang. Namun Ia singgah terlebih dahulu di sebuah toko kopi. "Selamat datang." Sambut seorang remaja yang beberapa hari lalu melayaninya saat membeli. "Nona. Sudah habis kopinya?" Tanyanya sambil tersenyum. "Sudah. Sehari minum berkali kali soalnya." Jawab Jihan sambil terkekeh. "Oh iya. Kita belum kenalan. Nama saya Jason." Jihan tersenyum menyambut uluran tangan pemuda itu. "Saya Jihan. Ini putra saya Juma." Jawabnya sambil memperkenalkan si bungsu. "Sangat tampan. Wajahnya mirip Nona. Saya mengira dia adik Nona." Ucap pemuda itu jujur.


Jihan dan Juma sedang duduk dengan Jason. Ketiganya menikmati coklat panas untuk menghangatkan badan di cuaca malam yang sedikit sejuk. "Panggil Tante saja. Aku lebih cocok menjadi Ibumu." Ucap Jihan sambil tersenyum. "Baik." Jawab pemuda itu. "Juma kelas berapa?" Tanya Jason. "Kelas 1 SMP." Juma menatap pemuda di depannya itu dengan seksama. Wajah bule tapi sangat lancar berbahasa Indonesia. "Sebenarnya kakak orang mana? Fasih sekali bahasa sini." Tanya Juma. "Besar di Belanda. Disana ada kelas bahasa Indonesia saat sekolah dulu. Ditambah kakak terbiasa dengan bahasa Indonesia sejak kecil karena para pekerja di rumah juga menggunakan bahasa itu. Lambat laun jadi terbiasa dan lancar." Juma mengangguk paham atas jawaban Jason. "Sudah besar minum masih berantakan." Gumam Jihan mengelap sudut bibir Putranya. Perlakuan wanita itu membuat hari Jason terisiris. Ingi sekali. Andai almarhumah Mamanya bersikap demikian pastinya Ia akan sangat bahagia. Sedari kecil hingga dewasa Ia tak tau apa itu kasih sayang dari orang tua karena Ia hidup dari asuhan Baby sitter nya sejak kecil. Kedua orang tuanya tidak ada yang peduli sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2