Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Juma


__ADS_3

Tahun demi tahun berlalu begitu cepat. Semuanya berjalan dengan baik. Rumah tangga Jihan juga baik baik saja. Wanita itu menghadapi dengan sabar anak anak dan suaminya yang manja. Hanya tinggal keluarga kecil Jihan, Papa dan Juga Mark. Jaafar sudah menikah dua tahun yang lalu dengan seorang kenalannya dari pondok pesantren. Baru saja kakaknya itu mengadakan acara syukuran karena istrinya hamil. Jafar tak berhenti berterimakasih pada Jihan karena obat herbal dan support yang selalu di berikan membuahkan hasil dari usaha. Jaafar tinggal bersama Ayah dan Bunda. Sedangkan Mark. Pemuda itu masih mengejar cintanya yang sedikit rumit. Gadis yang disukainya dari kalangan biasa membuat perbedaan status sosial yang kontras diantara mereka menjadi sebuah halangan.


"Mas." Zulfa berhenti di pijakan tangga rumah mewah milik kakak Mark. Ia sadar diri seorang yang biasa tak mungkin akan bersanding dengan keluarga kaya raya seperti ini. "Ayo masuk." Kata Mark meyakinkan. "Kakakku orangnya baik kok. Jangan takut." Ia tersenyum membuat Zulfa mengangguk kemudian melangkah lagi mengikuti Mark.

__ADS_1


Masuk ke dalam rumah bagaikan istana. Semua perabotan tampak mewah dan elegan. Ruang tamu saja sudah seukuran rumahnya yang begitu luas. Zulfa terus berjalan mengikuti Mark hingga sampai di depan pintu besar yang kemudian terbuka lebar. Sayup sayup terdengar seorang wanita sedang menuturi seseorang.


"Assalamualaikum." Ucap Mark memasuki ruang keluarga diikuti Zulfa di belakangnya. "Waalaikumsalam." Jawab Mereka yang sedang berkumpul. "Kakak. Kenalkan ini Zulfa yang pernah aku ceritakan." Kata Mark. Gadis itu tersenyum membalas senyuman Jihan. "Zulfa. Senang mengenalmu. Mari duduk." Ajaknya menarik tangan gadis itu untuk diajak duduk bersama. Benar yang dikatakan Mark. Kakaknya memang ramah dan baik.

__ADS_1


"Ibu." Keluh Jalwa menghampiri Ibunya yang sedang asyik mengobrol. "Hm. Ada apa sayang?" Tanya Wanita itu sembari mengusap pipi anaknya. "Juma nakal. Dia mencoret semua bukuku." Kesalnya sambil cemberut. "Juma lagi." Mark menggelengkan kepalanya dengan tingkah si bungsu yang selalu berulah. Jika sudah begini maka Jihan yang bisa mengatasi. "Panggilkan adikmu kemari." Tegasnya langsung mendapat anggukan.


Juma berdiri di depan Ibunya sambil menundukkan kepala. "Maaf Ibu." Lirihnya. "Salah apa?" Tanya Jihan. "Mencoret buku kakak." Bocah itu meremat jemarinya. "Minta maaf sama kakak." Tegas Jihan. "Maaf kak." Juna mencium tangan kemudian memeluk Jalwa. "Kamu kalau tidak di hukum sama Ibu pasti akan diulangi lagi. Kali ini hukuman apa yang pantas ya?" Tanya Jihan sambil berpikir. Juma menerima karena dia memang salah. "Baca Asmaul Husna 3 kali." Perintah Jihan. "Iya Ibu." Jawabnya kemudian memeluk sang Ibu. "Lain kali jangan nakal lagi." Ia mencium dan memeluk putranya. "Iya Ibu." Juma langsung melaksanakan hukuman dari Ibunya. Zulfa tersenyum dengan cara Jihan mendidik anak anaknya yang begitu luar biasa. Mark juga sering menceritakan kakaknya itu. Benar yang di katakan. Jihan sangat baik, ramah dan tegas dalam satu waktu.

__ADS_1


Semuanya makan siang bersama. "Masakan kakakku enak kan?" Tanya Mark. "Sangat enak." Jawab Zulfa jujur. "Dek. Nanti malam temani Mas ya." Kata Riza. "Kemana?" Tanya Jihan. "Potong rambut. Sudah panjang." Wanita itu mengangguk menyetujui permintaan suaminya. "Em...Zulfa. Kamu kerja di butik mana?" Tanya Papa. "Di butik Sabela Om." Jawabnya. "Oh. Itu langganan aku. Kok kita nggak pernah ketemu ya." Kata Jihan menyahut. "Pernah melihat kakak beberapa kali. Tapi sungkan mau menyapa." Jawab Zulfa lirih. "Hey...Tidak perlu sungkan. Kakakku ini bar bar orangnya." Ucap Mark membuat Riza tertawa. "Enggak kok kak. Sekarang sudah kalem." Lanjutnya karena mendapat tatapan tajam dari Jihan. "Ibu. Besok Jaffan dan Jalwa ada acara di sekolah. Ibu jadi datang kan?" Tanya Remaja itu. "Jadi dong sayang. Ibu kan sudah janji." Jawab Jihan sambil tersenyum. Zulfa begitu bahagia merasakan kehangatan kelurga. Meskipun baru bertemu tapi rasanya sangat dekat dan nyaman. Maklum dari kecil hidup di panti asuhan membuatnya tak bisa merasakan apa itu kebersamaan dengan keluarga.


__ADS_2