Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Akhir Penantian Cinta Ustadz Riza


__ADS_3

Lima bulan berlalu. Kini Jihan sudah menepati rumah barunya. Wanita itu mengundang semua orang sebagai acara syukuran. Semua karyawan yang baru datang memandang takjub istana megah yang sekarang tengah mereka pijak. "Kenapa sepatunya di lepas. Bawa masuk. Kalian itu." Ucap Jihan berkacak pinggang saat pintu utama rumahnya terbuka. Mereka hanya bisa cengengesan. Ternyata sudah banyak orang berkumpul di dalam. Termasuk Meta dan kelurganya.


Jihan tinggal di rumah barunya bersama keluarga. Ia tak bisa tinggal bersama Ayah dan Bundanya namun sesering mungkin wanita itu mengajak suami dan anak anak untuk berkunjung. Hubungan mereka semakin membaik seiring dengan berjalannya waktu. Tidak mungkin juga akan terus memburuk. Jihan sadar bagaimanapun mereka tetaplah kedua orang tuanya yang harus di hormati.


Semua orang sedang menikmati hidangan makan siang. Ernest dan putrinya juga turut hadir karena di undang. Ini sebagai rasa terimakasih Jihan karena berkat pria itu rumah impiannya selesai dalam waktu yang cepat dan sesuai dengan keinginan. Setiap detail begitu pas dengan selera Jihan. "Mbak Jihan. Rumah sebesar ini bisa buat main bola dong." Celetuk salah satu karyawannya. "Iya juga sih. Itu anak anak kalo main bola sama Om sama Pamannya di dalam. Sampai guci yang aku baru beli kemarin pecah. Nah. Yang mau gantiin kemarin siapa? Aku nggak lupa lo." Ucap Jihan menyindir membuat kakaknya terkekeh. " Iya Dek. Nanti kakak ganti. Kamu tenang saja. Masih dalam pemesanan." Kata Jaafar. "Ini pak Ernest ya?" Tanya Jaafar. "Iya. Saya kontraktor rumah nya mbak Jihan." Jawab Pria itu sambil tersenyum. "Za. Orang ini yang bikin kamu cemburu?" Tanyanya membuat Riza tersedak saat minum. Ia tak menyangka mulut Jaafar sangat lemes. Kan bikin malu. "Riza siapa yang nggak di cemburuin. Semua laki laki itu musuh baginya." Ucap Papa. Ernest tersenyum menanggapi pria paruh baya itu. Memang benar beberapa kali Jihan pernah berkata Jika Suaminya itu pencemburu. Jadi beberapa kali janji juga di batalkan karena laki laki itu. "Ustadz Riza nggak perlu cemburu. Mbak Jihan sangat menyayangi ustadz kok. Dia tipe wanita yang setia. Demi menjaga perasaan Ustadz beberapa kali Mbak Jihan membatalkan pertemuan dengan saya. Katanya nunggu izin dari ustadz dulu." Kata Ernest menjelaskan. Riza tersenyum. Ia tak menyangka jika diam diam istrinya semanis itu. "Memang iya Dek?" Tanyanya memastikan. "Apa?" Jihan yang sedang mengobrol bersama Meta menoleh pada suaminya. "Nggak jadi. Lanjutkan saja ngobrol kamu." Ucapnya mengundang gelak tawa dari orang orang. Jika sudah di jawab ketus begitu Riza pasti akan diam.

__ADS_1


"Rumah kamu bagus Dek." Ucap Bunda yang baru datang bersama Ayah langsung bergabung bersama mereka. "Alhamdulillah." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Mark sama Jaafar itu kapan nikah?" Tanya Ayah. "Kalau aku nanti dulu Om. Masih muda. Nggak buru buru." Jawab Mark dengan santainya. "Ayah kenapa bahas nikah sih. Yang lain kan masih ada." Kalau Mark santai beda halnya dengan Jaafar yang sensitif dengan masalah seperti ini.


Riza menghampiri Istrinya di kamar. Pria itu memeluk wanita yang tengah berdiri melepas jilbab. "Terimakasih Sayang." Ucap Riza sambil memutar tubuh Jihan untuk menghadapnya. "Terimakasih sudah menjadi istri dan Ibu yang baik. Terimakasih sudah setia dan menerima segala kekurangan Mas. Terimakasih untuk segala perjuangan kamu untuk kebahagiaan rumah tangga kita. Terimakasih banyak telah hadir dan membawa bahagia. Maaf Mas belum bisa memberi kebahagiaan yang lebih. Mas Mencintai kamu Sayang." Ucapnya menatap mata sang istri dalam dalam kemudian mencium bibir mungil itu. "Terimakasih Mas selalu menjagaku. Menjadi suami dan Ayah yang baik. Terimakasih sudah menerima kekuranganku. Aku kini berubah menjadi lebih baik berkatmu. Buah dari kesabaranmu membawa kita dalam kebahagiaan. Terimakasih sudah selalu memperjuangkan. Maaf telah membuatmu lama menunggu. Aku mencintaimu Mas." Ucap Jihan memeluk suaminya. Hati Riza menghangat. Setelah sekian lama penantian cintanya tak sia sia. Kehidupannya kini begitu lengkap. Berjuta syukur tak akan bisa menggambarkan semua nikmat yang Allah berikan.


Terimakasih sudah baca, like dan komentar. Sehat selalu untuk kalian. Salam hangat dari Author. Jan lupa mampir di novel sebelah ya. "Mengejar Cinta Nona Sabrina." Baru Up Beberapa eps. Semoga suka.

__ADS_1


Bye....


Bye....


__ADS_1


__ADS_2