Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Terjatuh


__ADS_3

Pagi hari Jihan menunggangi kudanya memasuki area hutan pinus. "Go Lucifer go..." Ucap wanita itu menghentakan tali yang di pegangnya agar kuda hitam kesayangannya itu berlari lebih cepat. "Oh no...no..." Lucifer mengangkat kedua kaki depannya karena terkejut ada burung besar yang terbang memotong jalan. Jihan terjatuh beberapa meter menghantam pohon di sekelilingnya. Pandangan Jihan mulai buram dan menggelap sempurna dengan cairan merah yang mengalir dari hidung dan keningnya.


Riza yang sedang menunggu merasa khawatir karena istrinya tak kunjung kembali. "Ayah. Kenapa Lucifer saja yang datang? Ibu dimana?" Tanya Jaffan melihat kuda gagah itu berlari keluar hutan sendirian tak bersama ibunya. Riza tak menjawab. Pria itu memilih bergegas pergi untuk mencari tahu apa yang terjadi.


Semuanya membulatkan mata melihat Jihan terkapar di tanah dengan penuh luka. Riza dengan cepat meraih tubuh istrinya. "Ibu..." Juma menangis terjerit jerit melihat kondisi Ibunya yang begitu memprihatinkan. "Siapkan mobil. Kita ke rumah sakit." Ucap Riza menahan air matanya menggendong sang istri sambil berlari terburu buru.

__ADS_1


Jihan sedang di tangani dokter di ruang UGD. "Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Jaffan. "Tidak tau juga. Kemungkinan jatuh dari kuda." Jawab Papa yang sedang duduk menunggu bersama menantu dan cucu cucunya. "Ibu...." Juma masih menangis dalam pangkuan Kakaknya. "Sudah jangan menangis. Juma berdoa saja semoga Ibu cepat sembuh." Kata Dewi dan Mia mencoba menenangkan anak bungsu sahabatnya.


"Kakak. Apa yang terjadi dengan kak Jihan?" Tanya Mark yang datang bersama istrinya. "Jatuh." Jawab Riza singkat sambil menunggu dengan cemas karena sudah dua jam lebih dokter belum juga keluar. "Bagaimana kejadiannya?" Tanya Mark lagi. "Jangan bertanya macam macam dulu Mark. Kami semua sedang cemas." Ucap Papa membuat pria itu seketika duduk diam.


Riza bergegas menghampiri dokter yang baru keluar. "Bagaimana dok?" Tanyanya tak sabaran. "Patah lengan dan kaki Kami sudah mengatasinya. Benturan kepala sebenarnya tidak terlalu parah namun karena luka lama yang pernah dialami membuat pasien belum bisa bangun untuk beberapa waktu." Dokter menjelaskan secara rinci kepada pihak keluarga.

__ADS_1


"Za. Makan dulu." Kata Ayah Jihan menghampiri menantunya yang sedaritadi tak beranjak dari duduk. "Riza tidak lapar Yah." Jawabnya pelan. "Jaga kesehatanmu. Jangan sampai sakit." Ucap Pria itu menepuk pelan punggung menantunya untuk memberi support.


Dika baru saja tenang. Hatinya sakit melihat wanita yang disayanginya terbaring lemah tak berdaya. Walaupun perkenalannya dengan Jihan bisa dibilang baru, namun perasaannya pada wanita itu tak bisa Ia bohongi. Jihan sudah seperti Ibu dan malaikat penolong baginya. Tanpa wanita itu entah apa yang terjadi. Hidupnya pasti tidak akan seberuntung sekarang.


Malam hari tiba. Riza menyuruh anak anaknya untuk pulang. "Ayah, Juma mau sama Ibu." Ucapnya merengek ingin tetap tinggal. "Juma jangan begini. Besok kembali lagi." Ucapnya lembut sembari mengusap kepala putra bungsunya itu. "Ayah akan menunggu disini dengan siapa?" Tanya Jaffan. "Sendiri. Biarkan Ayah sendiri disini bersama Ibu, ajak kakek pulang juga." Jawab Riza. "Za. Papa mau disini." Kata Papa di jawab gelengan oleh menantunya. "Papa nanti bisa sakit. Kalau Papa sakit Istri Riza juga akan sedih. Papa pulang sama anak anak ya. Jangan sampai ada yang sakit." Tuturnya dengan lembut.

__ADS_1


Riza menggenggam tangan istrinya dan mencium beberapa kali. "Dek. Bangun Dek. Mas sama yang lain khawatir nunggu kamu. Kenapa kamu suka sekali terluka dan buat Mas cemas sih. Apa kamu senang melihat Mas sedih seperti ini?" Ia mengeluarkan air mata yang sedaritadi di tahannya. Melihat istrinya terluka membuat hati Riza begitu tersiksa. Jika Ia bisa memilih Ia dengan senang hati akan menggantikan dan menanggung semua luka yang dialami wanita yang begitu Ia cintai.


"Ya Allah yang maha pengasih dan penyayang. Segalanya hamba serahkan kepada engkau. Hamba percaya semua yang telah engkau takdirkan itu baik. Rezeki, kesehatan dan musibah itu semua merupakan kehendakmu. Engkau tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba. Maka kuatkanlah hati hamba. Berikanlah kesabaran lebih dan keikhlasan yang melimpah untuk menjalani semua garis takdirmu. Ini memang bukan pertama kalinya bagi hamba mengalami hal menyakitkan seperti ini. Namun rasa sakit masih sama saat melihat tulang rusuk yang engkau takdirkan untuk hamba terluka. Sembuhkanlah dan sehatkanlah istri hamba....." Ucap Riza dalam doa di sepertiga malamnya.


__ADS_2