
Riza dan Jihan baru saja pulang. Mereka tadi selesai mengurus pembayaran dan surat surat ruko lalu mampir ke butik sebentar untuk membeli baju kondangan yang akan di pakai nanti malam. Teman Riza menikah hari ini dan pria itu mengajak istrinya untuk datang. "Kak. Aku mau beli Snack di minimarket ya." Ijinnya pada sang kakak yang baru turun dari mobil. "Kakak ikut." Ucap wanita itu. "Dek. Kamu baru pulang nanti kecapean." Riza khawatir pada istrinya. "Nggak. Cuman sebentar. Lagipula dekat juga. Kamu di rumah saja biar aku sama Mark yang pergi." Jihan mulai melangkah diikuti sang adik. "Assalamualaikum." Ucapnya berpamitan. "Waalaikumsalam." Jawab Riza hanya memandangi kepergian kakak beradik itu.
Seorang pria tergesa gesa menghampiri dua orang yang sedang berjalan santai sambil mengobrol. "Kamu ngapain?" Tanya Jihan melihat Riza menghampirinya. "Kamu belanjanya lama. Aku khawatir tau." Ucap Riza lalu menggandeng tangan wanita itu. "Lima belas menit. Itu sebentar." Jawab Jihan kesal karena suaminya itu terlalu berlebihan. Ia melepaskan tangan Sang Suami kemudian berjalan mendahului keduanya.
__ADS_1
Riza sedaritadi mengikuti istrinya. Pria itu tak berhenti meminta maaf. Kini Ia sedang duduk manja di samping Jihan yang sedang menikmati eskrimnya. "Jangan ngambek dong Dek. Mas kan cuman khawatir sama kamu." Kata Pria itu menyenderkan kepalanya di pundak sang istri. "Iya. Iya. Awas. Jangan begini. Kamu itu berat."Jihan mendorong tubuh suaminya pelan agar menjauh. "Mau eskrimnya." Ucap pria itu selalu tak kehilangan akal untuk mencari perhatian istrinya. "Ambil sendiri. Di kulkas kan ada." Riza dengan cepat menggeleng. Ia membuka mulutnya memberi kode agar di suapi. Jihan menghela napas kemudian menyuapi suaminya. "Yang hamil itu aku kenapa yang aneh jadi kamu." Kesal Jihan melihat tingkah Riza yang semakin hari semakin menyebalkan.
Malam hari Jihan sudah siap dengan kebaya maroonnya. Ia terlihat begitu cantik dan elegan membuat Riza menatapnya penuh kekaguman. "Nggak jadi pergi saja." Pria itu mulai lagi dengan mode menyebalkannya. "Kenapa? Jangan buat aku kesal Mas. Tadi siang merengek minta di temani. Sekarang aku sudah mau kamu begini." Jihan menatap suaminya sambil menghela napas. "Mas nggak rela kecantikan kamu di lihatin banyak orang." Ucapnya membelai lembut pipi sang istri. "Jangan aneh aneh. Ayo berangkat. Keburu malam nanti." Tanpa menunggu Jihan berjalan mendahului suaminya.
__ADS_1
"Selamat ya." Ucap Riza diikuti istrinya. "Terimakasih Ustadz. Lewat pengajian Ustadz saya bertemu istri." laki laki itu tersenyum. "Istri ustadz cantik sekali." Pengantin wanita itu memuji Jihan. "Kenapa tidak pernah di ajak pengajian istrinya? Mentang mentang cantik di sembunyikan terus di rumah ya." Riza tersenyum menanggapi temannya. "Bukan. Sedang hamil muda. Takut nanti kelelahan." Jawab Riza. "Wah sedang hamil." Ucap si pengantin wanita begitu antusias. "Iya." Jihan mengelus perutnya. "Sedang menuruti istri di masa ngidam dong ustadz." Riza menggeleng. "Istriku tidak pernah minta apa apa." Jawabnya sambil merengkuh pinggang Jihan.
Pukul 8 malam mereka sudah sampai di rumah. Jihan langsung duduk bergabung bersama Mark yang sedang menonton TV. "Capek ya Dek?" Riza langsung memangku kaki istrinya dan memijit dengan lembut. "Nggak. Nggak usah di pijit." Ucap Jihan namun Riza tak mengindahkan. "Ke acara kondangan kok sebentar sekali." Mark heran karena hanya setengah Jam keduanya pergi. "Kakak ipar kamu tuh minta buru buru pulang." Jawab Jihan membuat Mark mengangguk. Ia sudah paham alasan iparnya itu. "Aku mau ganti baju ah. Gerah." Jihan mulai beranjak diikuti suaminya.
__ADS_1
"Begini sudah nyaman?" Tanya Riza memastikan saat istrinya berbaring di ranjang. Jihan mengangguk kemudian Pria itu ikut berbaring juga sambil mengusap perut istrinya lembut. Lantunan merdu sholawat keluar dari mulutnya dengan lirih sembari mengusap lembut perut sang istri. Beberapa menit berlalu Jihan sudah tenggelam dalam alam mimpi. Wanita itu tidur begitu nyenyak dan tenang dalam dekapan suaminya. Riza mengecup bibir dan kening Jihan dengan lembut kemudian ikut memejamkan mata setelah membaca doa.