Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Kenyataan Baru


__ADS_3

Riza baru saja masuk ke ruangannya setelah mengisi kelas. Pria itu duduk dengan nyaman sambil merapikan kertas yang berserakan di meja. "Kakak." Panggil seseorang berjalan masuk kemudian duduk di kursi depan meja kerjanya. "Ada apa Mark?" Tanyanya. "Gimana? Kak Jihan mau ketemu aku?" Tanyanya penuh harap. "Nggak tau juga Mark. Kemarin kemarin kakak tanya belum mau. Entah kalau sekarang. Kamu hubungi Papa dulu mending. Papa akan jadi penengah anak anaknya." Jawab Riza memberi saran.


"Oh iya, sebenarnya kamu hutang itu untuk apa?" Lanjutnya bertanya dengan hati hati. "Buat beli rumah kak. Aku nggak mau berpangku tangan apa apa sudah di sediakan. Aku pengen mandiri." Riza menghela napas mendengar jawaban Iparnya. "Bunganya 50 persen Mark. Itu sangat besar. Kamu apa nggak ngomong dulu sama istri kamu? Lagian hutang begitu juga riba. Saran kakak kamu kalau mau sesuatu itu jangan hutang. Seadanya aja pelan pelan. Lagian rumah itu kan sudah balik nama ke kamu. Kenapa kamu tolak sih, jelas kakak kamu kecewa." Ucap Riza membuat Mark membulatkan mata. "Balik nama? Kapan?" Tanyanya. Ia benar benar tak mengetahui hal ini. "Kamu inget nggak waktu lulus di suruh tandatangani tiga surat dan tandatangani dua surat saat istri kamu lahiran. Itu peralihan sertifikat rumah, mobil dan dua rumah di daerah kakak. Katanya dua rumah itu untuk Adam dan Musa kalau dewasa nanti jadi kamu nggak perlu khawatir untuk masalah hunian kedepannya jika mereka sudah dewasa dan berkeluarga." Jelas Riza membuat Iparnya meneteskan air mata. Sebegitu peduli Jihan dengannya tapi Mark mengabaikan wanita itu. Jihan sudah berkali kali mengajaknya bertemu namun selalu Ia tolak dengan berbagai alasan. Ia terlalu sibuk dengan kegiatan dan kehidupan barunya membuatnya lupa siapa yang menjadikan dirinya seperti ini. Berkat kerja keras, didikan dan kasih sayang Jihan Ia bisa berkarir bagus dan hidup serba berkecukupan. Entah bagaimana jika wanita itu tak ada. Pastinya Ia akan menjadi gelandangan dan hidup sebatangkara Istrinya padahal selalu mengingatkan untuk mengunjungi sang Kakak. Namun sayangnya Mark tidak pernah mendengarkan.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Riza memasuki rumah yang tampak sepi tidak seperti biasanya. "Ayah. Ibu mana?" Teriakan Juma terdengar. "Salamnya di jawab dulu kenapa sih." Tegurnya. "Waalaikumsalam.Ibu mana Yah?" Tanyanya lagi kini sambil menangis. "Mana Ayah tau. Ayah kan baru pulang. Kamu nggak tanya kakek?" Jawab Riza sambil berjalan pergi. "Kakek nggak tau. Juma di tinggal sendiri, waktu Juma bangun Ibu sudah nggak ada. Padahal tadi tidur sama Juma." Cerocosnya sambil mengikuti sang Ayah.


Riza duduk di ruang tengah setelah ganti baju. "Sudah jangan nangis." Kata Pria itu sambil meletakkan ponselnya karena menghubungi Jihan beberapa kali tidak diangkat. "Makannya jangan nakal. Ibu pergi gara gara kamu tuh." Jaffan tak tinggal diam langsung menakut nakuti adiknya.

__ADS_1


Riza menemani istrinya membeli makanan pinggir jalan. "Naik mobil aja Dek. Lumayan loh." Kata Pria itu. "Jalan kaki biar sehat Mas. Sekalian olahraga." Riza mengangguk setuju. Ia berjalan menggandeng tangan Istrinya dan tangan Jihan yang lain lagi di gandeng Juma. Anaknya itu memang tidak mau lepas dari sang Ibu. Kemanapun harus ikut.


"Juma. Duduk sendiri. Ibu susah mau makan." Tegur Jaffan melihat Ibunya makan sambil memangku bocah itu. "Nggak mau." Jawabnya sambil mengalungkan lengan di leher Jihan. "Mau jagung." Bocah itu menggigit jagung rebus yang di makan Ibunya. "Manis." Ucapnya sambil tersenyum. "Ibu. Ayo liburan. Cuman Ibu sama Juma saja. Yang lain kan masih belum libur." Ajak bocah tampan itu. "Mau kemana??" Tanya Jihan. "Kemana saja." Jawabnya. "Liburan kamu di pakai buat mondok lebih manfaat." Kata Riza terganggu dengan ucapan si bungsu yang ingin liburan berdua dengan sang istri. "Iya. Kamu mondok kita liburan." Timpal Jason. "Nggak. Ibu, Juma nggak mau mondok." Rengeknya. "Sudah jangan goda adik kalian." Tegur Jihan karena jika putranya itu merengek hanya dia yang bisa menenangkan. "Ya allah. Padahal kamu itu Ayah dan Ibu besarkan dengan perlakuan sama seperti kakak kakak kamu lo. Kenapa begini?" Riza menatap heran Juma yang masih duduk di pangkuan Ibunya sambil memeluk erat. "Karna Juma Spesial Yah." Jawabnya sambil tersenyum membuat mereka berdecak sementara Jihan tertawa melihat suaminya beristigfar pelan.

__ADS_1


__ADS_2