Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Ketiduran Saat Ujian


__ADS_3

Jihan sudah sibuk sedari subuh tadi. Para asisten rumah tangganya kemarin izin pulang karna anaknya menikah. Jihan tidak bisa datang hanya menitipkan kado dan doa saja. "Ibu." Jalwa datang untuk membantu Ibunya. "Mau bikin sarapan apa?" Lanjutnya bertanya. "Bubur ayam. Ayah minta sarapan bubur ayam tuh." Jawabnya. "Tolong ambilin daun bawang sama ayamnya di kulkas sayang." Ucap Wanita itu langsung dilaksanakan oleh putrinya.


"Tau nggak kenapa kamu mulai dari kecil sudah Ibu biasakan mengerjakan pekerjaan rumah?" Tanya Jihan sambil mengaduk kuah kaldu yang Ia buat. "Kenapa?" Jalwa balik bertanya. "Karena kamu adalah perempuan. Perempuan harus bisa masak dan mengerjakan pekerjaan rumah. Nantinya kamu akan jadi seorang istri. Rumah tangga itu bukan hanya butuh cinta. Semuanya akan berjalan baik jika suami istri mampu mengemban perannya masing masing." Tutur jihan. "Kalau kamu nanti berumah tangga harus bisa menjaga perasaan suami, saling menasihati dan mengingatkan. Selesaikan masalah dengan kepala dingin. Kalau memang sangat marah lebih baik diam. Jangan sampai kata kata tidak baik keluar dari mulut." Lanjutnya menasihati. "Iya Ibuku sayang. Lagipula Jalwa nikahnya kan masih lama. Belum ketemu jodoh juga." Jawabnya membuat Jihan tersenyum.

__ADS_1


"Juma belum mandi juga?" Jihan berkacak pinggang melihat kedatangan putra bungsunya yang masih acak acakan di gendong Jaffan dan diikuti putra kembarnya di belakang. "Belum Ibu. Nanti saja. Ini masih jam 6." Jawabnya setelah di dudukkan di kursi. "Ibu ogah ambil raport kamu kalau bandel begini." Ancam Jihan. "Ibu kok gitu..Ibu sudah janji. Kata Ayah kalau mengingkari janji dosa." Ucap Juma membuat Jason berdecak. Kalau sudah begini nasihat ayahnya yang seringkali di abaikan jadi keluar. "Anak kalau tidak menurut sama orang tua juga dosa." Jalwa menyindir membuat Juma cemberut. "Ini sudah siap Ma? Kita bawa ke meja makan ya." Kata Julian. "Iya. Hari hati. Bawanya pakai nampan. Masih panas itu. Ibu mau buatkan susu dulu." Jawabnya sambil ikut membantu menata.


Jihan menghampiri mereka yang sudah duduk di ruang makan. Wanita itu membawa nampan berisi susu hangat di bantu dengan Jalwa dan putra bungsunya. "Juma. Yang kamu bawa itu untuk Ayah dan Kakek." Ucapnya. "Iya." Jawab bocah tampan itu meletakkan susu di depan keduanya. "Terimakasih Boy." Ucap kakek mengusap kepala Juma. "Sama sama." Jawabnya sambil tersenyum. "Belum mandi juga? Pantesan suara Ibu mengomel sampai di ruang tengah." Kata Riza sambil terkekeh. "Masa sih?" Tanya Jihan sambil duduk. "Iya. Papa juga dengar." Sahut Pria paruh baya itu terkekeh.

__ADS_1


Jihan sudah sampai di sekolah. Wanita itu menggandeng tangan putranya untuk masuk ke ruang aula pertemuan. "Lihat teman kamu sama Ayahnya semua." Kata Jihan memperhatikan sekitar. "Ayah kan lagi rapat Bu." Juma tersenyum pada sang Ibu. "Semester lalu Ayah lagi nggak ada acara juga kamu nggak mau kalau yang ambil Ayah." Jawab Jihan sambil menghela napas.


"Assalamualaikum." Ucap Juma menghampiri Ayah, Kakek dan saudaranya yang sedang duduk bersama. "Waalaikumsalam. Ibu mana?" Tanya Riza melihat putranya hanya datang sendiri. "Masih di luar ngobrol sama pak Bon." Jawabnya sambil asik mengunyah kacang. "Kalau makan duduk." Tegur Riza langsung di turuti putranya. "Minta Dek." Jaffan tertarik pada bungkusan yang di bawa Juma. "Punya kakak masih di bawa Ibu." Jawab bocah itu. "Kasih dong kakaknya." Tegur Riza lagi. Juma mengangguk. "Cuman dua?" Keluh Jaffan. "Kakak udah di kasih masih protes." Kata Juma. "Sama kakaknya begitu. Jangan pelit." Tegur Jihan baru datang. Jaffan tersenyum mendapat pembelaan dari sang Ibu. "Maaf. Ini." Juma memberikan setengah miliknya pada sang Kakak. "Jaffan kalo sudah di kasih bilang apa?" Remaja itu tersenyum. "Makasih." Ucapnya mencubit hidung sang adik dengan gemas. "Ini untuk kalian." Jihan memberikan cemilan yang di belinya tadi untuk anak anak. "Makasih Ma." Kata Mereka.

__ADS_1


"Mark tadi kesini cari kamu." Kata Papa. "Aku nggak pengen ketemu dia dulu Pa. Daripada nanti emosi mending aku tenangkan diri dulu." Jawabnya sambil membuka raport Juma. Ia bersama Riza memperhatikan semua nilai anak bungsunya. Mendekati sempurna namun Jihan tersenyum melihat nilai tujuh yang ada disana. "Kamu tumben bahasa mandarin dapat tujuh. Sama Ibu lancar." Kata Jihan. "Juma ketiduran di menit menit terakhir Bu. Jadi nggak sempat menyelesaikan." Jawabnya. "Oh gitu. Dek, gimana kalau Juma kita pindahin ke pesantren aja? Disana kan lebih disiplin. Biar nggak tidur lagi waktu ujian." Riza menakut nakuti putranya membuat mereka menahan tawa melihat ekspresi bocah itu. "Kok Ayah begitu." Keluhnya. "Ide bagus Mas. Sekalian biar tidak nakal juga." Jawab Jihan. "Ibu..." Juma memeluk Ibunya. "Ibu mau mandi dulu. Gerah. Besok kita berangkat ya. Nanti biar Ayah yang antar." Jihan melepaskan pelukan putranya kemudian berlalu pergi. "Ibu, Juma nggak mau mondok. Juma nggak akan ketiduran lagi. Juma nggak nakal lagi." Ucapnya sambil mengikuti langkah sang Ibu membuat mereka tertawa.


__ADS_2