Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Menggoda Anak


__ADS_3

Riza menghampiri istrinya yang sedang sibuk memakai jilbab. Ia duduk kemudian memeluk Jihan setelah memberikan beberapa kali kecupan pada pipi mulus wanita cantik itu. "Ayo berangkat." Ajaknya setelah selesai. "Kamu terlalu cantik. Mas minder." Ucapnya tak mau berdiri. "Jangan mulai lagi deh Mas." Kata Jihan memutar bola matanya malas.


Riza merangkul pinggang istrinya menghampiri anak anak yang sedang bermain game. "Ayo berangkat." Kata Juma melepaskan tangan Ayahnya dari sang Ibu kemudian menggenggam erat tangan wanita itu. "Casper nggak boleh ikut." Kata Julian sambil tertawa. "Kakak Drakula." Jawabnya dengan kesal membuat mereka tertawa. "Memangnya Ayah ajak kamu." Riza bersedekap dada menatap putranya. "Enggak. Tapi Ibu kan yang ajak Juma." Jihan mengernyitkan keningnya heran. "Kamu yang minta bukan Ibu yang ajak." Ucap Jihan. "Sama saja." Bocah tampan itu tak mau kalah. "Sudah. Ibu sama Ayah berangkat dulu ya. Kalian mau dibawakan apa?" Jihan menawari. "Duren sama rambutan Bu. Lagi musim." Jawab Jalwa. "Yang lain?" Tanyanya lagi. "Kacang kaya waktu itu Ma." Jihan mengangguk. "Yasudah Kita berangkat dulu. Assalamualaikum." Ucapnya. "Waalaikumsalam. Hati hati. Casper jangan nakal." Teriak Jaffan.

__ADS_1


Jihan dan suami sudah sampai di tempat acara pernikahan tetangga lama mereka. "Ustadz, mbak Jihan. Lama banget tidak ketemu. Terimakasih sudah datang." Ucap Si pemilik acara. "Sama sama Bu." Jawab Jihan sambil tersenyum kemudian menyalami mereka dan menyuruh Juma juga. "Lihat Juma sudah besar sekarang. Tampannya." Kata Ibu ibu itu sambil mencubit gemas pipi Juma.


"Kenapa cemberut begitu?" Tanya Jihan duduk memangku putranya. "Juma kesal di sentuh orang lain." Jawabnya. "Sudah jangan bermuka masam begitu. Nggak enak." Tegur Jihan sambil mengusap pipi putranya. Riza hanya tersenyum melihat betapa sabarnya sang istri menghadapi si bungsu.

__ADS_1


Riza berhenti saat seseorang memanggilnya. "Apa kabar?" Tanya Pria itu sambil menepuk bahu Riza. "Baik Alhamdulillah." Jawabnya pada teman semasa SMA yang kebetulan juga merantau di sini. Hubungan mereka dari dulu memang tidak bisa dibilang baik. Rio menganggap Riza sebagai saingannya. Padahal Riza tidak bermaksud demikian. "Istrimu masih muda dan cantik. Kaya raya pula. Beruntung kamu, tidak bekerja pun sudah jadi milyader." Ucapnya dengan nada menghina. "Enak ya hidup dari duit istri. Oh iya cuman kasih tau aja kamu harus hati hati, istri kamu kan masih muda. Awas nanti kamu yang udah tua ini di tinggalin...."


Riza mengejar langkah istrinya memasuki kamar. "Dek." Pria itu langsung memeluk Jihan dengan erat. "Maaf." Ucapnya. "Bisa nggak sih Mas kamu lebih tegas sedikit. Jangan apa apa diam saja." Kata Jihan sambil menahan kekesalannya. "Aku cuman nggak mau ada keributan." Jawab Pria itu. "Iya bener. Tapi kalau kamu nggak jelasin cuman diam saja orang akan injak injak kamu. Kebenaran juga nggak akan pernah ada yang tau." Riza tampak menghela napas. Ia sedikit keberatan dengan perkataan istrinya. "Dan kebenarannya adalah kamu memang kaya dan aku sebagai suami tidak bisa memberi lebih Dek." Jihan membalikkan badan menatap pria itu. "Sudah aku bilang Mas. Semua itu tidak benar. Kamu yang beri nafkah keluarga kita. Itu poin pentingnya. Kamu ngerti nggak sih Mas. Kamu paham nggak sih." Riza memeluk istrinya lagi kali ini Ia semakin erat. "Maaf." Kata Pria itu.

__ADS_1


"Kenapa Casper nangis?" Tanya Jihan salah bicara kemudian segera menutup mulutnya membuat mereka tertawa. "Ibu nakal." Ucap Juma memeluk wanita itu. "Kenapa nangis?" Tanya Riza. "Kakak nggak ngebolehin Juma ketemu Ibu." Jawabnya. "Ibu sama Ayah kan masih bicara Jum." Kata Jalwa. "Sudah besar jangan nangis." Jihan menggendong putranya ikut duduk bergabung bersama mereka. "Mau eskrim Mas." Jihan tersenyum menatap suaminya. "Mas ambilin." Jawab Pria itu. "Yang paling besar Yah." Teriak Juma.


Jihan makan eskrim bersama anak anak. Wanita itu tampak lahap melebihi semuanya. "Jalwa. Pipi kamu merah merah begitu kenapa?" Tanya Jihan. "Jatuh cinta kali Ma." Jawab Jason meledek. "Enggak. Jangan dengerin kak Jason. Nggak tau Bu, ganti sabun wajah jadi begini." Ucapnya. "Besok ke dokter kulit Ibu antar." Gadis itu mengangguk. "Kamu kok suka banget. Bikin gigi ngilu." Kata Riza setelah menerima suapan eskrim dari istrinya. "Ke dokter gigi apa? Gigi kamu sensitif Mas." Ucap Wanita itu. "Nggak usah Dek." Jawab Riza mengecup pipi istrinya. "Ih Ayah." Keluh Juma tidak terima. "Kenapa? Ayah suami Ibu." Kata Riza. "Juma anak Ibu. Anak paling kecil. Pasti paling di sayang." Jawabnya tak mau kalah. "Oh gitu. Kalo nggak ada Ayah juga nggak ada kamu. Ayah buatkan adik lagi biar kamu nggak di sayang Ibu." Ancamnya. "Nggak mau. Juma nggak mau adik." Bocah itu mulai merengek kesal. "Mas. Apaan sih. Suka banget godain anaknya." Tegur Jihan. "Maaf Dek." Jawabnya tak melewatkan kesempatan mengecup pipi istrinya lagi.

__ADS_1


__ADS_2