
Jihan dan keluarga baru pulang dari ziarah. "Jangan ada yang tidur. Langsung mandi. Sudah masuk waktu jumatan." Ucap wanita itu untuk mendisiplinkan anak anaknya "Iya Bu." Jawab mereka kompak. "Ibu. Sarung Juma mana?" Tanyanya. "Ada di kamar. Ayah lagi ambil sarung. Minta sekalian." Jawabnya. Bocah itu mengangguk kemudian segera menuju kamar.
"Ibu pasti capek ya urus banyak hal." Jalwa memijit lengan Ibunya. Ia paham betapa lelahnya menjadi sang Ibu. Dari subuh sudah menyiapkan apa apa. Meskipun ada Bibi tapi anak anak dan suaminya yang rewel membuatnya harus turun tangan untuk membuat makanan sendiri. "Lumayan. Tapi Ibu senang." Jawab Jihan sambil tersenyum.
Riza diikuti keempat pangeran tampannya menghampiri Jihan yang sedang duduk bersama Jalwa. "Sarung anaknya itu di benerin dong Mas." Tegur wanita itu melihat sarung Juma sedikit melorot. "Iya. Tadi sudah lo. Banyak gerak sih." Jawab Riza segera membenarkan sarung putranya.
__ADS_1
"Riza." Panggil seseorang. "Eh pak Kamin." Jawab Riza mencium tangan pria paruh baya itu. "Makasih oleh olehnya. Kemarin kamu ke rumah bapak yang ada cuma istri bapak. Bapak lagi ke sawah." Riza mengangguk sambil tersenyum. "Anak kamu tiga ya Za mirip istri kamu semua. Yang dua itu siapa?" Tanya Pak Kamin lalu Riza menjelaskan di sepanjang perjalanan pulang.
Riza menghampiri istrinya. "Kamu belum mandi juga Dek?" Tanyanya karna Jihan masih mengenakan pakaian yang sama. Jihan menggeleng pelan sambil tersenyum. "Kenapa belum mandi?" Ia gemas mencubit hidung mancung sang istri. "Sabun aku habis Mas. Kemarin aku salah bawa. Yang aku bawa yang masih sedikit." Pria itu mengehela napas mendengar jawaban sang istri. Bukan perkara mudah mendapat sabun mandi Jihan. Kulitnya yang sensitif harus menggunakan sabun khusus. "Disini nggak ada yang jual sabun kamu Dek." Jihan tampak bingung juga. Masa dia tidak mandi. "Mandi pakai air saja tidak usah pakai sabun Bu." Kata Juma baru kembali dari berganti baju langsung di tentang oleh Ibunya. "Coba sabun bayi gimana?" Tanya Riza memberi solusi. "Coba deh. Semoga cocok." Pria itu mengangguk kemudian segera pergi tanpa berganti baju.
Riza memasuki minimarket milik tetangganya. "Eh Riza. Cari apa?" Tanya wanita paruh baya itu. "Cari sabun bayi. Ada nggak Budhe?" Riza memperhatikan rak rak yang berjejeran. "Ada ayo tak carikan." Jawabnya sambil berjalan menuju rak paling ujung.
__ADS_1
Riza mengehela napas melihat anak dan istrinya sudah tertidur pulas di atas kasur lantai saling berpelukan. Ia melepas peci, sarung dan baju kokonya kemudian ikut bergabung. Pria itu ikut berbaring memeluk tubuh ramping Jihan dengan hangat setelah mengecup pelipis dan pucuk kepala sang istri.
"Gimana Dek, gatal tidak?" Tanya Riza melihat istrinya masuk ke kamar dengan pakaian daster ala ibu ibu rumahan. "Baru di pakai Mas. Sejauh ini tidak." Jawab Jihan sambil mengikat rambutnya asal membuat leher jengjangya yang putih mulus terekpose. "Baunya wangi." Ucap Riza memeluk Istrinya. Ia mencium bibir wanita itu dengan lembut. "Mas. Aku mau rujak." Kata Jihan tersenyum menatap suaminya. "Mas bikinkan." Jawab Riza menuruti keinginan sang istri.
Jihan hanya mendengarkan putra bungsunya berceloteh sembari menunggu sang suami yang sedang membuatkan rujak. "Oh ya? Sebesar apa?" Tanya Riza ikut duduk bergabung. "Besar Yah. Ada lima kali besar sapi." Jawab Juma. "Jangan pakai sambal ya, nanti kepedesan kamu." Jihan hendak menyuapi putranya. "Nggak pedes kok Dek. Cabenya satu kecil." Kata Riza. Wanita itu mengangguk mencelupkan buah ke dalam sambal sedikit kemudian menyuapkan pada putranya. "Rasanya seperti nanas." Juma terkikik. "Itu memang nanas sayang." Jihan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Sore hari Jihan dan anak anaknya jalan duluan ke sawah sementara suaminya masih mengobrol dengan seseorang yang di temui di jalan. "Astagfirullahaladzim." Ucap Riza bukan untuk Juma atau anak yang lainnya namun untuk Jihan yang sudah berada di tengah tengah sawah entah apa yang dilakukannya. "Kamu apa apaan sih Dek. Nggak punya telinga ya. Tadi Mas suruh jangan macam macam." Ia benar benar tak habis pikir ketika Istrinya sudah kekanakan seperti ini. "Ambil keong. Bantu pak tani kan..." Jawab Jihan santai membuat anak anaknya tertawa. "Ayo pulang." Tegas Riza. "Masa baru sampai disuruh pulang." Protes Jihan. "Pulang sekarang." Ucapnya tak terbantahkan lagi. "Pulang habis cuci kaki dulu." Jihan tetap menawar. "Cuci kaki di rumah." Jawabnya cepat.
Malam hari Riza mengoleskan krim dengan lembut pada tangan dan kaki Jihan yang penuh goresan daun padi sambil tak berhenti mengomel sedaritadi. "Bandelnya kamu melebihi Juma. Sudah di bilang jangan turun ke sawah masih ngeyel juga. Gatal begini kan jadinya. Telinganya dimana sih?" Ucap Riza membuat anak anaknya menahan tawa. "Sakit ya Bu?" Tanya Juma mengalikan perhatian agar Ayahnya berhenti memarahi sang Ibu. "Gatal." Jawab Jihan. "Sini Juma peluk biar hilang gatalnya." Wanita itu tersenyum saat menerima pelukan dari putranya. "Lain kali jangan begini lagi. Kulit kamu sensitif. Bikin khawatir aja." Riza menghela napas lalu mengecup kening dan pipi istrinya penuh sayang.