Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Kejutan


__ADS_3

Jihan merasa heran karena suasana begitu sepi tidak seperti biasanya. "Pada kemana sih Pa?" Tanya Wanita itu ikut duduk bergabung bersama Pria paruh baya yang sedang membaca buku. "Nggak tau. Ke perkebunan paling." Jawabnya menutup benda tebal itu dan meletakkan di atas meja. "Yaudah Jihan masak buat makan siang kalau gitu." Hendak berdiri Papa langsung mencekal tangan putrinya. "Nggak usah masak dulu. Temani Papa jalan jalan." Ajaknya.

__ADS_1


Papa berjalan di gandeng putrinya menyusuri jalan setapak menikmati kesejukan udara di puncak saat hari menjelang siang. "Kita duduk dulu Pa." Ajak Jihan khawatir Papanya kecapean. Papa mengangguk kemudian ikut duduk bersama putrinya di bangku panjang dekat pohon cemara. "Di perkebunan juga nggak ada Pa." Kata Jihan tak menjumpai suami dan anak anaknya. "Gantian mereka yang ngilang. Kemarin kamu." Jawab Papa sambil terkekeh. "Biarin. Nanti juga pulang." Lanjutnya agar Jihan tak khawatir. "Masa mereka nggak pamit Pa?" Papa menggeleng pelan. "Tadi keluarnya bareng bareng Papa juga nggak tau kemana." Jihan menghela napas. Juma yang sedetik pun tak mau pisah dengannya pun ikut ikutan. "Gimana rasanya jadi seorang Istri dan Ibu dari banyak anak?" Tanya Papa."Rasanya luar biasa campur aduk. Kadang pusing sendiri, seneng dan kadang kadang juga gemas dengan tingkah anak anak dan bapaknya yang manjanya kelewatan. Mereka sama sama nggak mau ngalah." Jawab Jihan. "Papa nggak nyangka putri kecil Papa yang nakal akan jadi Ibu sebaik ini." Ucapnya. "Jihan sendiri juga nggak nyangka Pa. Semuanya berjalan begitu saja."

__ADS_1


Suasana rumah menjadi gelap padahal waktu di tinggal tadi semua gorden di buka agar cahaya matahari bisa masuk. "Kenapa gelap begini. Papa tunggu sini aku buka gordennya dulu. Jangan jalan sendiri nanti jatuh." Ucap Wanita itu memberi peringatan. Belum sempat menyentuh tali gorden wanita itu terkejut dengan pelukan dari beberapa orang. "Ada apa ini?" Tanya Jihan. "Selamat hari Ibu." Jawab mereka kompak. "Terimakasih sudah menjadi Ibu yang baik. Yang selalu sabar dan menyayangi kami. Terimakasih untuk selalu ada di saat kami membutuhkan. Terimakasih untuk kasih sayang dan cinta yang begitu besar." Ucap Jaffan mewakili saudara saudaranya. "Hari ini hari apa?" Tanya Jihan merusak suasana haru yang tercipta. "Astaga Dek. Hari ini hari Ibu " Jawab Riza gemas dengan istrinya. "Masa sih." Gumam Jihan sedikit bingung. "Selain itu karena ini bertepatan dengan hari pernikahan kita, Mas juga mengucapkan terimakasih telah menjadi istri yang begitu luar biasa. Terimakasih untuk 18 tahun bersama. Tidak papa kamu tidak ingat. Yang penting cinta kamu selalu ada untuk Mas dan kita semua. Mas sayang dan cinta kamu meskipun kamu cuek dan Mas sudah terbiasa dengan itu." Ucap Riza mengungkap rasa sayangnya sekaligus menyindir.

__ADS_1


Selesai makan siang semuanya berkumpul menikmati kue yang agak gosong. "Itu gegara Ayah Bu. Tadi sudah di bilang waktunya angkat Ayah tidak mau dengar." Jalwa mengadu. "Bukannya ga mau dengar. Ayah masih sibuk potong buah. Tanggung." Jawab Riza melakukan pembelaan. "Enak kok. Hanya terlalu manis saja." Jawab Jihan. "Ibu, Kami punya hadiah untuk Ibu." Jaffan mengeluarkan kotak dari bawah meja lalu memberikan pada Ibunya. "Itu hasil dari kami patungan Ma." Kata Julian. Jihan tersenyum. Wanita itu membuka kotak hitam dengan pita emas yang begitu elegan. "Terimakasih." Ia begitu terharu melihat gelang cantik dan sebotol parfum di dalamnya. Jihan kemudian memberikan pelukan dan ciuman pada mereka. "Kalau ini dari aku Dek." Kata Riza tak mau ketinggalan. "Makasih Mas." Ia memeluk suaminya sebentar lalu membuka kado itu. "Banyak banget. Pantesan berat." Jihan terkejut melihat 10 pieces daster dan lima gamis di dalam kotak. "Itu Mas pesan dari butik jauh jauh hari. Kamu suka?" Tanyanya. "Suka. Tapi ini kebanyakan." Jawab Jihan. "Nggak papa." Riza mengecup kening istrinya dengan lembut dan di balas Jihan ciuman di pipi. "Kalau ini dari Papa." Ucap Pria paruh baya itu. "Papa juga kasih?" Papa mengangguk dan membuka kotaknya untuk Jihan. "Papa." Ia terkejut ternyata kotak dari Papanya berisi sertifikat. "Kamu kenapa sih kalau nggak ngagetin Papa." Kesalnya. "Maaf. Jihan juga kaget." Jawab wanita itu. "Semua harta Papa untuk kamu." Jihan menggelengkan kepalanya tanda tak setuju. "Papa punya anak cucu." Jawabnya. "Iya. Memang benar. Tapi yang selalu ada dan rawat Papa adalah kamu. Dia sudah terang terangan tak ingin melihat Papa lagi, Dia sudah dibutakan jabatan dan kesuksesan jadi untuk apa Papa memikirkannya. Sebagai orang tua Papa sudah memaafkan, namun kita memang tidak bisa di satukan lagi. Jadi Papa mohon terima." Jihan tetap menggeleng. "Jihan nggak bisa Pa." Lirihnya. "Oh begitu? Kalau jawaban kamu demikian Papa minggat saja." Ancamnya lalu berdiri. "Baik." Tegas Jihan saat Papanya jalan beberapa langkah. "Terimakasih." Ucapnya memeluk pria paruh baya itu. "Papa yang lebih berterimakasih karena sudah di berikan kehidupan yang indah oleh kehadiran kamu." Ucap Papa membalas pelukan Jihan dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2