
Riza berjalan cepat memasuki rumah. Pria itu baru pulang dari mengisi pengajian. Suasana tampak sepi karena ini sudah jam 12 malam. Mungkin semuanya sudah terlelap.
Pintu kamar terbuka. Riza masuk dengan pelan. Ia mendapati istrinya sudah tertidur pulas dengan mata yang sembab membuatnya merasa bersalah. Pria itu duduk di samping Jihan sambil membelai lembut wajah wanita itu. Ia mencium kening istrinya lalu bergegas pergi untuk mengganti baju.
Pukul 3 malam. Jihan terbangun merasakan hawa panas pada tubuhnya. Wanita itu menyingkirkan lengan Suaminya kemudian memiringkan tubuh menghadap Riza. Jihan mengelus lembut pipi Pria itu. Ia meneteskan air mata kemudian dengan cepat mengusapnya. Sebelum pergi Jihan memberikan kecupan lembut pada kening sang suami.
__ADS_1
Jihan kembali lagi. Ia menempelkan plester demam pada kening sang Suami. "Um..." Pria itu menggeliat. "Dek." Panggilannya. "Tidurlah lagi. Sebelum itu minum obatnya dulu agar panasnya cepat turun." Jihan mengambil segelas air dan obat lalu memberikan pada suaminya. "Terimakasih." Kata Riza.
Pagi hari semuanya sudah berkumpul untuk sarapan. "Riza mana?" Tanya Papa. "Badannya panas. Masih tidur Pa. Nanti dia tidak masuk." Jawab Jihan sambil menyiapkan makan kemudian meletakkannya di atas nampan. "Aku antar sarapan dulu." Pamit Wanita itu segera pergi.
"Kenapa harus bawa sampai kesini. Mas bisa turun sendiri untuk sarapan." Ucap Riza bergegas menghampiri istrinya yang sedang membawa nampan. "Tidak apa. Makanlah." Riza meletakkan nampan di atas meja. Pria itu memeluk istrinya yang hendak pergi lagi. "Suapi." Jihan mengangguk kemudian segera duduk diikuti suaminya. Jihan mulai menyuapi Riza. Keduanya sama sama diam tak ada yang angkat bicara. "Kamu sudah sarapan?" Tanya Riza di jawab gelengan. "Sarapan dulu kalau begitu. Kita makan berdua." Ucapnya. "Aku makan nanti." Jawab Jihan singkat meneruskan suapannya.
__ADS_1
"Jangan lari lari nanti jatuh." Tutur Jihan melihat anak anak sedang kejar kejaran. "Papa mau ke perkebunan dulu." Pamitnya. "Kamu sudah baikan Za?" Tanya Pria itu melihat menantunya mengikuti sang istri. Ia dapat memastikan hubungan mereka sudah membaik. "Alhamdulillah sudah Pa." Jawab Riza sambil tersenyum menyingkirkan wajah sendunya hari hari belakangan ini. "Hm. Syukurlah. Papa berangkat." Ucapnya. Jihan dan Riza mengantarkan sampai ke depan. "Mita pak Budi antar Pa." Kata Wanita itu sembari menuruni tangga. "Papa masih bisa menyetir jauh. Hanya ke perkebunan saja bukan masalah. Kamu mau dibawakan apa?" Tanyanya. "Terserah Papa. Apa apa juga boleh. Nanti siang sudah harus pulang ya." Tuturnya langsung di jawab anggukan. "Papa berangkat." Pria paruh baya itu menaiki mobilnya setelah mengecup kening Jihan dengan lembut. Riza menggandeng tangan istrinya untuk diajak masuk kembali setelah mertuanya berangkat.
"Ibu." Jalwa tertawa sambil berlari memeluk ibunya. "Kenapa hm?" Tanya Jihan. "Mau eskrim." Jawabnya sambil mendongak menatap wajah cantik sang Ibu. "Iya. Ibu ambilkan." Jawabnya. "Biar Mas saja. Kamu duduk dek." Jihan hanya mengangguk kemudian segera duduk di sofa bersama anak anak.
Riza kembali menghampiri mereka. Pria itu membawa satu kotak eskrim berukuran besar dengan tiga sendok. "Ini." Ucapnya ikut duduk bergabung. "Kamu tidur saja Mas. Biar aku yang temani anak anak." Pria itu menggeleng kemudian tersenyum. Maaf dari sang istri membuat badannya sembuh seketika. "Mas disini temani kamu dan anak anak." Jawabnya. "Aku bisa makan sendiri." Kata Jihan ketika Riza. "Mas suapi." Kata Riza dan istrinya hanya bisa menurut saja. Hati Pria itu menghangat. Semuanya terasa lega karena kebahagiannya telah kembali. Dalam hati Ia berjanji tak akan menyakiti hati istrinya lagi.
__ADS_1
Sore hari semuanya berkumpul di taman belakang. Mereka makan buah yang di bawa Papa dari kebun. Mark menghela napas. Jika sudah menempel begini Ia tau Riza dan Kakaknya sudah berbaikan. "Mas kupaskan." Ucap Pria itu begitu perhatian. Ia mengambil buah kelengkeng lalu mengupaskan dan menyuapkannya pada sang istri. "Kak Riza beneran sakit atau bohong nih?" Tanya Mark. "Beneran sakit Mark. Tanya saja sama istriku." Jihan mengangkat kedua bahunya tak ingin membantu sang suami. "Aku beneran sakit Dek." Ucap Pria itu mengecup pipi istrinya. "Jangan cium cium." Kesal Jihan mendorong Riza agar menjauh. "Sukurin." Kata Mark meledek.