Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Perjanjian


__ADS_3

Dua hari berlalu, Jihan siuman sejak pagi tadi. Semuanya sudah datang untuk menjenguk dan pulang. Kini hanya menyisakan anak anak, suami dan juga Papanya saja yang masih berada di dalam ruangan luas dengan fasilitas lengkap. Wanita itu tampak menghela napas prihatin dengan kondisinya sendiri. Kaki dan tangannya patah sudah pasti Ia tak bisa berkegiatan dengan leluasa. "Yang sakit siapa yang tidur siapa." Gerutu Riza melihat putra bungsunya tertidur begitu pulas sambil memeluk Ibunya. "Maklum Yah. Dua hari tidurnya nggak bisa nyenyak." Jawab Jalwa. "Siapa yang bawa bunga sebanyak itu?" Tanya Jihan memperhatikan sudut ruangannya dipenuhi bunga. "Banyak Bu, dari rekan kerja Ibu dan entah siapa orang orang yang jenguk Ibu saking banyaknya sampai lupa." Jawab Jaffan.

__ADS_1


Papa menarik napas dan menghembuskan perlahan. "Papa akan pindahkan Lucifer. Nggak ada pelihara kuda lagi." Kata Pria itu membuat Jihan seketika membulatkan mata. "Pa. Nggak bisa gitu dong." Protes Jihan pelan takut Juma akan terbangun. "Nggak. Keputusan Papa sudah bulat. Dia membahayakan kamu." Jawabnya. "Bukan salah Lucifer Pa. Jihan tetap pelihara tapi Jihan janji nggak akan naik kuda lagi." Ucap wanita itu agar bisa mempertahankan kuda kesayangannya. Papa mengangguk setuju dengan apa yang di tawarkan putrinya. "Kamu sudah janji Dek." Ucap Riza sembari mengusap pipi istrinya. "Iya." Jawab Jihan sedikit berat.

__ADS_1


Waktunya makan siang. Jihan disuapi oleh suaminya makanan yang di bawa anak anak dari rumah karena wanita itu menolak makanan di rumah sakit. "Siapa yang masak?" Tanya Jihan. "Kami semua Bu." Jawab mereka kompak. "Tidak enak ya Ma?" Tanya Julian. "Enak kok." Jawabnya sambil tersenyum. "Ibu kapan pulang?" Juma masih berbaring sambil memeluk Ibunya. Bocah tampan itu enggan beranjak. "Sore nanti." Jawab Jihan membuat mereka membulatkan mata. "Ibu, kata siapa boleh pulang sore nanti?" Tanya Jaffan. "Tanyakan ke dokter. Kalau nggak boleh bilang sama dokter Ibu yang mau." Jawab Jihan. "Ibu bosen disini." Lanjutnya. "Jangan aneh aneh kamu." Kata Papa datang sambil memberikan secarik kertas pada putrinya. "Ini apa Pa? Jihan malas baca." Tanyanya. "Itu surat perjanjian kalau kamu nggak akan naik kuda lagi. Kalau sampai kamu melanggar Papa akan lepaskan Lucifer dan yang lainnya." Jelas Papa. Jihan dengan berat hati menandatangani surat perjanjian itu dengan berat hati.

__ADS_1


"Minum dulu Bu." Dika memberikan minum untuk Ibunya. "Terimakasih." Ucap Jihan segera meminum air putih yang dibawakan putranya. "Ma. Mama kok bisa jatuh." Jason ingin tau detai kejadiannya. Ia tau Mamanya itu sangat lihai menunggangi kuda jadi tidak mungkin terjatuh karena kecerobohannya. "Seingat Mama waktu itu Lucifer lari kencang. Tiba tiba dia terkejut karena ada burung yang memotong jalan tepat di depan. Dia refleks mengangkat kedua kakinya hingga Mama jatuh dan setelah itu Mama nggak ingat lagi." Jawab Jihan menjelaskan apa yang Ia ingat. "Mama jangan terluka lagi." Remaja itu mengecup pipi Mamanya. "Jangan cium cium." Kesal Juma mengusap pipi sang Ibu lalu menciumnya untuk menghilangkan jejak. "Galaknya casper." Ledek Julian sambil tertawa. "Dasar Drakula." Kesalnya memeluk Jihan posesif.

__ADS_1


Jihan sudah berada di kamar untuk istirahat. "Begini kan enak." Kata Riza memeluk istrinya setelah berhasil memindahkan Juma ke kamar bocah itu. "Kurang nyaman ya?" Tanya Riza memastikan posisi sang istri. "Sudah." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Bisa nggak sih Dek kamu berhenti bikin Mas khawatir. Bisa nggak sih kamu itu berhenti terluka. Hati Mas sakit melihat kamu seperti ini untuk kesekian kalinya. Mas nggak mau lagi kejadian yang sama terulang lagi. Mas nggak mau melihat kamu sedih, terluka dan sakit lagi. Sudah cukup ini jadi yang terakhir. Mas harap kedepannya kamu akan selalu baik baik saja. Mas sayang kamu....." Riza menatap wajah istrinya setelah panjang lebar berbicara ternyata wanita itu sudah tertidur pulas. Ia tersnyum. Mungkin karena pengaruh obat yang diminum jihan tadi membuatnya cepat sekali tertidur. "Selamat istirahat istriku tercinta." Gumam Riza mengecup kening dan bibir istrinya kemudian ikut memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2