
Jihan masih belum beranjak dari duduknya. Sudah dua jam lebih Ia mengerjakan sesuatu di ruang kerja dan sengaja mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggu dan pekerjaannya cepat selesai. "Ya." Ucap Wanita itu saat mengangkat panggilan masuk setelah beberapa kali menolak. "Kita jadi ketemu kan?" Tanya seseorang dari sebrang sana begitu antusias. "Ya. Masih beberapa jam lagi. Kau ini heboh sekali." Jawab Jihan sambil berdecak. "Jangan sampai tidak datang ya..." Wanita itu mengangguk kemudian mengakhiri panggilan secara sepihak sebelum lawannya selesai bicara.
Jihan baru keluar langsung mendapat pelukan hangat dari suami dan anak bungsunya. "Ibu kenapa pintunya dikunci?" Tanya Juma. "Biar Ibu cepat selesai mengerjakan pekerjaannya." Jawab Jihan mengusap kepala bocah tampan itu dengan lembut. "Mas. Aku kan ada janji dengan teman jadi nggak bisa ke ceramah kamu. Kamu perginya sama anak anak saja. Aku boleh pergi sama teman ya." Ia meminta izin pada suaminya. "Kemana?" Tanya Riza. "Ke cafe." Jawab Jihan. "Jam berapa? Sama siapa saja?" Tanyanya ngin tau secara detail. "Dua jam lagi sama Dewi dan Mia." Riza mengangguk. "Kok pas banget sama Mas mengisi acara ceramah. Sengaja ya?" Kata Riza membuat istrinya berdecak. "Ya enggak lah. Ini sudah rencana jauh jauh hari mana tau kalau pas dengan jadwal ceramah kamu. Lagian kan kamu bilangnya barusan." Ucap Jihan. "Juma ikut Ibu." Kata Juma membuat Ibunya berjongkok menyetarakan tinggi dengan bocah itu. "Juma. Semua kan ikut Ayah. Juma ikut Ayah juga ya sama kakak kakak yang lain juga ya." Bujuk Jihan namun putranya itu menggeleng. "Juma mau ikut Ibu." Rengeknya. "Nanti Juma dapat banyak ilmu. Nanti cerita sama Ibu Ayah sampaikan apa saja waktu ceramah. Atau Juma mau sesuatu nanti Ibu belikan." Bocah tampan itu mengangguk kemudian berbisik pada Ibunya.
__ADS_1
Riza memeluk istrinya yang baru selesai berganti baju. Wanita itu selalu cantik dengan pakaian apa saja. Seperti sekarang Jihan hanya menggunakan dress potongan lurus dengan kardigan dan sneakers sudah membuatnya begitu cantik. "Aku berangkat dulu ya." Ia mengecup pipi suaminya. "Hati hati. Jangan lama lama." Jawab Riza memberikan ciuman pada wanita itu sebelum pergi.
"Lama banget Ji." Ucap Mia melihat sahabatnya baru masuk ke ruangan. "Memangnya bujuk Juma biar mau ikut bapaknya ceramah nggak makan banyak waktu?" Jawab Jihan sambil menghela napas. "Gimana kamu bujuknya?" Mia dengan usil menanyakan. "Aku cuman tanya dia mau apa aku belikan. Eh dia cuman mau tidur sama aku. Sudah dua hari ini nggak tidur sama aku. Suami selalu kunci pintu kalau malam." Mia tersenyum mendapat jawaban sahabatnya. "Punya anak banyak gimana rasanya?" Kini Dewi yang bertanya. "Pusing kadang. Pada manja semua. Yang besar juga kadang nggak mau ngalah, bapaknya juga ikut ikutan. Kalau boleh Aku minta libur dua hari aja buat sendiri." Jihan meneguk minumannya. "Ya libur kalo gitu." Kata Dewi sambil memijit lengan sahabatnya. "Mana bisa di tinggal sih. Orang makan saja kalau yang masak bukan aku mereka protes. Kalian tau sendiri lah." Jawab Jihan. "Kamu juga aneh aneh sih anak mantan pakai di tampung segala. Apa kamu nggak ingat rasa sakit yang mantan dan sahabat kamu perbuat dulu ketika lihat wajah mereka setiap hari?" Tanya Mia. Jihan menggeleng pelan. "Sudah jadi wasiat. Yang lalu biarlah berlalu." Jawabnya.
__ADS_1
"Sudah besar masih minta digendong." Ucap Papa melihat putrinya menggendong Juma. "Sambil olahraga." Jawab Jihan mendudukkan putranya di sofa. "Ibu mau minum apa?" Tawar Dika. "Minta Bibi bikin es blewah aja. Ibu haus banget." Jawab Jihan sambil tersenyum. Dika. mengangguk kemudian segera pergi ke dapur.
Beberapa saat kemudian Dika kembali sambil membawa es pesanan Ibunya di bantu dengan Bibi karena membawa banyak. "Terimakasih." Ucap Jihan langsung meminumnya hingga tersisa setengah. "Pelan pelan Dek. Siapa sih yang mau minta." Ucap Riza mengusap bibir Istrinya dengan lembut. Jihan duduk di bawah kemudian mulai membuka kado dibantu anak anaknya. "Dari siapa?" Tanya Papa. "Nggak tau juga kek. Dari Ibu Ibu yang dengerin ceramahnya Ayah tadi." Jawab Jalwa. "Pantesan Ayah kalian raut wajahnya biasa saja." Sindir Papa. "Tapi ada kok yang dari beberapa jamaah laki laki juga." Kata Jaffan membuat Riza bereaksi. "Yang mana?" Tanya Pria itu ikut duduk di bawah. "Mana tau Yah. Lupa. Kita nggak pisahin." Jawab Jason. "Ini ada dari Bayu." Ucap Julian membaca tulisan di kemasan kado. "Dasar duda genit." Kesal Riza meminta paksa kado yang di bawa putranya. "Kasih bunga lagi. Sok romantis. Nggak tau malu godain istri orang." Ia terus menggerutu kesal. "Ayah kenal?" Tanya Jaffan. "Kenal. Dia guru SMA depan kampus." Jawab Riza.
__ADS_1