
Riza sudah berada di ruangan Jihan menunggu gadis itu selesai dengan pekerjaannya. Beberapa hari ini Ia selalu berangkat dan pulang bersama Sang Istri. Bukan bermaksud berbohong karena mobil yang sebenarnya baik baik saja. Namun Riza hanya ingin semakin dekat dengan Istrinya.
Pintu ruangan terbuka membuat Riza menegapkan tubuhnya. Ia tersenyum lembut menyambut kedatangan Sang Istri. "Baru selesai ya?" Tanya Laki laki itu berdiri mendekat kemudian mengecup kening Jihan pelan. "Hm...Ayo pulang." Ajaknya bergegas keluar setelah mengambil jaket yang tergantung di kursi.
Di Rumah Jihan.
__ADS_1
Riza yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sebatas pinggang. Pria itu tersenyum melihat Istrinya yang sudah tertidur pulas. Ia kemudian berjalan menuju ruang ganti dan segera mengenakan pakaian santainya.
Dengan gerakan pelan dan begitu telaten Riza melepaskan sepatu istrinya dan membenarkan posisi tidur Jihan agar nyaman. Pria itu menaiki ranjang dan berbaring di samping sang Istri sembari mengamati wajah cantik itu dari jarak yang begitu dekat. Ia mengecup bibir mungil manis istrinya dengan lembut. Perlahan tapi pasti tangan Riza bergerak liar. Bibirnya pun tak mau diam menyusuri kulit mulus bak porselen yang begitu Ia dambakan. Suara cecapan keluar namun Gadis itu masih tidak sadar karena tidurnya hanyut sampai ke alam paling bawah dalam kesadarannya.
Riza mengunggu istrinya yang sedang memandikan Chester. "Dek. Malam ini aku mengisi acara pengajian. Temani ya." Kata Riza bernada ajakan sekaligus permintaan. "Nggak bisa." Jawab Jihan. "Aku tidak pernah datang ke acara seperti itu. Lagipula aku tidak mau membuat kamu malu." Lanjutnya. "Malu kenapa? Masa punya istri cantik begini malu." Riza mulai menggoda. "Apa yang orang bilang. Istrinya ustadz ternyata urakan. Memangnya kamu siap mental?" Tanya Jihan menantang. "Kenapa memang. Aku nggak malu sama sekali. Mau kamu seperti apa pun aku tidak akan malu." Jawabnya dengan yakin.
__ADS_1
Jihan memandangi tubuhnya di depan cermin besar di kamar mandi. "Kenapa beberapa hari ada bercak merah begini." Gumamnya memperhatikan bagian perut dan dadanya. Ia merasa heran. Tidak mungkin alergi. Ia juga makan seperti biasa. Gadis itu tak ambil pusing kemudian segera memakai bajunya.
Jihan memutuskan untuk mengajak Chester jalan jalan. Keduanya sedang menyusuri jalanan malam yang masih ramai orang berlalu lalang. Bau makanan tercium dari pedagang yang sedang berjualan di sekitar trotoar. Jihan memutuskan membeli beberapa untuk di bawa pulang. "Itu buas nggak neng?" Tanya seorang penjual sate yang sedang di belinya. "Nggak pak. Jinak kok. Chester....kemari." Ucap Jihan hingga serigala itu mendekat. "Tuh. Jinak kan?" Tanyanya di jawab anggukan. "Jinak. Kan neng yang punya." Pria paruh baya itu terkekeh kemudian melanjutkan obrolannya.
"Assalamualaikum." Ucap Riza baru sampai rumah. Laki laki itu langsung menghampiri istrinya di ruang keluarga karena mendengar suar TV yang menyala. "Astaga. Kamu beli apa banyak banget. Padahal aku juga beli makanan loh. Tadi aku telpon kamu mau tanya minta apa nggak kamu angkat." Celotehnya sambil duduk di samping sang istri. "Tadi keluar jalan jalan sama Chester nggak bawa HP." Jawab Jihan. "Mau makan nggak. Kalau mau aku sekalian ambilin piring." Riza menggeleng sambil tersenyum. "Makan sepiring berdua aja." Pria itu tersenyum pada sang istri.
__ADS_1
Keduanya makan bersama dengan satu piring. Jihan membiarkan laki laki itu makan dengan tangan kosong. Bukannya apa apa. Jika di tegur pun Riza akan selalu punya jawaban. "Besok libur. Kamu ada acara?" Tanya Riza setelah menelan makanannya. "Ada." Jawab Jihan singkat. "Apa?" Tanyanya tak puas dengan jawaban sang istri. "Banyak." Ucap Jihan tanpa menjelaskan. "Nggak ada waktu luang ya. Aku mau ajak kamu jalan jalan." Lirih Riza membuat Jihan menggeleng. "Memangnya kamu nggak malu jalan sama aku?" Tanya Jihan menyadari perbedaan antara dia dan suaminya. "Enggak. Kenapa harus malu. Kamu kan istri aku." Riza menjawab dengan cepat. " Jangan berpura pura menyukai satu hal yang sebenarnya membuat kamu tak nyaman dan malu. Aku tau wanita seperti apa yang disukai laki laki sepertimu. So, Jangan memaksakan." Kata Jihan bergegas pergi. Ia tau seperti apa wanita Idaman suaminya yang tak lain tak bukan tipe seperti kakaknya itu yang tertutup dan lemah lembut.