Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Sikap Manis Riza


__ADS_3

"Nanti sore ya Dek." Ucap Riza mengingatkan istrinya lagi membuat Jihan memutar bola matanya malas. "Astaga iya iya. Berangkat sana. Ini sudah jam setengah delapan." Riza hanya tersenyum ketika diusir istrinya dengan halus. "Iya. Mas berangkat dulu Dek. Kamu baik baik di rumah ya. Assalamualaikum." Pamitnya bergegas pergi setelah mengecup pipi sang istri. Riza tak berlebihan seperti biasanya mengingat ini bulan puasa. Takutnya nanti terbawa suasana. Ada yang bangkit dan harus di keluarkan. Pria itu takut jika puasanya batal. Tau sendiri kan jika dengan istrinya Riza mudah itu...


Jihan langsung pergi ke kamar untuk mengganti bajunya. Wanita yang kini berjilbab itu memilih untuk menggunakan celana bahan, kaos, jilbab pasmina dan kardigan dengan warna senada dengan sneakersnya juga. "Perutku tidak ketara." Gumamnya lalu menyambar kunci mobil dan bergegas pergi.


Sebuah mobil terparkir mulus di depan area perkebunan yang cukup luas. Sesosok pria paruh baya berjalan cepat menghampiri wanita yang baru turun. "Haish....Sudah papa bilang jangan datang sendiri. Nanti papa jemput. Telinga kamu di taro dimana?" Kesalnya sambil menjewer telinga putrinya. "Ih. Papa. Jihan cuman bosen di rumah. Papa katanya mau jemput nggak jadi jadi." Keluh Jihan sambil mengusap telinganya yang panas. "Papa khawatir. Kamu kan sedang hamil. Puasa pula." ucapnya sambil menggandeng tangan Jihan untuk diajak berjalan bersama.

__ADS_1


Keduanya sudah berada di perkebunan sekarang. Area lahan seluas 500 hektar itu ditanami berbagai macam buah. "Baru di tanam ya pa?" Tanya Jihan sambil memperhatikan para pekerja yang sedang sibuk. "Iya. Tapi sebagian juga tidak. Hanya mengganti beberapa yang mati saja. Papa beli tanah ini kan sudah sama tanamannya sekalian. Kalau cucu papa lahir ajak kesini ya." pria itu tersenyum menatap putrinya. "Pasti." Ucap Jihan sambil mengangguk.


Di sisi lain Riza sedang gusar karena istrinya sedaritadi di hubungi tidak diangkat. "Ya Allah. Angkat dong Dek." Gumamnya pelan sembari memperhatikan penunjuk waktu yang melingkar di tangan kirinya. "Huft...." Ia menghela napas kemudian bergegas pergi untuk rapat.


Di kediaman Al Rasyid.

__ADS_1


Riza baru saja sampai di rumah tidak mendapati keberadaan istrinya. Pria itu tampak cemas sembari mencoba menghubungi beberapa kali namun tetap tidak diangkat. "Assalamualaikum." Ucap Mark memasuki rumah. "Waalaikumsalam.Mark. Kakak dimana?" Tanya Pria itu melihat adik iparnya baru pulang. "Lah. Nggak tau. Aku baru pulang." Jawabnya ikut duduk. "Di cafe mungkin." Lanjutnya dengan cepat Riza menggeleng. Ia sudah ke cafe namun Jihan tidak ada.


Beberapa menit kemudian dua orang itu mendengar suara mobil berhenti di halaman. "Kamu darimana sih Dek. Bikin cemas." Ucap Riza sembari memeluk istrinya yang baru turun. "Dari kebun. Awas ah. Gerah. Aku mau mandi." Jihan berjalan memasuki rumah. "Kamu kok nggak kasih kabar Mas. Mana nyetir sendiri. Kalau ada apa apa bagaimana coba." Cerocos Riza sambil mengikuti langkah istrinya.


Sore hari Jihan, Riza dan Mark sudah sampai di pesantren bertepatan dengan keluarga yang juga baru sampai. Mereka langsung menghampiri Jihan dan memeluk bergantian. Tatapan mata semua orang langsung tertuju pada wanita cantik dengan gamis berwarna cream itu. Wajah Jihan begitu memikat siapa saja yang melihat membuat Riza harus menyiapkan kesabaran lebih. "Sabar. Namanya juga ujian." Ucap Amir sambil terkekeh menepuk punggung sahabatnya.

__ADS_1


Buka puasa bersama sedang berlangsung setelah sholat selesai. Semuanya kini sudah tau jika Jihan anak bungsu dari keluarga Al Rasyid yang keberadaanya menjadi perbincangan. "Nggak mau nasi?" Tanya Riza di jawab gelengan oleh istrinya. "La maunya apa dong?" Pria itu gemas dengan istrinya. Jika tidak ada orang mungkin dia akan mengigit pipi Jihan yang menggembung itu. "Tahu sama tempe saja." Jawab Jihan setelah berpikir. Riza mengambilkan untuk istrinya. Sikap manis pria itu tak luput dari perhatian semua orang. "Nanti kalau mau apa apa bilang sama Mas. Ini susunya di habiskan." Tuturnya sambil menaruh susu kotak untuk ibu hamil di atas meja. "Nggak makan nasi Dek?" Tanya Bunda yang duduk di samping Jihan. "Enggak. Lagi eneg." Jawabnya pelan. "Sayur asem mau?" Tanyanya namun Jihan menggeleng. "Kalau buah?" Kini Jaafar yang menyahut. "Nanti saja." Jawab Jihan meneruskan makannya.


__ADS_2