Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
No Service


__ADS_3

Jihan berjalan hendak ke dapur. Wanita itu berhenti tepat di depan pintu kamar Juma yang terbuka. "Juma." Ucap Jihan sambil masuk mengamati kamar yang begitu berantakan seperti habis di rampok orang. "Kenapa Dek?" Tanya Riza menghampiri istrinya. Pria itu baru saja ingin menuju kamar untuk mandi langung berhenti karena panggilan istrinya pada si Bungsu yang bernada kesal. "Astaga berantakan sekali." Gumam Riza menelisik ruangan besar dengan fasilitas lengkap itu. "Juma." Panggil Jihan lagi dan remaja itu keluar dari Walk in closet nya. "Iya Ibu." Jawabnya sambil membawa handuk. "Apa apaan kamu bikin kamar berantakan begini? Mau tidur sama tikus?" Tanya Jihan sambil bersedekap dada. "Tadi cari charger Bu. Ketemunya di kolong tempat tidur ternyata. Nanti Juma suruh Bibi bereskan." Jawabnya. "Bereskan sendiri. Ini perbuatan kamu. Kamu yang harus tanggung jawab. Ibu nggak mau tau. Ketika Ibu balik harus sudah rapi tanpa bantuan siapapun." Tegas Jihan. "Tapi...Juma kan mau mandi." Keluhnya. "Makannya mulai dari sekarang." Jawab Jihan dengan entengnya lalu pergi.


"Mbak Jihan. Mau sarapan pakai apa pagi ini?" Tanya Bibi melihat kedatangan wanita itu. "Nasi goreng aja. Bibi marinasi ayamnya biar aku yang bikin nasi goreng sama telur ceplok nya." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Iya Mbak. Saya bantu siapkan bumbu juga." Ucap Wanita paruh baya itu langsung bergegas membantu.


Jalwa ikut bergabung membantu Sang Ibu karena itu sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi. "Mbak Jihan nggak mau tambah momongan lagi?" Tanya Bibi sambil terkekeh. Jihan kan masih muda. Nggak ada salahnya tambah anak lagi. "Bapaknya sama anak anak nggak setuju Bi. Kalau aku sih ok ok aja." Jawab Jihan sambil menumis bumbu nasi goreng. "Biar Jalwa saja Bu. Ibu yang masukin bumbunya." Wanita itu mengangguk memenuhi keinginan putrinya. "Mbak Jalwa kenapa nggak pengen punya adek lagi?" Gadis itu tersenyum atas pertanyaan Asisten rumah tangganya. "Bibi lihat Juma kan. Itu alasannya. Satu saja sudah buat pusing apalagi tambah. Jalwa nggak mau." Jawabnya.

__ADS_1


Semua sudah lengkap berkumpul di meja makan. "Ayah nanti berangkat sama kalian. Ayah lagi malas nyetir." Kata Riza pada kedua anak kembarnya. "Iya Yah." Jawab Jaffan sambil melahap nasi goreng. "Juma. Kamar kamu sudah beres?" Tanya Jihan. "Sudah. Seperti yang Ibu mau. Juma bereskan sendiri." Ucapnya dengan bangga. Jihan mengangguk. Wanita itu meraih ponselnya yang berdering. "Ya." Kata Jihan ketika panggilan terhubung. "Kenapa mendadak sekali? Kita temu janji itu untuk hari Kamis. Kenapa di undur satu hari?" Tanyanya. "Batalkan saja kalau begitu. Aku dan keluarga ada acara di pesantren. Kirim pesan untuknya jika tidak ikut peraturan lebih baik batalkan kontrak kerjasama. Waktu itu kita sudah sepakat. Dia tidak bisa seenaknya mengubah jadwal." Kesal Jihan. "Terserah. Jika itu maunya." Jawanya kemudian mengakhiri panggilan.


Jihan sudah mengantar Putranya. Wanita itu kini sudah sampai di kantor. Ia bergegas menuju ruangannya. "Selamat pagi Bu." Sapa Dina melihat Bosnya datang. "Pagi Din." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Tuan Peter ingin bicara dengan Ibu hari ini." Jihan menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Suruh saja datang ke ruangan." Ucapnya segera masuk.


Pukul 1 siang Jihan sudah berada di parkiran kampus. Wanita itu akan menjemput suaminya karena Riza yang minta. "Waalaikumsalam. Aku ada di parkiran. Kamu dimana?" Tanya Jihan sedikit kesal karena sudah menunggu daritadi suaminya tak kunjung keluar. "Apaan sih Mas. Aku mau gym nih." Keluh Jihan. "Ya. Tunggu situ." Jawabnya.

__ADS_1


Jihan berjalan menuju kantin kampus tempat suaminya berada. Ia tersenyum dengan para mahasiswa yang menyapanya. "Dasar suami laknat. Ngapain suruh aku samperin." Gerutunya sambil berjalan menuju pria yang sedang sibuk membereskan kertas kertas di atas meja.


"Sayang." Tanpa rasa malu atau memang tidak punya malu Riza memeluk dan mencium kening istrinya. "Ngapain kamu suruh aku kesini sih?" Tanya Jihan dengan lirih karena mereka menjadi pusat perhatian sekarang. "Hehe..Nggak papa. Ayo pulang." Ajak Riza menggandeng tangan istrinya untuk diajak berjalan bersama. "Mampir beli mie ayam dulu. Aku lapar." Ucap Jihan dan suaminya mengangguk setuju.


Di kedai sederhana Jihan dan suaminya sedang menikmati Mie ayam ditemani dengan es jeruk segar. "Dek. Aku pengen yang seperti kemarin." Kata Riza membuat Jihan mendongakkan kepala menatap suaminya itu. "Seperti kemarin apa?" Tanya Jihan. "Yang di apartemen itu lo." Jawab Riza. Ia menelisik ekspresi istrinya yang tetap datar sambil makan dengan tenang. Jihan sudah menduga Suaminya akan minta sesuatu karena Ia boleh makan mie hari ini. "Oh. Mau bayar berapa?" Jihan menantang membuat Riza kebingungan. "Layani suami itu harus ikhlas Dek. Kamu kok minta bayaran." Ucapnya. "Kalau istri minta itu di turuti yang ikhlas Mas. Kamu juga kalau aku minta apa apa selalu ada imbalannya." Jawab Jihan jujur. "Berapa harga yang harus aku bayar?" Jihan menghentikan makannya. "Seperti kemarin itu harus ada pizza, burger, kentang goreng, samyang, ramen dan minumnya Boba. VIP kurangi kentang gorengnya aja kalau di bawah itu kurangi burger dan ramen. Gimana??" Tanya Jihan. "Kamu kemarin sudah makan. Sekarang kan sudah makan mie. Nggak boleh Dek." Keluh Riza. "Yasudah. No Service. Semalam sudah. Salah sendiri nggak mau punya anak lagi." Jawab Jihan.

__ADS_1


__ADS_2