Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Hanyut Dalam Pikiran Masing Masing


__ADS_3

Sudah genap lima hari Riza tak bertemu maupun mendapat kabar dari istrinya. Pria itu hanya bisa menahan dan menggenggam rindu yang tak berujung menjadi temu. Kini Ia sedang menunggu adik iparnya di depan kelas sambil duduk dengan gusar. "Mark." Panggilnya langsung bergegas menghampiri remaja yang baru keluar dari kelasnya. "Ada apa kak?" Tanyanya dengan santai. "Kamu dapat kabar?" Pertanyaan itu yang selalu di ucapkan nya setiap mereka bertemu. "Belum." Jawab Mark sambil mengingat ingat. "Eh iya lupa. Kakak cuman kasih kabar kalau dia baik baik saja tadi pagi." Mark mengangguk meyakini apa yang diingatnya. "Terus ada lagi?" Riza berharap mendapatkan lebih namun hanya di tanggapi gelengan. "Kalau begitu ayo kita susul saja kesana." Ucap Riza mampu membuat adik iparnya membulatkan mata. "Nggak ah. Nanti kita malah kesasar disana. Kan nggak tau kakak juga dimana. Tunggu saja sampai pulang. Paling nggak lama lagi." Ucapnya menepuk bahu Riza kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


Mark baru saja sampai rumah. Remaja itu berjalan lesu untuk duduk di sofa. "A...." Teriaknya terkejut melihat seseorang telah berdiri di depannya saat Ia mengangkat pandangan. "Mark." Kesal Jihan memukul adiknya dengan bantal sofa. "Kakak. Ouh. Aku merindukanmu." Ucapnya memeluk wanita itu dengan erat. "Hey...Lepaskan. Anak anak kakak terjepit." Jihan terkekeh. "Ah maaf. Aku terlalu senang. Kenapa pulang tidak memberi kabar?" Tanyanya sambil cemberut. "Jangan manyun begitu. Tambah jelek." Ia mencubit pipi adiknya. "Kakak pulang daritadi?" Jihan menggeleng. "Sejam yang lalu mungkin." Jawabnya. "Oleh olehmu ada di kamar." Lanjutnya sembari menyenderkan punggung di sofa dengan nyaman. "Setiap hari kak Riza selalu menanyakan kakak. Hari ini dia ingin mengajakku untuk menyusul kakak."Mark menceritakan bagaimana galaunya Riza saat ditinggal Jihan. "Apa Kakak tidak ingin bicara dengannya?" Tanyanya membuat Sang Kakak menghela napas. "Mandilah. Bau matahari." Jawab Jihan keluar dari topik lalu pergi meninggalkan Mark menuju kamarnya.

__ADS_1


Suasana rumah Riza begitu sepi beberapa hari ini tanpa adanya sang istri. Biasanya sekedar Omelan atau pertengkaran kecil Jihan dan Mark akan mewarnai hari harinya. Sambutan wanita itu ketika Ia pulang begitu dirindukan. Obrolan hangat serta senyuman Jihan begitu membekas di pikiran dan hatinya. Tidak hanya masalah internal di lingkup rumah tangganya. Kini Riza harus dihadapkan dengan para tetangga yang menanyakan keberadaan istrinya. Mau tak mau Ia harus berbohong untuk menyembunyikan sebuah badai rumah tangga yang sedang di lalui. Posisi Riza sebagai orang yang cukup berpengaruh di sekitar membuat kehidupannya tak luput dari perhatian orang orang. Apalagi keharmonisan rumah tangganya yang terbina dengan baik di mata publik menjadikan semuanya bertanya tanya jika ada sedikit saja sesuatu yang berbeda.

__ADS_1


Di bawah langit yang sama. Seorang wanita tengah duduk di balkon kamar sambil menikmati suasana sore yang begitu lengang. Pandangannya menatap lurus ke depan menyaksikan matahari jingga yang tenggelam di antara pohon pohon besar jauh di belakang rumah. Selama ini hatinya selalu mengusik pikirannya. Hati merasakan pikiran dan pikiran memikirkan hati. Sangat rumit bukan? Ia bingung harus mengambil langkah apa untuk ke depannya. Kehadiran buah hati bukan menjadikan cinta itu tumbuh. Jika ada yang berpikir dia tidak mencoba dan berusaha maka salah besar. Jihan sudah berusaha mati matian sampai dimana Ia benar benar sadar jika ini tak bisa untuk selalu di paksakan. Maka dari itu Ia akan jujur. Mengatakan hal sebenarnya tentang apa yang Ia rasa. Harinya selalu terucap kata maaf karena telah berbohong, menahan dan gagal. Cinta karena terbiasa seperti yang orang katakan tidak terjadi padanya. Cinta pada pandang pertama seperti sebuah kisah film juga meleset dari kehidupannya. Lalu bagian cinta mana yang Tuhan hadirkan sebagai pelengkap hidup Jihan? Cinta yang seperti apa? Cinta yang bagaimana? Pertanyaan itu selalu berputar dalam benaknya. Apakah hatinya telah mati? tapi jikalau pun iya Jihan masih bisa merasakan kasih sayang untuk orang orang yang berarti dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2