Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Digigit


__ADS_3

Riza menghampiri istrinya yang sedang memangku hadiah yang diberikan oleh Bunda dua hari yang lalu saat acara buka bersama di pesantren. "Belum di buka juga Dek?" Tanya Pria itu dan Jihan menggeleng lemah. Riza menjadi gemas sendiri karena Jihan tak kunjung membuka nya juga. "Aw...Kamu ini kenapa sih main gigit aja." Kesal Jihan karena di gigit oleh sang Suaminya. Ia yakin sudah ada bekas gigi Riza yang tercetak jelas disana. "Maaf Dek. Mas gemas." Ucapnya sambil mengecup bekas memerah itu beberapa kali. "Ih. Awas. Jangan ganggu." Ucapnya mendorong tubuh Suaminya pelan. "Ayo dong dibuka." Lah...Kenapa Riza yang semangat. Jihan menghela napas kemudian membuka dengan cepat. Tiga set perhiasan lengkap. Satu set mas murni, satu set perhiasan berbahan logam mulia rhodium murni dan satu set lagi perhiasan berlian. "Wih...Pantesan berat. Aku disuruh buka toko kali ya." Ucap Jihan. "Apa Ini?" Tanyanya sembari membuka tiga map yang ada di dalam. "Sertifikat tanah dan rumah." Gumamnya kemudian menutup dan menyimpan kembali. "Kalau kamu mau ke kamar tolong simpan ini." Kata Jihan menyerahkan kotak itu pada suaminya. Riza mengangguk. Ia mengecup kening istrinya sekilas kemudian segera pergi.


Setelah menyiapkan makanan untuk buka puasa dan mandi Jihan mengajak suami dan adiknya untuk ke bazar ramadhan. "Iya. Iya. Kamu pelan pelan jalannya." Kata Riza ketar ketir melihat Jihan berjalan cepat menuju mobil. "Haish... Kalau diberitahu suka begitu." Gumamnya segera menyusul sang istri.


Riza menggandeng tangan istrinya karena takut terpisah mengingat suasana yang cukup ramai. "Kita mau beli apa?" Tanya Jihan pada suami dan adiknya. "Lah. Kakak ini gimana? Kan yang ajak kakak." Jawab Mark. "Kakak cuman pengen lihat. Em... Yasudah kita beli itu saja." Dengan semangat wanita itu menarik tangan suaminya menuju penjual gorengan. "Dek. Yang lain saja ya." Bujuk Riza yang tentunya tidak mempan. Bisa di tebak kelanjutannya pria itu akan diam dan menuruti keinginan sang istri.

__ADS_1


Tiga orang sedang buka bersama di rumah keluarga. Mereka duduk di bawah dengan alas karpet menghadirkan suasana kekeluargaan yang kental. "Makan yang lain juga dong Dek." Ucap Riza melihat istrinya hanya berbuka dengan gorengan dan es kelapa. "Enak. Mau nggak?" Tanya Jihan. "Mau." Riza tersenyum lalu menggigit pastel milik istrinya. "Ih. Itu bekas aku." Pria itu menggeleng pelan. "Tidak masalah. Malah lebih enak." Ucapnya membuat Mark memutar bola matanya malas karena setiap hari harus mendengar gombalan ajaib iparnya untuk sang istri.


Sholat teraweh telah selesai. Jihan pulang duluan dengan Mark karena suaminya masih ada urusan di masjid. "Kakak. Aku ganti baju dulu ya. Nanti kita nonton bareng." Jihan mengangguk menanggapi adiknya. "Jangan lama lama." Teriaknya ketika Mark sudah menaiki tangga.


"Assalamualaikum." Riza memasuki rumah melihat istrinya masih menggunakan mukena sambil berdiri. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan sambil membalikkan badan. "Belum ganti juga Dek?" Pria itu berjalan menghampiri istrinya. "Iya. Ini mau ganti." Jihan berjalan menaiki tangga dan Bruk.....

__ADS_1


"Kakak." Teriak Riza dan Mark bersamaan bergegas menghampiri wanita itu. Riza dengan cepat menggendong istrinya untuk di bawa ke rumah sakit. "Sabar kak." Ucap Mark melihat Jihan terus merengek kesakitan.


Jihan mendudukkan tubuhnya perlahan di bantu sang suami. Pergelangan kakinya retak dan harus di gips. "Masih sakit?" Tanya Bunda khawatir. "Enggak. Ayo pulang." Ucapnya membuat mereka semua membutakan mata.


"Disini saja dulu. Pulangnya besok." Ucap Papa namun Jihan menggeleng. "Dek. Disini dulu saja ya. Gips kamu juga baru di pasang. Jangan pulang dulu lah." Bujuk Riza sambil menggenggam tangan istrinya. "Aku mau pulang." Tegasnya tidak mungkin di bantah lagi. "Baiklah." Kata Riza menggendong tubuh istrinya. "Ada kursi roda. Kamu apa apaan sih." Kesal Jihan namun suaminya tidak peduli. "Aku cium nih." Ucapnya membuat Jihan tak berkutik. Riza tersenyum kemudian pria itu mengecup pipi istrinya membuat Jihan memukul dada pria itu.

__ADS_1


"Sudah tidur?" Tanya Ayah yang kini masih di rumah menantunya. "Sudah Yah. Baru tidur." Jawabnya ikut duduk bergabung bersama keluarga yang lain di ruang tengah. "Kok bisa jatuh begini Za?" Tanya Bunda. "Tersandung di tangga Bun." Jawabnya merasa tidak enak karena tidak bisa menjaga sang istri dengan baik. "Untung kandungannya baik baik saja." Jena menghela napas. Semenjak Jihan mengandung mereka sangat khawatir. Apalagi mengingat Jihan sangat aktif dan grasa grusu membuat semuanya was was.


__ADS_2