Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Trauma Riza


__ADS_3

Semua orang sedang panik karena sejak semalam Jihan tidak berhenti bersin bersin. "Kita ke rumah sakit." Tegas Riza karena istrinya selalu menolak. "Nggak usah Mas. Baru minum obat. tunggu dulu aja." Jawabnya. "Hidung kamu udah merah begitu. Kaya kamu begini beberapa menit yang lalu. Sejak semalam kamu bersin bersin Dek." Ucapnya mengambil Jilbab wanita itu kemudian memakaikannya. "Ayo berangkat. Kalian sama Om sama Kakek di rumah. Ayah cuma sebentar." Ucapnya dan kedua bocah itu mengangguk patuh.

__ADS_1


Jihan sampai di rumah sakit langsung di cek kondisinya. Wanita itu diarahkan untuk menjalani serangkaian tes alergi. "Lama ya dok?" Tanyanya. "Sebentar Pak. Nanti hasilnya akan segera keluar." Jawab dokter sembari menggunakan alkohol untuk membersihkan bagian kulit lengan bawah bagian dalam Jihan. Wanita paruh baya itu kemudian memberi tanda pada kulit dengan spidol lalu memasukkan ekstrak alergen dengan jarum ke lengan Jihan. Riza menggenggam tangan istrinya dikira wanita itu takut. Padahal sih tidak. Jihan santai saja. "Sakit ya Dek?" Tanyanya di jawab gelengan. "Istrinya ya pak?" Tanya Dokter sembari menunggu reaksi kulit Jihan. "Iya Dok. Dokter mengira istri saya keponakan saya ya?" Riza terkekeh karena sudah terbiasa seperti itu. "Tidak. Istrinya cantik." Jawab Dokter itu sambil tersenyum ramah. "Kirain Dokter sama seperti yang lain mengira saya Omnya." Dokter bername tag Nita itu tertawa lalu mengajak sepasang Jihan dan suaminya untuk mengobrol ringan.

__ADS_1


Jihan sedang duduk menunggu suaminya yang sedang menebus obat di apotek. "Sudah?" Tanya Jihan ketika Riza duduk di sampingnya. "Sudah. Sekarang sudah tau kan kalau kamu alergi macam macam. Jadi jangan macam macam juga." Ucapnya sambil membuka botol air mineral untuk diminum sang istri. "Memangnya aku macam macam apa?" Tanya Jihan sambil mengerutkan keningnya. "Nggak. Mana pernah kamu macam macam Dek. Ayo pulang." Pria itu mengecup kening Jihan kemudian menggenggam tangan Sang istri untuk membantu berdiri dari duduk.

__ADS_1


Riza sudah selesai membersihkan kamar dengan penyedot debu. Ia menghampiri istrinya yang sedang tiduran di sofa sambil mengobrol. "Istirahat di kamar biar nyaman. Sudah aku bersihkan kok." Kata Pria itu sambil duduk memangku kaki sang istri. "Mau disini dulu Mas." Jawabnya. Riza hanya mengangguk kemudian mulai memijit kaki Jihan dengan pelan. "Nggak usah kamu pijit Mas." Ucapnya namun Riza tak menghiraukan.

__ADS_1


Jihan sudah pindah tidur di kamar. "Makan dulu Dek. Kamu harus minum obat." Ucap Riza menghampiri istrinya. "Nanti Saja Mas. Aku lagi malas makan." Jawab wanita itu sambil memejamkan mata. "Sedikit saja Dek. Yang penting obatnya kamu minum." Ia berkata dengan lembut sembari mengelus kepala istrinya. "Em. Iya." Jawab Jihan sambil duduk. Ia makan dua sendok di suapi suaminya kemudian minum obat. "Sudah. Nggak mau lagi." Ucapnya kembali berbaring. Riza tak mau memaksa. Badan istrinya mungkin sedang tidak enak makanya cepat cepat ingin istirahat. Ia ikut berbaring memeluk Sang istri dengan hangat. Jihan semakin menelusup kan kepalanya di dada sang Suami. Menikmati tepukan lembut di punggungnya yang membuat nyaman. "Mas." Panggil Jihan. "Ada apa Sayang? Ada yang kamu butuhkan?" Tanya Pria itu. "Enggak. Cuma mau tanya saja. Memangnya kamu nggak pengen punya anak lagi?" Jihan mendongak menatap suaminya membuat Riza menghela napas. Jujur Ia trauma saat istrinya melahirkan dulu. Memang lahiran Jihan lancar. Namun kesakitan yang dialami membuat Riza tak tega harus menyaksikan momen itu lagi. Apalagi di tambah sekarang kondisi istrinya yang tidak sesehat dulu pasca kecelakaan menjadikan dirinya lebih khawatir berkali kali lipat. Istrinya itu sudah berkali kali bertanya namun jawaban Riza tetap sama. "Mas nggak mau kamu kelelahan Sayang. Apalagi hamil dan melahirkan bukan perkara yang mudah. Jika kamu tidak memikirkan dan tidak terbebani itu justru Mas yang khawatir. Mas yang kepikiran. Jadi untuk saat ini cukup Jaffan dan Jalwa saja." Jawabnya dengan lembut berharap sang istri akan memahami perasaanya.

__ADS_1


__ADS_2