
Jihan kembali tidur lagi setelah menyiapkan perlengkapan suami dan anak bungsunya. Wanita itu panas dari semalam. "Makan dulu Dek. Minum obat juga." Ucap Riza sembari mengganti plester demam di kening istrinya. "Mau tidur Mas." Jawab Jihan enggan untuk beranjak dari tidurnya yang nyaman. Badannya lemas membuatnya begitu malas untuk melakukan apapun. "Yasudah. Mas mau mandi dulu." Pamit Riza melangkah pergi setelah memberikan kecupan pada istrinya.
"Kalian jangan berisik. Ibu bangun nanti." Tegur Riza saat keluar dari ruang ganti melihat anak anaknya sedang berkumpul di kamar. "Panasnya masih belum turun. Harusnya Ibu sarapan dulu terus minum obat." Kata Jalwa sembari memperhatikan termometernya. "Sudah Ayah suruh berkali kali tapi tidak mau. Ibu mau istirahat saja katanya." Jawab Riza. "Ayo sarapan. Nanti kalian telat." Lanjutnya memberi perintah. "Ayah. Juma mau di rumah saja sama Ibu." Ucap si bungsu membuat Riza menghela napas. "Nanti Juma kan pulang jam 10. Nggak lama di sekolah. Ayo. Jangan bolos." Juma menurut. Bocah tampan itu mencium Jihan dengan hati hati diikuti saudaranya yang lain dan juga sang Ayah.
__ADS_1
"Pilek dan panas badannya dari samalam. Gara gara minum es. Buang aja kulkas di rumah Za. Istri kamu susah dikasih tau." Kesal Papa sambil menyantap sarapannya. "Begitu Pa. Papa tau sendiri kan kalau aku ngomel sampai mulut berbusa pun diam diam masih di langgar padahal jawabnya iya sudah enggak minum es lagi." Jawab Riza. "Pa. Riza nanti pulang jam 3. Kalau ada apa apa kasih kabar ya." Pria paruh baya itu mengangguk menanggapi menantunya. "Jangan khawatir. Papa jagain." Ucap Papa.
Selepas semuanya berangkat Papa menuju kamar anaknya. "Papa." Kata Jihan yang duduk bersandar di headboard ranjang. "Sarapan dulu. Susah makan kamu ya....Harus minum obat biar cepat sembuh." Papa meraih mangkuk di atas nakas mulai menyuapi anaknya namun Jihan menolak. "Mau makan apa? Mau yang lain?" Tanya Papa. "Nggak pengen makan Pa. Mulut rasanya pait banget." Jawab Jihan kembali berbaring. "Makan dulu sedikit saja. Minum obatnya." Jihan cemberut menatap pria paruh baya yang masih duduk di tepian ranjang. "Ih Papa. Nggak mau. Jihan butuhnya cuman istirahat." Jawabnya. "Sedikit saja. Ayo bangun." Papa kesal menarik telinga putrinya membuat Jihan terpaksa duduk kembali. Wanita itu makan satu suap kemudian meminum obatnya. "Ayo makan lagi. Masa satu suap begini." Ucap Papa. "Tadi kan Papa bilang cuman sedikit saja." Jawab Jihan kembali berbaring lagi.
__ADS_1
Jihan baru keluar dari kamar mandi langsung mendapat pelukan dari suaminya. "Kamu mandi. Kan lagi nggak enak badan." Tutur pria itu sambil mencium bibir mungil sang istri. "Nggak enak nggak mandi. Pagi tadi sudah nggak mandi." Jawab Jihan. "Kamu mau mandi sekarang? Aku siapin airnya." Lanjutnya menawari. "Kamu istirahat saja. Mas bisa sendiri." Riza menggendong tubuh ringan Jihan yang begitu ringan dari sebelumnya lalu meletakkan di ranjang dengan hati hati. "Tunggu Mas dulu. Mas tadi belikan kamu makan. Katanya kamu nggak mau makan dari pagi. Lihat badan kamu kurus begini." Ucap Riza mencium kening istrinya lalu bergegas mandi.
Semuanya berkumpul di kamar Jihan. Makanan yang tadi di beli Riza juga sudah tersaji di atas meja. "Mau makan yang mana dulu?" Tawarnya pada sang istri. Jihan masih berpikir sambil mengamati semuanya. "Makan bubur sumsumnya Bu. Enak." Jalwa memberi saran. "Ibu nggak pengen makan apa apa ah. Nggak enak." Jawab Jihan. "Ibu harus makan. Nanti minum obat." Kata Juma yang masih memeluk Ibunya. "Iya Bu. Biar cepat sembuh." Sahut Jaffan. "Mama begitu sih. Makan aja nggak mau." Keluh Julian begitu prihatin dengan Mamanya. "Atau Mama pengen makan mie..." Riza langsung membungkam mulut Jason yang sembarangan. "Ayo makan. Kamu harus makan." Riza mengambil sate dan melepaskan dari tusuknya dengan sendok. "Nggak mau Mas." Tolak Jihan enggan membuka mulutnya. "Makan Dek. Sedikit saja. Ini sate langganan Adek lo. Masa nggak mau. Antrinya tadi lama banget. Apa nggak kasihan sama Mas yang bela belain beli semua ini untuk tapi kamu nggak mau makan." Ucap Riza memelas membuat istrinya iba. Wanita itu akhirnya mau menerima suapan dari suaminya. "Nah pinter. Begini kan Mas lega." Ucap Riza tersenyum sambil mengusap bibir sang istri dengan Ibu jarinya.
__ADS_1