Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Nasihat Papa


__ADS_3

Jihan kesal. Sedaritadi suaminya itu di kamar mandi namun belum juga keluar.15 menit rasanya sangat cukup bagi seorang laki laki untuk mandi. La ini sampai setengah jam lebih dan Riza belum selesai juga. Wanita itu langsung berdiri ketika melihat suaminya keluar dengan handuk yang melilit di pinggang. "Lama banget. Kaya anak perawan aja mandi sampai setengah jam lebih." Kesalnya hanya di tanggapi senyuman oleh Riza. Melihat istrinya sebal begitu merupakan hiburan tersendiri. Menurutnya Jihan akan terlihat lucu ketika sedang mengomelinya.


"Dek. Baju kita samaan ya." Ucap pria itu sembari membawakan gamis sang istri yang warnanya sama dengan bajunya karena Riza sengaja membeli beberapa pasang baju couple. "Niat banget." Ucap Jihan sambil mengeringkan rambutnya. "Aku mau yang lain. Jangan yang ini. Warnanya yang soft saja." Kata Jihan dan suaminya mengangguk setuju. Pria itu langsung bergegas memilih baju lagi untuk dirinya dan sang istri.

__ADS_1


Riza menghampiri istrinya yang sedang sibuk memasukkan kado ke dalam paper bag. "Kamu pucat Dek. Badannya nggak enak ya?" Tanya Riza khawatir. "Iya. Agak pusing sedikit." Jawabnya kembali duduk di ranjang. "Kalau pusing tidak usah datang saja. Kamu istirahat." Riza memijit pelipis istrinya pelan. "Nggak enak ah. Aku harus datang." Jawabnya hanya bisa membuat Riza pasrah harus memenuhi kemauan sang istri.


Di rumah kontrakan Meta sudah tampak beberapa orang yang berkumpul. Jihan langsung menuju kamar temannya setelah berbincang dengan beberapa orang. "Wah calon istri orang cantik banget." Kata Jihan ketika memasuki kamar. "Nih. Kado buat pengantin baru." Lanjutnya lagi menyerahkan bawaannya. "Makasih. Kamu juga cantik Han." Meta tersenyum. "Isinya nggak macem macem kan?" Meta memastikan. "Macem apa? Kado macem macem itu maksudnya gimana?" Jihan malah bingung sendiri dengan pertanyaan temannya itu. "Lupakan." Jawabnya. "Orang tua kamu datang?" wanita itu bertanya dengan lirih. "Datang. Aku sudah mengabarinya kemarin kemarin. Kamu pucat. Sakit ya?" Jihan menggeleng pelan. "Ayo aku antar ke depan." Ajaknya.

__ADS_1


Suasana menjadi sepi kembali setelah pernikahan sederhana itu selesai di laksanakan. "Selamat ya." Ucap Jihan sambil memeluk Meta. "Hm. Terimakasih." ucapnya sembari mengelus punggung wanita itu dengan lembut. Keduanya duduk berdampingan dengan suami masing masing. "Jadi Mas Rudi ini kerjanya di kantor dekat sekolahnya anak anak?" Tanya Riza setelah mendengar cerita dari pria di depannya. "Iya Mas. Sudah lama bekerja disana." Jawabnya sambil mengangguk. "Aku mau telpon Papa dulu." Pamit Jihan dan ketiga orang itu mengangguk. "Mas Riza. Jihan sakit ya?" Tanya Meta khawatir. "Tadi katanya sedikit pusing." Meta mengangguk.


Semua orang sedang cemas menunggu dokter memeriksa keadaan Jihan. Keluarga juga sudah datang setelah mendapat kabar dari Riza tadi. "Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Riza buru buru saat wanita paruh baya itu keluar. "Istri bapak sehat. Ini memang efek dari kehamilannya." Jawab dokter sambil tersenyum. "Hamil? Istri saya hamil dok?" Tanyanya lagi memastikan. "Iya. Istri bapak sedang hamil 3 Minggu." Jelasnya.

__ADS_1


"Selamat dek. Kamu hamil." Ucap Bunda membuat Jihan mematung seketika. Ia tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Kenapa tiba tiba......"Aku pengen ketemu Papa." Kata wanita itu melepaskan genggaman tangannya dari sang suami. "Mark. Panggilkan Papa." Kata Jihan dan Mark langsung mengangguk.


"Sayang." Seorang pria memasuki ruangan langsung memeluk Jihan. "Kamu sakit apa?" Tanahnya sambil mengusap punggung wanita itu. "Tidak sakit hanya saja.....Jihan sedang hamil." Jawabnya pelan. "Its ok sayang. Ini rezeki. Kamu harus menerimanya dengan ikhlas. Ada wanita bahkan sudah menanti lama tapi belum di beri. Jadi kamu harus bersyukur." Ucap pria paruh baya itu memberi nasihat. Ia tau Jihan belum siap dengan semua ini. Wanita itu sering bercerita. "Istirahatlah." Ucapnya membantu Jihan berbaring dengan hati hati. Hati semua orang serasa tercubit melihat kedekatan keduanya. Jihan begitu nyaman dengan orang lain daripada keluarganya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2