Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Mulai Tegas


__ADS_3

Riza akan mulai tegas dengan istrinya. Seperti sekarang, Pria itu sedang mengumpulkan semua makanan yang bisa membahayakan kesehatan sang istri. Ia mencari dan memasukkan mie instan dan makanan instan lainnya ke dalam keranjang. "Mas. Mau diapakan?" Tanya Jihan makanan yang sudah Ia sembunyikannya dengan baik dan biasa dimakan ketika sang suami pergi telah di ketahui pria itu. "Mas jangan begitu dong." Lanjutnya mulai merengek. "Sudah. Mulai sekarang nggak ada lagi makan makanan seperti ini. Mas akan kontrol belanja kamu. Nggak ada baso aci, ramen, mie instan dan makanan kamu yang banyak MSG nya seperti ini." Tegas Riza. "Mas itu kan nggak pedas." Jihan mengekori suaminya yang sedang mengobrak abrik seluruh isi dapur dan lemari yang ada. "Bukan cuman pedas saja yang harus kamu hindari. Benar kamu olahraga. Tapi makanan begini juga nggak baik dan kamu tau itu Dek." Ia terus melakukan misinya membiarkan istrinya merengek dan sedikit menangis.


Semuanya menatap dua dus besar makanan yang berhasil di kumpulkan Riza. "Mas jahat." Keluh Jihan. "Mas sayang sama kamu makannya seperti ini." Jawab Riza memeluk istrinya. "Ini semua mau diapakan ustadz?" Tanya Pekerja rumah yang tadi di panggil Riza. "Terserah mau diapakan Pak. Yang pasti jangan ada di rumah ini." Jawab Riza. "Buat kami boleh ustadz?" Tanyanya. "Boleh. Silahkan." Jawabnya cepat.


"Mulai sekarang kalau belanja harus sama Mas. Nggak asa lagi belanja sendiri sama anak anak atau sama Bibi. Suka curi curi kesempatan kamu." Ucap Riza dengan tegas pada istrinya yang sedang duduk bersama anak anak. Juma memeluk Ibunya yang sedang bersedih. "Mas keterlaluan." Ucapnya bergegas pergi. Riza menghela napas menyuruh anak anak untuk tetap di tempat sementara Ia akan menyusul istrinya.

__ADS_1


Jihan tak menghiraukan suaminya yang terus mengetuk pintu meminta untuk masuk. Ia sedang bad mood sekarang. Bad mood nya Jihan kadang sama persis seperti Juma. Tingkah kekanakannya muncul seperti sekarang dengan mengunci pintu untuk menyatakan dia sedang ngambek. Biarlah Ia dikatakan ngambekan seperti Juma nyatanya Riza benar benar menyebalkan saat ini.


"Gimana Yah, Ibu belum mau buka pintunya?" Tanya Jaffan menghampiri Ayahnya yang sedang berdiri di depan pintu. "Belum. Ngambek dia." Ucap Riza. "Sini Jaffan bukakan." Ucapnya. "Memang kamu bisa?" Tanya Riza. "Bisa." Remaja itu mengutak atik pintu hingga bisa terbuka. "Makasih. Kenapa nggak daritadi sih." Ucap Riza bergegas masuk dan menutupnya kembali.


"Dek." Panggil Riza kemudian segera menutup mulutnya melihat sang istri tertidur pulas sambil meringkuk seperti anak kecil. Ia tersenyum lalu mengusap pipi istrinya yang tampak basah karena bekas air mata. Helaan napas keluar dari mulut pria itu. Sebenarnya Ia tak tega. Namun Jihan yang asam lambungnya sering kambuh membuat Ia harus tegas untuk mengatur pola makan wanita itu.

__ADS_1


"Ibu." Juma langsung memeluk Ibunya saat wanita itu datang. "Ngambeknya sudah Bu?" Tanya Jalwa sambil terkikik. "Ayah kalian menyebalkan." Jawabnya sembari mengajak Juma untuk duduk bergabung. "Lagian Mama sudah tau sakit lambung makan yang macam macam." Sahut Julian. "Mama kan pengen." Keluh Jihan. "Iya tau. Tapi ingat kondisi juga dong." Papa yang baru datang ikut duduk bersama anak dan cucu cucunya.


Makan siang sedang berlangsung. Riza ikut bergabung setelah menyiapkan nasi padang yang Ia beli tadi untuk sang istri. "Mas. Kok lauknya cuman telur dadar, rendang sama ayam bakar. Yang lainnya mana?" Tanya Jihan di bumbui dengan protes. "Yang lainnya pedas, kamu nggak boleh makan." Jawab Riza. "Ayo dimakan." Lanjutnya mulai menyuapi Sang istri yang sedang menyuapi Juma. "Kaya bukan makan nasi padang." Keluh Jihan. "Ini tatap nasi padang Dek. Hanya lauknya saja tidak lengkap. Sudah, ayo makan." Ia melanjutkan menyuapi istrinya.


Riza sedang berada di ruang kerjanya. Pria itu membuka kotak berisi sisa uang untuk membelikan kalung Jihan kemarin. Hanya kebutuhan dapur saja yang bisa Ia tangani. Bahkan urusan asuransi keluarga saja Jihan yang tanggung. "Bismillah semoga bisa." Gumamnya pelan memperhatikan lipatan kertas hasil tabungannya yang baru berjumlah 5 juta lima ratus ribu. "Mas." Panggil Jihan memasuki ruangan membuat Riza buru buru menyembunyikan. "Ada apa hm?" Tanya Pria itu sambil memeluk pinggang sang istri yang kini sudah berdiri di dekatnya. "Kamu lagi ngapain?" Tanya Jihan balik. "Nggak lagi ngapa ngapain. Cuma periksa email masuk saja." Bohong Riza. "Pengen sawo." Kata Jihan sambil tersenyum menatap suaminya. "Sekarang apa lagi musim sih Dek. Coba Mas carikan." Jawab Riza segera berdiri kemudian mengecup bibir istrinya.

__ADS_1


Jihan dan suaminya sekarang sudah berada di pasar. Wanita itu berjalan di gandeng Riza memperhatikan satu persatu penjual buah di pasar. "Itu." Tunjuk Jihan segera mengajak suaminya pergi ke penjual buah yang paling ujung.


Riza segera memilihkan untuk istrinya. Pria itu membeli tiga kilo sekaligus karena tau Jihan begitu menyukai buah manis itu. "Mau apa lagi?" Tawarnya. "Yang ini apa?" Taya Jihan memperhatikan buah bulat mirip lengkeng. "Itu langsat. Kamu nggak boleh makan. Asam itu rasanya." Jawab Riza sambil memilihkan buah lain meskipun sang istri tidak meminta.


__ADS_2