Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Terlalu Logis


__ADS_3

Mereka baru sampai di rumah malam hari. Jihan langsung menghampiri Chester dan memeluk hewan itu. "Ouh Ches. Aku merindukanmu." Ungkapnya sambil memeluk dan mengelus bulu Serigalanya yang lebat. "Kak. Ini oleh olehnya di taro dimana?" Tanya Mark yang sibuk menurunkan barang. "Taro situ saja. Nanti kakak bungkus. Nah sekalian ambilin kantong kresek di belakang yang warnanya putih." Tutur wanita itu dan Mark mengangguk menuruti kakaknya.


"Huft." Riza menghela napas sembari mendudukkan tubuhnya di sofa. "Nah. Minum." Jihan menghampiri suaminya sambil membawa sirup dingin. "Makasih. Perhatian banget." Riza menerima minum sembari memeluk pinggang istrinya. "Awas." Jihan memukul lengan suaminya hingga terlepas kemudian duduk mulai membungkus oleh oleh untuk dibagikan. "Buat siapa saja?" Tanya Riza namun istrinya tidak menanggapi. Pria itu dengan usil menggelitik pinggang istrinya dengan kaki karena tidak mendapat jawaban. "Bisa diem nggak?" Kesal Jihan. "Iyaa. Maap. Maap." Kata Riza ikut duduk bergabung di bawah. "Aku bantuin ya." Tawarnya langsung mendapat penolakan dari sang istri. "Awas ah. Nempel mulu. Risih tau." Jihan mendorong tubuh suaminya pelan. "Nggak mau." Kata Riza tetap di posisinya membuat sang istri pasrah.

__ADS_1


"Mark. Makan dulu." Jihan membangunkan adiknya yang sudah tertidur pulas. Remaja itu menggeliat tanpa ada niat untuk bangun. "Mark. Makan dulu. Kamu tadi melewatkan makan siang." Jihan mengguncangkan lengannya pelan. "Em...Iya." Jawabnya sambil mendudukkan diri dengan malas. "Kakak tunggu. Cuci muka dulu." Jihan mengecup kening Mark sebelum pergi.


Riza hanya memperhatikan istrinya yang sedang menyuapi Mark dengan wajah cemberut. Dia saja tidak pernah di suapi Jihan. Cemburu? ya iya. Iri? Pastinya. "Di kunyah Mark. Kamu telan bulat bulat ya." Kata Jihan. Mark mengangguk dengan malas karena masih sangat mengantuk.

__ADS_1


Pagi hari.


"Makasih banyak mbak Jihan." ucap semuanya begitu senang mendapat oleh oleh. "Hm sama sama." Jawabnya. "Lita. Turun. Kakak lelah pangku kamu daritadi." Meta menuturi putrinya yang terus menempel pada Jihan. Gadis kecil itu sangat rindu karena berhari hari tidak bertemu. "Biarin kenapa sih." Ucap Jihan membuat Meta hanya bisa pasrah.

__ADS_1


Semua telah kembali ke dapur termasuk Jihan yang tentunya akan memegang masalah dessert pesanan. "Tumben suamimu tidak ikut." Kata Meta mengajak wanita yang sedang mencetak kue itu mengobrol. "Dia pergi ke rumah mertuanya." Jawab Jihan tanpa mengalihkan fokus. "Gimana hubungan kalian?" Jihan menatap wanita itu sembari mengangkat kedua alisnya. "Maksudnya gimana nih?" Bukannya menjawab istri ustadz itu malah meminta penjelasan. "Ya hubungan kalian. Hubungan rumah tangga kalian." Jawabnya sedikit terbata. "Biasa aja. Apa yang spesial?" Mata Meta membola mendengar jawaban bosnya itu. Ia heran. Di lihat dari sehari hari Riza selalu bersikap manis pada Jihan. Semua wanita yang di perlakukan seperti itu pasti akan meleleh. Namun entah kenapa Jihan selalu seperti itu. "Hati kamu terbuat dari apa sih?" Meta mencebikkan bibirnya. "Ya seperti orang normal. Lobus kanan dan lobus kiri. Lobus kanan memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan lobus kiri. Dua bagian ini terpisah dengan fissura. Hatiku seperti hati orang pada umumnya." Jawab Jihan membuat Meta mendengus sebal. "Dasar. Terlalu logis." gumamnya pelan.


Di sisi lain Riza sedang duduk bersama mertua dan para Iparnya. "Kenapa Jihan nggak ikut Za?" Tanya Bunda. Semenjak Anaknya itu mendonorkan darah untuk sang Ayah mereka tidak pernah bertemu dengan Jihan. "Sedang sibuk Bun. Dia pergi ke Cafe pagi pagi tadi." Jawabnya merasa tidak enak karena tidak dapat mempertemukan kedua belah pihak itu. "Dia baik ke kamu kan Za?" Tanya Ayah memastikan. "Baik Yah. Baik banget. Dia melakukan perannya sebagai seorang istri dengan baik." Jawab Riza jujur karena meskipun Jihan ketus dan sedikit keras tapi wanita itu selalu melaksanakan semua tugasnya sebagai seorang istri dengan penuh tanggung jawab. "Jika dia salah tegur Za. Tapi jangan sampai menyakitinya. Bimbinglah dia." Pesan mertuanya dan Riza hanya mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2