Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Manis Sekali


__ADS_3

Riza dan Mark masih di depan musholla selesai melaksanakan sholat isya. "Kenapa Kak?" Tanya Mark karena sejak kemarin Iparnya itu sangat murung. "Nggak papa. Ayo pulang. Kasihan Kak Jihan di rumah sendirian." Ajak Riza lalu berpamitan pada yang lainnya juga.


Jihan masih seperti hari sebelumnya. Diam dan menjawab seadanya semua pertanyaan sang suami. Karena masalah di balkon itu loh Ia jadi ngambek berat. Padahal kan Riza sudah minta maaf berkali kali. "Dek. Jangan begini dong." Keluh pria itu sambil memeluk istrinya. Jihan melepaskan lengan suaminya yang sedang melingkar di pinggang lalu pergi meninggalkannya begitu saja.

__ADS_1


"Ibu." Dua bocah yang sedang ikut menonton bersama Omnya itu langsung berlari menghampiri Jihan. "Ayo tidur. Sudah jam 8." Kata Wanita itu sambil menggandeng putra putrinya. "Pamitan dulu sama Om Mark." Tuturnya sebelum mengajak mereka pergi. "Om kita mau tidur dulu ya. Selamat malam." Pamit keduanya agak cadel. "Uluh uluh..selamat malam sayang." Mark menciumi kedua pipi ponakannya yang menggemaskan.


Di sisi lain Riza sedang berada di ruang kerjanya menyelesaikan laporan nilai yang masih belum di masukkan. Meskipun sedang fokus tapi pikirannya selalu tertuju pada sang istri. Ia benar benar tersiksa harus di diami seperti ini. Seakan hidupnya hampa.....Uh dramatis sekale....pak ustadz. Tapi memang itulah kenyataannya.

__ADS_1


Riza memeluk dan menciumi seluruh wajah istrinya. Ia begitu terharu mendapat kejutan seperti ini. Sebuah kue cantik sudah ada di depan keduanya. Lilin juga sudah padam menandakan sudah di tiup yang berulang tahun. "Kamu tega bikin Mas tersiksa." Ucap Riza menatap wajah cantik Istrinya dalam dalam. "Tapi manis kan. Kamu dapat ciuman lama."Jawab Jihan membuat suaminya tersenyum. Ini pertama kalinya Jihan menciumnya dan itu sangat manis dan berkesan. "Mau lagi." Riza mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. "Sebelum itu aku mau kasih hadiah ke kamu Mas." Jihan meraih sebuah kotak dari bawah meja dan memberikan pada suaminya. "Sayang. Ini sangat mahal." Ucap Riza menerima parfum dari istrinya. "Terimakasih." Pria itu memeluk dan menciumi Jihan lagi. "Aku minta hadiah lagi...."Bisik Riza mempunyai makna lain.


Di suasana kamar yang temaram Riza berada di atas tubuh istrinya setelah kedua insan itu sama sama sudah membersihkan diri dan berwudhu. Pria itu mulai mengecup ubun ubun sang istri dan mencumbu tubuh indah yang sudah naked di bahannya. "Mas mencintaimu Dek. Sayang." Ucap Riza memulai aksinya ketika di rasa sang istri sudah siap. Suara dari kedua pasangan halal itu memenuhi ruangan yang kedap suara. Keringat membasahi tubuh menjadi saksi ibadah penuh cinta malam ini. Riza menggulingkan tubuhnya di samping Jihan kemudian memeluk tubuh polos istrinya di bawah selimut. "Terimakasih." Ucapnya mengecup bibir istrinya beberapa kali kemudian segera beranjak untuk menyiapkan air mandi.

__ADS_1


Riza mengeringkan rambut Jihan yang masih basah dengan handuk kecil yang Ia bawa. Senyuman tak pernah luntur dari bibir pria itu. Hari ini begitu membahagiakan. "Jangan senyum terus Mas. Bikin takut tau nggak." Ucapnya menggoda pria itu. "Gimana Sih. Mas kan sedang bahagia Dek." Riza sambil mengecup bibir Jihan dengan singkat kemudian melanjutkan kegiatannya lagi. "Mas cinta banget Dek sama kamu. Di diami seperti itu membuat Mas tak berdaya." Ucap Riza memeluk istrinya. "Maaf Mas. Aku nggak bermaksud." Jawab Jihan merasa kasihan. "Tidak apa tapi hadiahnya kan plus plus. Terimakasih sayang. Mas bersyukur di berikan istri luar biasa seperti kamu. Mas janji akan membahagiakan dan melindungi kamu. Terimakasih sudah menjadi wanita yang selalu ada untuk Mas. Memberikan Mas kebahagiaan dan kehidupan yang Alhamdulillah lengkap. Mas sangat bersyukur." ungkapnya penuh kesungguhan "Duh pak Ustadz mulutnya makin manis tiap hari." Jawab Jihan merusak momen romantis yang tercipta. "Kamu panggil Mas apa?" Riza menangkup wajah istrinya. "Pak ustadz." Riza mengecup bibir istrinya. "Ih Pak ustadz." Kata Jihan membuat dia mendapat ciuman lagi. "Ustadz nakal." Yang terakhir ini Riza menggendong tubuh istrinya. "Istriku yang nakal. Tapi Mas cinta." Ucap Riza lalu mencium bibir Jihan dengan penuh kelembutan.


__ADS_2