Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Kamu Nggak Kangen Aku Mas?


__ADS_3

"Selamat Pagi." Sapa Peter dengan senyuman yang mengembang menyambut kedatangan Jihan. "Pagi." Jawab wanita itu singkat mulai berjalan memasuki ruangan tempat keduanya akan membahas sesuatu.


Dua orang sedang duduk saling berhadapan. Peter memandangi Jihan yang sedang fokus membaca setiap berkas. "Tidak bisakah kau tidak seserius itu?" Tanyanya. Jihan mendongak menatap pria di depannya. Ia menatap rekan kerja sekaligus rivalnya itu dengan sengit. "Bisakah anda diam. Segera tandatangani ini dan urusan kita selesai." Ucap Jihan menyerahkan Map yang sudah di tandatangani nya. Tanpa menjawab Peter meraih berkas itu dan menandatanganinya dengan cepat. "Setelah ini. Mari kita jalan jalan." Ajaknya namun seketika langsung di tolak. "Kenapa? Suamimu tak akan tau. Lagipula hanya sekedar jalan jalan." Kata Peter. "Tau atau tidak tau tetap saja aku tidak mau. Lagipula aku masih ada urusan. Terimakasih." Jawab Jihan langsung pergi.

__ADS_1


Jihan kembali ke kamar hotel setelah urusannya selesai. Ia menyuruh Dina untuk membeli oleh oleh karena terlalu malas untuk keluar keluar. Wanita itu meraih ponselnya yang bergetar. "Ya sayang." Ucap Jihan saat mengangkat panggilan dari anak bungsunya. "Ibu kapan pulang?" Tanya remaja di sebrang sana. "Nanti malam. Ini masih siang. Kamu sudah pulang sekolah?" Jihan menidurkan tubuhnya di ranjang. "Sudah. Baru saja sampai rumah." Jawabnya. "Ayah sama kakak sudah pulang?" Ia rindu suaminya itu karena tak menghubungi semenjak kemarin. "Belum. Tapi kakak sudah pulang. Kata Kakak Ayah sedang rapat dengan dosen lainnya." Jihan mengangguk. "Yasudah. Kamu ganti baju terus makan siang. Tolong ingatkan kakek untuk minum Vitaminnya." Pesan Jihan.


Malam hari keluarga sedang menunggu kedatangan Jihan di bandara. "Ibu." Panggil Juma langsung memeluk wanita yang sedang menyeret kopernya itu. "Kita kangen." Ucap Ketiga anaknya. "Ibu juga kangen." Jawab Jihan. "Kamu nggak kangen aku Mas?" Tanyanya melihat Riza hanya diam mematung di tempat. Pria itu mengangguk sambil tersenyum tipis kemudian ikut memeluk sang Istri.

__ADS_1


Tiga puluh menit perjalanan Jihan dan keluarga sampai di rumah. Wanita itu langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri untuk segera istirahat karena lelah. "Sudah tidur." Gumamnya melihat Riza sudah tertidur pulas di atas ranjang. Ia ikut naik dan memeluk Sang suami yang memunggunginya. Riza membuka mata di cahaya yang temaram. Hatinya bergetar hebat. Bukan maksudnya mengabaikan Jihan. Namun Ia benar benar kalut dengan permasalahan ini. "Maaf." Batinnya dalam hati.


"Mbak Jihan. Biar Bibi aja yang siapin sarapan. Mbak Jihan pasti capek semalam baru pulang." Wanita itu menggeleng sambil tersenyum. "Enggak capek kok Bi." Jawabnya. "Kita masak nasi uduk ya Bi. Lama nggak makan nasi uduk jadi kepengen." Kata Jihan mengeluarkan ayam dari lemari es. "Iya Mbak." Jawab Bibi.

__ADS_1


Papa tersenyum melihat kedatangan putrinya. "Nggak olahraga?" Tanya Pria paruh baya itu karena heran Jihan datang sarapan tepat waktu. "Libur Pa. Sesekali." Jawabnya sambil duduk di dekat suami. Ia langsung mengambilkan makanan untuk suami, anak anak dan juga Papa. "Gimana proyeknya lancar?" Jihan mengangguk menanggapi Papanya. "Alhamdulillah. Lancar." Jihan meletakkan piring di depan suaminya. "Em...Jaffan. Nanti suruh pak Budi antar oleh oleh yang sudah Ibu kemas ya. Ibu sedang malas keluar keluar." Remaja itu mengangguk menanggapi Ibunya karena mulut sedang penuh.


"Kakak." Mark menghampiri kakak dan para ponakannya yang sedang berkumpul di ruang keluarga. "Istri sama anak kamu mana?" Tanyanya. "Lagi di panti. Ada acara katanya." Jawab Mark. "Oh iya. Makasih oleh olehnya." Ucapnya sambil memeluk Jihan. "Om ngapain?" Tanya Juma yang baru kembali mengambil eskrim. "Kenapa bagaimana?" Tanya Mark balik pada ponakannya. "Ngapain peluk peluk Ibu aku. Minggir." Usirnya. "Minggir dulu Mark. Kakak mau makan eskrim." Jihan mendorong tubuh Sang adik yang masih memeluknya. "Huh." Kesal Mark langsung duduk di sofa. "Kak Riza mana?" Tanyanya merasa heran karena Pria itu tumben tak menempel pada istrinya. "Lagi di ruko." Jawab Jaffan.

__ADS_1


__ADS_2