
Jihan membenarkan pakaian suami dan anak anaknya. "Acaranya nanti selesai jam 10. Kalian jumatan terus habis itu baru berangkat ke puncak." Jelas wanita itu. "Sudah. Ayo berangkat." Ucapnya sedikit berlari mendahului mereka. "Hati hati Dek." Riza khawatir istrinya terjatuh karena sedang menggunakan gaun formal dengan potongan lurus dan high hills yang membatasi gerak.
"Selamat datang Bu Jihan dan kelurga." Sambut Satria melihat kedatangan atasannya sambil menyalami. "Iya. Makasih sudah diingatkan tadi. Aku benar benar lupa." Jawab Wanita itu sambil mengehela napas. Mata Satri menelisik. Ia langsung tertuju pada sosok asing di antara anak anak Jihan yang lain. "Ini Dika. Anak aku." Tanpa menunggu pertanyaan Jihan memilih untuk angkat bicara. "Silahkan duduk. Mejanya sudah disiapkan. Mari saya antar." Ucapnya berjalan duluan.
Riza menggenggam erat tangan istrinya. Ia merasa tak nyaman berada di tempat yang di penuhi kaum elit seperti ini. Pria pria berkelas dengan wajah tampan dan tegas mereka. Kaum intelek dengan kemampuan yang tak diragukan lagi. Ada juga yang masih muda. Tak jarang mereka mencuri curi pandang pada istrinya dan Riza menyadari itu. Baru pertama kalinya Ia datang di acara seperti ini. Jihan berkali kali meminta menemani pun Ia selalu menolak karena Ia tak percaya diri. Memang pakaian yang di kenakan anak anak dan dirinya mahal. Namun siapa yang tidak tau jika pekerjaannya seorang dosen dengan istri pengusaha kaya raya dengan gelar CEO di perusahaan raksasa. Semuanya mungkin juga berpikir pakaian branded yang Ia kenakan pasti dari Jihan tapi mereka benar dan memang itu kenyataannya.
__ADS_1
Sama halnya dengan Riza. Dika juga hanya diam. Ia tak menyangka akan diajak datang ke tempat seperti ini dan di perkenalkan sebagai anak oleh Jihan. "Dika kamu tidak papa?" Tanya Jihan. "Tidak Bu." Jawabnya sambil tersenyum.
Jihan naik ke atas panggung untuk mengucapkan sambutan. "Selamat pagi menjelang siang semuanya." Sapa wanita itu sambil tersenyum ramah. "Sebelumnya saya selaku CEO ingin mengucapkan terimakasih untuk Tuan dan Nyonya sudah hadir dalam acara peresmian dan pembukaan anakan perusahaan CEA group. Terimakasih juga untuk semua anggota perusahaan baik yang jabatan maupun non jabatan yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Karena effort luar biasa dari semuanya kita mampu berjaya hingga sekarang. Saya berharap kami akan terus menepati rating puncak dan memuaskan konsumen dari segala aspek baik kualitas maupun pelayanan yang kami berikan. Itu semua bukan semata mata untuk meraih keuntungan belaka. Saya masih berpegang teguh pada visi dan misi saya yaitu untuk kesejahteraan para karyawan. Jika mereka semangat maka akan menghasilkan suatu yang memuaskan pula. Kesejahteraan bukan hanya soal materi namun perhatian kecil juga merupakan aspek penting hingga akan membuat mereka bekerja dengan bahagia. Inilah yang dinamakan strategi marketing yang sejalan dengan nurani. Tuan dan Nyonya sekalian, terimakasih selalu percaya kepada kami. Kami akan menjaga dan terus meningkatkan kualitas. Kami besar namun masih butuh bimbingan. Banyak yang lebih senior dan tentunya lebih berpengalaman. Kami masih harus banyak belajar. Mohon dukungan dan bimbingannya. Sekali lagi terimakasih telah melewati bertahun tahun degan setia mengiringi kami. Selamat siang. Selamat menikmati hidangan spesial dari kami Yang setia berhak mendapatkan yang terbaik." Ucap Jihan mendapat tepuk tangan meriah dari semua orang. Mereka semua terkejut bukan main mendapatkan emas sebagai tanda mata acara hari ini. Itu semua Jihan lakukan sebagai ucapan terimakasihnya karena mereka yang hadir hari ini adalah orang orang yang menemani Jihan dari nol sampai bisa membangun perusahaan sebesar ini.
"Kamu kenapa sih Dek lari lari." Omel Riza menghampiri istrinya yang duduk di dapur sambil minum. "Haus." Jawabnya. "Ada ada aja." Gumam pria itu membantu melepas high hills istrinya.
__ADS_1
Jihan memasukkan semua bekal ke dalam tas. "Ini Jason bawa keluar ya Bu." Ucap Remaja tampan itu. "iya." Jawab Jihan. "Biar Dika yang bawa Bu." Ia meraih tas yang di bawa Ibunya untuk membantu membawa. "Terimakasih." Ucap Jihan sambil tersenyum. "Sama sama Bu." Jawab Dika mengikuti langkah kakaknya.
Mereka dalam perjalanan menuju puncak. Papa kali ini juga ikut duduk paling belakang bersama kedua cucunya. Jason yang dan di sampingnya ada Julian. Jihan duduk bersama Jalwa Juma dan suami. Mereka memang menggunakan mobil keluarga jadi longgar dan tidak berdesakan. "Juma jangan minum terus. Kebelet pipis kakak ogah berhenti." Kata Jason memperhatikan adiknya daro spion tengah. "Juma haus." Jawabnya menutup kembali botol minum. "Kakek. Kakek tumben ikut." Kata Juma berbalik menatap kakeknya. "Kakek pengen minum teh hijau." Jawabnya asal. "Kan di rumah ada. Ibu juga setiap hari bikinkan." Pria paruh baya itu tersenyum dengan tingkah cucunya. "Kakek pengen petik sendiri dari kebun." Juma mengangguk. "Duduk yang benar." Riza menepuk bokong putranya. "Ih Ayah." Keluh Juma. "Duduk hadap depan." Juma yang cemberut langsung menuruti perintah Ayahnya. Bocah tampan itu duduk bersandar pada sang Ibu menghadap ke Ayahnya. "Kamu itu makan tempat." Keluh Riza. "Sudah. Kalian nggak bisa akur ya." Jihan gemas sendiri dengan keduanya. "Dia Dek." Pria itu tak mau disalahkan. "Sama saja kalian itu. Jangan saling menuding." Jawab Jihan tak memihak.
"Masih lama ya Bu?" Tanya Jalwa yang terlihat sangat mengantuk. "Satu jam lagi sampai. Kamu tidur saja nanti Ibu bangunkan." Jawab Jihan. "Dika kalau ngantuk juga tidur Dik." Lanjut wanita itu. "Iya Bu." Jawabnya.
__ADS_1