
Jaffan dan adik adiknya menghampiri Riza yang tumben sekali duduk sendiri tanpa ditemani istri tercinta. "Ibu mana Yah?" Tanya remaja itu mewakili kedua saudaranya. "Lagi perawatan di ruangannya. Seperti biasa dokter kecantikan dan para dayangnya kan datang dua Minggu sekali." Jawab Riza sambil menghela napas. Sultan bebas. Yak Kan? Tidak perlu datang ke klinik. Dokternya langsung diundang ke rumah. Semakin hari istrinya Jihan makin banyak perawatan, rajin olahraga dan itu semua membuat wanita itu terlihat seumuran dengan putrinya. Nah...Kalau Riza. Miris. Dia sudah terlihat tua. Rambutnya juga beberapa sudah memutih seperti kembang jambu yang di tabur di atas kepala.
__ADS_1
Riza mengalihkan pandangannya melihat Jihan baru datang. Tubuh wanita itu begitu mulus dengan wangi semerbak yang menenangkan. "Kenapa buang muka begitu?" Sindir Jihan sambil mengajak anak anak makan rujak yang Ia bawa. "Nggak." Jawab Riza singkat. "Kenapa Ayah kalian?" Tanya Jihan namun ketiganya menggeleng. "Sudah selesai perawatannya?" Tanya Riza kini menatap wajah Jihan yang begitu cantik berseri. Kulitnya juga kencang dan mulus saat bergesekan dengan lengannya. "Yuk makan. Jangan melongo." Kata Jihan memasukkan potongan bengkuang ke dalam mulut suaminya yang terbuka. "Uh. Pedes Dek." Keluhnya. "Eh...Maaf Mas." Jihan langsung memberi minum untuk suaminya. "Masih pedes?" Tanya Wanita itu khawatir. "Sudah tidak." Jawab Riza sambil tersenyum senang melihat ekspresi panik sang istri.
__ADS_1
Siang hari sosok wanita sedang menunggangi kuda gagahnya sembari membawa busur panah. Riza menatap kagum istrinya namun juga sangat kesal. Berulang kali di beritahu untuk tidak bermain dengan kuda hitam itu namun Jihan tetap bersikeras. Bahkan sekarang wanita itu membawa serta busur panah seperti di film film kolosal. "Ibu sangat keren." Kata Juma membidik ibunya yang sedang duduk gagah di punggung kuda dengan kameranya. "Ayah Lihat saja. Ini akan luar biasa." Kata Jaffan mengajak pria itu untuk duduk.
__ADS_1
Semuanya berkumpul menikmatinya es buah yang di buat Riza. "Kakek mana?" Tanya Juma. "Kakek lagi istirahat di kamar." Jawab Jihan minum es sambil di suapi suaminya. "Ibu. Kenapa Ibu membebaskan kita dalam memilih pendidikan. Kalau Ayah kan memaksa kita untuk ke pesantren." Tanya Jaffan. "Ibu itu memberikan kebebasan agar kalian nyaman dan tidak merasa tertekan. Buat apa ke pesantren kalau niat dalam hati saja tidak ada. Semua keberhasilan itu datang karena ada niat tulus dari hati. Nah. Kalian niat saja tidak ada maka akan percuma. Namun jangan di salah artikan Ibu memberikan kebebasan untuk kalian. Semuanya ada batasannya. Kalian sudah bisa berpikir mana yang baik dan mana yang buruk. Ibu berharap dengan ini kalian bisa menjadi anak anak yang baik dan hidup penuh dengan kasih sayang tidak seperti Ibu dulu. Jadi tolong jaga kepercayaan Ibu. Tolong menadi anak anak yang bertanggung jawab menjaga amanah." Ucap Jihan membuat mereka terharu. "Kami akan menjaga kepercayaan Ibu." Jawab Ketiganya sambil memeluk Jihan. Riza tersenyum memang benar dulu Ia memaksa anak anak untuk ke pondok. Namun Istrinya memberikan pengertian dan Riza ikut setuju dengan apa yang menjadi pilihan ketiga putra putrinya.
__ADS_1
Riza meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri. "Kenapa hm?" Tanya wanita itu sembari mengusap kepala sang suami dengan lembut. "Kamu kaya seumuran dengan anak anak." Jawabnya sambil cemberut. "Kalau begini orang mengira aku bapaknya kamu." Lanjut Riza. "Heh. Katanya laki laki itu suka sama yang muda. Makannya pada punya sugar baby. Lah kamu di kasih yang muda malah mengeluh." Protes Jihan. "Bukan mengeluh dek. Insecure aja aku tuh." Jawabnya. Jihan tersenyum. "Mau lari kemana Mas. Hati aku sudah ada disini. Kamu jangan khawatir." Wanita itu tersenyum menunjuk dada Riza kemudian mengecup kening suaminya dengan lembut. Hati pria itu menghangat. Ia bahagia di masa tuanya dicintai seperti ini. Meskipun mempunyai banyak pilihan yang lebih Jihan tetap setia menemaninya.
__ADS_1