
"Tiga enam." Gumam Jihan memperhatikan angka di timbangan badan. "Berat kamu cuman tiga enam Dek. Astagfirullah. Anak SD ada empat puluh lebih ada. Kamu kok cuman tiga enam. Makan kamu susah sih." Ucap Riza tiba tiba sudah berdiri di belakang sang istri membuat wanita itu terkejut. "Mas bikin kaget." Ucap Wanita itu sambil menghela napas. "Pantesan ringan. Kaya bawa bantal." Ia mengangkat tubuh sang istri. "Ih..Turunin." Rengek Jihan. "Nggak mau." Jawab Riza sengaja untuk menggoda istrinya.
"Juma. Jalan sendiri. Ibu badannya kurus baru sembuh begitu minta gendong." Ucap Riza. "Biarin Mas." Jihan tetap menggendong anak bungsunya menghampiri Papa dan dan Jalwa yang sedang duduk bersama. "Yang lain kemana?" Tanya Jihan sambil duduk memangku putranya. "Tadi pamitnya main basket waktu kamu lagi tidur." Jawab Papa melepaskan kacamata bacanya. "Juma duduk sendiri." Tegur Jalwa kasihan melihat Ibunya duduk sambil memangku sang adik. "Nggak mau." Jawab Juma tidak mau turun. Jalwa menghela napas gemas sendiri dengan adiknya yang begitu manja.
__ADS_1
Riza memijit kaki istrinya pelan. "Nggak usah Mas." Keluh Jihan namun tidak di dengarkan oleh sang suami. "Lihat Pa. Kurus banget ya. Bobotnya cuman 36." Ucapnya mengadu pada mertua. "Harus minum jamu pahit itu biar napsu makan." Sahut Papa menanggapi. "Ih. Nggak mau ah." Jawab Jihan. "Minum susu saja Bu." Jalwa memberi saran. "Kan sudah Ayah belikan tapi Ibu kamu nggak mau minum. Katanya aneh rasanya." Kata Riza menanggapi putrinya. "Ibu begitu." Jalwa menghela napas ikut pusing sendiri dengan Ibunya yang sulit makan.
Jihan duduk menunggu suami dan anak anaknya yang sedang memasak sesuatu. "Sebenarnya kalian bikin apa sih?" Tanya wanita itu karena tidak di perbolehkan untuk melihat. "Ibu duduk saja. Nanti juga selesai." Jawab Jaffan kembali lagi fokus dengan kegiatannya. "Minum dulu Dek." Riza membawakan istrinya jus semangka dan duduk di samping wanita itu. "Nggak pakai es. Mana enak mas." Keluhnya. "Pilek kamu tuh. Es mulu. Nggak ada es." Jawabnya membuat sang istri berdecak. "Lihat pipi kamu. Di cubit juga nggak bisa. Makan Dek. Sakit begini kamu malah harus banyak makan." Riza mengusap pipi Jihan yang tampak tirus.
__ADS_1
Semua makanan sudah tersaji di meja. Anak anak menyuapi Ibunya untuk mencoba semua menu yang mereka buat. "Enak nggak Bu?" Tanya Jalwa. "Enak." Jawab Jihan sambil masih mengunyah. "Alhamdulillah kalau Ibu suka." Jaffan tersenyum senang. Usahanya dengan para saudara yang lain untuk membuat Ibunya mau makan tidak sia sia. Meskipun hanya beberapa suap namun Ia merasa lega akhirnya perut sang Ibu terisi.
"Hah...Hah...Hah..." Napas Riza terengah engah. Ia mempercepat temponya sembari bibir tetap menyatu pada bibir sang istri. "Akh...." Ucapnya mendongak menatap langit langit kamar saat mencapai puncak. Pria itu menggulingkan tubuh lelahnya yang penuh keringat di samping Jihan lalu mendekap wanita itu dengan erat. Usahanya tak sia sia. Terapi yang Ia lakukan benar benar mengembalikan staminanya. Ia lega bisa memberikan kepuasan kepada istrinya seperti dulu lagi. "Enak Dek?" Tanya Riza membuat Jihan mendongak menatap suaminya yang sedang tersenyum. "Menurut Mas?" Jihan enggan menjawab malah bertanya kembali. "Menurut Mas ini enak." Jawabnya sambil tangan memainkan milik istrinya yang ada di bawah sana. "Mau mandi Mas." Jihan tidak nyaman seperti ini. "Nanti dulu Dek. Istirahat dulu saja. Mas nanti siapkan airnya." Jawab Riza enggan melepaskan pelukan. "Ih...Nggak nyaman begini." Protes Jihan namun suaminya tidak peduli.
__ADS_1
Riza meletakkan istrinya di dalam bathup yang sudah diisi air hangat. Ia ikut masuk ke dalam sambil memangku Jihan. Menyabuni punggung mulus wanita itu dengan lembut. "Kamu kenapa Dek?" Tanya Riza melihat sang istri tiba tiba bersandar di dadanya. "Ngantuk." Jawab Jihan benar benar tak bisa mengendalikan rasa kantuknya padahal Ia sedang mandi. "Tunggu sebentar. Jangan tidur dulu. Belum mandi wajib." Ucap Riza.
Jihan sudah tertidur pulas dalam dekapan suaminya padahal baru beberapa menit berbaring. "Ngantuk banget ya." Gumam Riza sembari menepuk lembut punggung sang istri. "Terimakasih Sayang." Ia mengecup kepala Jihan beberapa kali lalu ikut memejamkan mata untuk menyusul ke alam mimpi.
__ADS_1