Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Seperempat Mabuk


__ADS_3

Tepat pukul satu malam Jihan mengetuk pintu rumah kontrakan Meta. Ia menghela napas beberapa kali karena tak kunjung di bukakan. "Malam malam begini. Kamu darimana?" tanya Meta khawatir segera menarik tangan gadis itu untuk masuk ke dalam. "Cari makan. Ternyata semuanya tutup." Jawabnya tidak jelas. "Kamu mabuk ya?" Tanyanya membantu membuka jaket yang sudah bau alkohol. Ia tau jika Jihan sudah seperempat tidak sadar. Untung saja tidak terjadi sesuatu saat dalam perjalanan menuju kesini. "Mandi dulu. Aku siapkan air." Wanita itu bergegas menuju kamar mandi setelah memberi Jihan air mineral untuk diminum.


Meta mengeringkan rambut Jihan yang sedang makan mie instan dengan lahap. Gadis itu sedaritadi merengek minta makan. Daripada memasak dan menjadi bahan ledekan. Membuatkannya mie adalah jalan yang tepat. "Masakan mu tumben enak. Atau lidahku jadi tak normal sehabis minum ya?" Ia tampak bertanya tanya kemudian melanjutkan makannya. "Terserah apa katamu. Itu kan mie instan. Bumbunya sudah diatur." Jawab Meta. "Segeralah tidur. Aku mau tidur. Besok harus bekerja. Jika terlambat nanti aku kena omel bosku yang galak." Lanjutnya menyindir namun Jihan tak peduli.


Di sisi lain Riza selesai melakukan sholat malam. Ia mendoakan sang istri agar gadis itu dilindungi dan dalam keadaan baik baik saja di luar sana. "Engkau yang maha membolak balikkan hati ya Allah. Luluhkanlah hati istri hamba. Buat hubungan kami seperti pernikahan pada umumnya agar kami mampu meraih ridhomu. Amin." Riza merasa sedikit tenang setelah menyampaikan keluh kesahnya pada sang pencipta.

__ADS_1


Pagi Hari.


"Kamu benar tidak mandi?" Tanya Meta memasuki mobil bersama putrinya. "Kenapa masih tanya. Aku mau mandi nanti di rumah. Semalam nggak bisa tidur cuma tidur sampai jam 3. Nanti mau lanjut tidur lagi. Rugi kalau mandi. Nanti bangun mandi lagi." Jawab Jihan sambil melajukan mobilnya. "Dasar. Jorok." Ucap wanita itu sambil memalingkan wajah.


Di rumah Jihan.

__ADS_1


Beberapa menit di dapur Jihan menghampiri suaminya di ruang makan sembari membawa nampan. "Makanlah." Katanya menyajikan sepiring pancake madu dengan potongan buah. "Kamu tidak makan?" Jihan menggeleng. "Aku sudah makan di luar." Jawabnya langsung bergegas pergi.


Riza tersenyum melihat istrinya sudah tertidur pulas di sofa. Ia mengecup kening Jihan pelan dan berlanjut ke bibir mungil lembut yang menggoda. "Aku berangkat Sayang. Assalamualaikum." Lirihnya berpamitan.


"Pak Riza." Panggil seorang berumur 20 an yang merupakan rekan kerjanya sesama dosen. Gadis berkerudung itu tersenyum menghampiri Riza yang baru turun dari mobil. Riza hanya mengangguk sembari tersenyum tipis menanggapi. Keduanya sering di jodohkan oleh para mahasiswa dan dosen membuat Riza tak nyaman karena takut nanti ada fitnah. "Saya duluan Bu." Pamitnya segera pergi. "Tunggu pak." Zahra memegang tangan Riza. "Ah maaf." Katanya merasa bersalah dan segera melepaskan. "Ada apa Bu?" Tanya Riza pelan. "Hari ini bisa tidak kita selesaikan pekerjaan kita yang sempat tertunda?" Tanyanya hanya mendapat anggukan. "Kita kerjakan di taman dekat cafe itu ya pak. Disana ada gazebonya." Kata Zahra dan lagi lagi Riza hanya mengangguk.

__ADS_1


Di sisi lain Jihan yang masih tidur harus terganggu dengan ponselnya yang sedaritadi bergetar. "Um...ada apa boy?" Tanyanya dengan suara serak dan malas. "Kan sudah kakak bilang akan jemput. Kenapa kesini sendiri." Ia bergegas mendudukkan diri. "Hm. Iya. Tunggu sebentar. Kakak mandi dulu." Jawabnya setelah itu segera mengakhiri panggilan. Jihan melangkahkan kaki dengan malas menaiki tangga. Niatnya ingin tidur sampai siang harus tertunda karena....akh..Jika bertemu Jihan benar benar akan menarik teling pengacau itu sampai putus.


__ADS_2