
"Mas. Anaknya mau ke minimarket depan itu lo. Tolong anterin." Kata Jihan yang sedang sibuk memasak di bantu Bibi. "Maunya sama Ibu." Kata Jalwa. "Tuh kan Dek. Dengar sendiri. Maunya sama kamu." Jihan menghela napas kemudian segera mencuci tangannya. "Ini diteruskan ya Bi." Bibi mengangguk. "Iya Mbak." Jawabnya sambil tersenyum. "Kalian mau beli apa?" Tanya Jihan menghampiri kedua anaknya. "Mau beli cemilan. Semalam di habiskan Om Mark sama Paman Jaafar." Jawab Jaffan sambil menggenggam tangan sang Ibu. "Yasudah. Minta uang sama Ayah. Uang Ibu diatas. Malas mau ambil." Bocah tampan itu tersenyum kemudian menghampiri Ayahnya yang sedang bertelepon dnegan seseorang.
"Ayah. Minta uang. Aku sama Ibu mau ke minimarket." Riza mengangguk. "Sama Ayah Juga." Kata Pria itu memasukkan ponselnya ke saku celana. "Ayo Dek." Riza menggandeng tangan sang Istri namun Jalwa melepaskannya. "Kenapa?" Tanya Pria itu tidak terima. "Tangan Ibu dua. Yang kanan aku. Yang kiri kakak. Ayah tidak berhak." Gadis kecil itu menggandeng tangan Ibunya kemudian segera mengajak wanita hamil itu untuk segera berjalan. "Astaghfirullah. Nanti kalau tiga bagaimana? Nggak bisa ngebayangin." Gumam Riza segera menyusul anak anak dan istrinya.
__ADS_1
Sampai di minimarket Jihan membebaskan anaknya untuk membeli apa yang mereka suka. "Ibu. Beli ini boleh?" Jaffan menunjuk minuman bersoda. "Jangan sayang. Nggak baik untuk perut kamu. Yang lain saja. Ambil jus atau susu." Tutur Jihan sembari mengusap kepala dua bocah itu bergantian. "Kamu nggak beli apa apa Dek?" Tanya Riza melihat istirnya hanya mengikuti anak anak. "Nggak. Lagi nggak pengen beli apa apa." Jawabnya.
"Kalian darimana?" Tanya Mark saat Jihan dan anak anak memasuki rumah. "Dari minimarket. Minta jajan anak anak." Jawab wanita itu. "Kak Jaafar mana?" Tanyanya. "Lagi tidur di ruang keluarga tuh. Katanya merasa haus. Kaya bocah aja." Mark terkekeh. "Kalian tidur siang juga ya." Tutur Jihan pada anak anak. "Sama Ibu." Jawab keduanya kompak. "Iya. Ayo." Ia menggandeng tangan Jaffan dan Jalwa.
__ADS_1
Riza menghampiri istrinya yang berada di kamar anak anak. Wanita itu sudah tertidur lelap dalam pelukan putra putrinya. Tangan Riza terulur mengelus lembut wajah cantik sang istri. Ia paham Jihan pasti lelah. Mengurus suami, anak, adik, kakak, dan Papanya. Menyiapkan sahur dan berbuka serta membangunkan mereka semua. Meskipun banyak asisten rumah tangga namun Ia selalu menyiapkan segala kebutuhan. Menjalankan perannya sebagai wanita karir, Ibu dan Istri dengan sangat baik meskipun dalam kondisi hamil dan sedang puasa seperti ini. Jihan pandai membagi waktu. Semuanya serba terstruktur. Benar benar istri hebat. Beruntung Riza memiliki Jihan. Walaupun di awal tidak menerima pernikahan ini. Namun Jihan selalu bersikap baik sebagai seorang istri. Selalu menyiapkan dan menjalankan peran sebagaimana mestinya. "Terimakasih sayang. Untuk selalu berjuang." Ucap Riza pelan.
Suasana buka puasa tampak berbeda tanpa kehadiran Riza. Mereka lebih tenang karena biasanya pria itu yang selalu membuat keributan dan mengundang Omelan dari Jihan. "Dek minta sambalnya lagi." Kata Jaafar. "Sudah merah begitu mukanya. Nggak usah. Sakit perut nanti. Lagi puasa juga." Pria itu hanya bisa menurut saja pada adiknya.
__ADS_1
Jihan dan semua orang sedang berkumpul di halaman setelah sholat teraweh menemani anak anak yang sedang asyik bermain kembang api. "Jangan dekat dekat. Bahaya itu." Tegur wanita itu. "Iya Ibu " Jawab Jalwa langsung menggandeng tangan kembarannya untuk menghampiri sang Ibu. "Kakek. Kakek dulu punya kuda kan?" Tanya Jaffan. "Iya. Siapa yang cerita?" Tanya Pria paruh baya itu mengusap kepala cucu cucunya. "Ibu. Berapa kuda kakak?" Jawab Jalwa disambung pertanyaan. "Lima. Besar dan gagah. Ibu sering menungganginya bersama paman Mark." Jihan tersenyum melihat anak anaknya begitu antusias bertanya.
Riza baru pulang langsung menghampiri istrinya. "Assalamualaikum." Ucap Pria itu sembari mengecup kening Jihan. "Waalaikumsalam." Jawab semuanya. "Mobilnya di masukin sekalian. Kenapa di parkir di halaman." Ucap Wanita itu. "Nanti Dek. Nanti suruh pak Budi." Jawabnya sambil duduk. "Sekarang. Bisa sendiri kenapa suruh orang." Jihan menatap suaminya tajam. "Iya iya." Jawab Riza mengecup pipi sang istri kemudian berjalan cepat untuk memasukkan mobilnya ke parkiran. "Kakak ini." Ucap Mark sambil terkekeh melihat perlakuan Jihan pada suaminya. "Biarin. Kalau nggak di tegasin ngawur dia. Kemarin mobil sampai pagi nggak dimasukan." Jawab wanita itu kesal.
__ADS_1