Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Makin Tua Makin Galak


__ADS_3

Seorang wanita memacu kudanya diikuti dua anak tampannya yang tak ingin kalah. "Ibu menang." Ucapnya mengangkat bendera yang beberapa detik lalu di sambar. "Ibu bukan tandingan kita." Keluh Juma.


Riza berjalan tergesa gesa diikuti putrinya menuju tiga orang yang sepertinya salah satu dari mereka tidak punya telinga. Berkali kali Ia memperingati bahwa seharusnya Jihan tidak seperti ini namun rasanya sia sia. "Dek." Kesal pria itu menatap istrinya sambil berkacak pinggang. "Eh suamiku. Sudah selesai ngobrol dengan papa?" Tanyanya sambil cengengesan. "Turun." Tegar Riza sembari memberikan kode dengan tangganya. "Hehehe. Lucifer masih kangen sama aku." Jihan mengelus kuda hitam itu. "Turun." Perintahnya lebih tegas dari yang tadi. "Ah. Ayah kalian nggak asik." Ucap Jihan turun dengan tangan yang masih memegang tali kuda itu. "Lucifer. Ayo kembali." Ajaknya berjalan gontai menuntut kesayangannya yang begitu gagah.

__ADS_1


"Ayah nggak kasihan sama Ibu?" Tanya Juma sembari turun dari kudanya. "Makannya Ayah kasihan suruh dia diam saja bukan berpacu dengan kuda hitam menyeramkan itu." Jawab Riza. "Tapi Yah. Kebahagiaan Ibu ya disitu. Kalau Ayah tidak mengizinkannya sama saja Ayah membuat Ibu sedih." Kini Jaffan yang berbicara memberikan pengertian pada Ayahnya yang begitu posesif. "Bukannya Ayah tak ingin Ibu bahagia. Tapi kalian tau sendiri kan kondisi Ibu seperti apa." Riza menghela napasnya. Rasa bersalah itu tak pernah bisa hilang dari hatinya. "I Know. Tapi terlalu mengekang Ibu juga tidak baik Yah." Ucapnya tetap tidak setuju dengan sikap Sang Ayah. Kedua remaja tampan itu menyusul Ibunya yang melangkah cukup jauh.


Jihan duduk berkumpul bersama yang lain setelah mandi sebentar. "Ibu. Minta." Kata Juma begitu antusias ketika ibunya membawa satu kotak eskrim berukuran besar. "Iya. Ayo makan." Jawab Jihan duduk di samping anak anak. "Makan eskrim mulu." Riza menarik pipi istrinya. "Mau nggak?" Tawarnya. "Suapi." Jawab Pria itu sambil tersenyum. Jihan mengangguk kemudian menyuapi suami dan anak anaknya bergantian. "Pa. Papa nanti sore ada cek kesehatan loh." Pria itu menutup bukunya. "Minggu lalu kan sudah." Jihan mengangguk. "Lagi. Aku mau memastikan papa tulangnya, kolesterol, gula, dan tekanan darahnya stabil." Jawab Jihan. "Kamu itu. Papa baik baik saja." Ucapnya. "Papa nggak perlu periksa lagi. Papa kan selalu minum vitamin, olahraga dan makan sehat. Tidak usah khawatir." Lanjutnya lagi. Jihan hanya bisa menghela napas atas jawaban Papanya. Mau memaksa juga tidak mungkin. Pria paruh baya itu juga tipe orang yang keras kepala seperti dia.

__ADS_1


Malam hari Tiba. Riza cemberut karena harus ditinggal di rumah untuk menemani papa mertuanya karena Jihan dan anak anak pergi ke mall. "Kamu kenapa nggak ikut Za?" Tanya Pria paruh baya itu sambil menutup bukunya. "Jagain papa." Jawabnya sambil tersenyum. "Nggak perlu. Kamu susulin sana. Disini kan juga banyak orang. Jangan khawatir." Ucapnya sembari meraih buku lain. "Tapi Pa..." Kata Riza takut istrinya nanti mengira Ia mengabaikan mertuanya. "Nanti biar Papa yang ngomong." Ucap Pria itu membuat Riza mengangguk cepat. "Makasih Pa. Assalamualaikum." Riza mencium tangan mertuanya kemudian bergegas pergi untuk menyusul sang istri.


"Astaghfirullahaladzim." Ucap Jihan mengelus dada karena terkejut melihat suaminya tiba tiba datang. "Kok kamu disini Mas." Kata Wanita itu. "Papa yang suruh aku susulin kamu." Jawabnya. "Aku di suruh pulang sama Papa?" Tanyanya. "Bukan. Aku disuruh ikut kamu." Jawabnya sambil tersenyum. "Oh. Yasudah ayo kesana. Anak anak nunggu." Jihan menggandeng tangan suaminya.

__ADS_1


"Kalian sudah pesan?" Tanya Jihan menghampiri anak anak yang sedang duduk bersama. "Sudah Ibu. tinggal tunggu. Masih di bungkus katanya." Jawab Jaffan. "Kalian pesan kentang gorengnya berapa?" Tanyanya. "Tiga Bu." Juma mengacungkan tiga jarinya. "Kurang itu." Riza menatap istrinya tak percaya. "Mau kemana Dek?" Tanyanya. "Sembari menggenggam erat tangan wanita itu. "Mau pesan lagi satu." Jawabnya. "Sudah cukup. Makan tidak sehat terus." Tegas Riza. "Mas." Rengek Jihan. "Nggak boleh." Riza menatap istrinya dengan garang. "Ih. Makin tua makin galak." Gerutunya sambil cemberut.


__ADS_2