
Riza menuntun istrinya dengan hati hati memasuki rumah. Jihan sudah boleh pulang setelah siuman tadi. Kata dokter wanita itu hanya kelelahan dan harus banyak banyak istirahat. "Mau duduk di sofa saja." Kata Jihan berhenti melangkah. "Kamu harus istirahat Dek. Di kamar saja ya biar lebih nyaman." Ucap Riza dengan nada yang begitu lembut. Jihan tetap menggeleng kemudian duduk tanpa persetujuan suaminya. "Yasudah kalau begitu. Mas ke kamar dulu nanti kesini lagi." Ucapnya hanya di jawab anggukan oleh Jihan. Pria itu bergegas pergi setelah mengecup pucuk kepala istrinya. "Kamu nggak ganti baju Mark?" Tanyanya karena melihat remaja itu langsung merebahkan tubuhnya dengan nyaman di sofa. "Nanti saja kak. Sekalian mandi." Jawabnya sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Sayang." Seseorang menerobos masuk kemudian duduk di samping wanita itu. "Kamu tidak apa?" Tanyanya sambil mengecek keadaan. "Aku baik baik saja Pa. Jangan khawatir." Jawabnya sambil tersenyum. "Syukurlah. Papa senang kamu baik baik saja.Jangan terlalu lelah dan jangan memikirkan hal yang berat berat karna kamu sedang hamil sekarang." Ucapnya sembari memeluk Jihan.
__ADS_1
Riza langsung menghampiri istri dan mertuanya. Ia mencium tangan papa Jihan dengan sopan. Meskipun bukan orang tua kandung Sang Istri. Namun Riza tau betapa pria itu sangat menyayangi Jihan sepeti anak sendiri. "Papa sudah lama?" Tanya Riza sambil duduk di samping istrinya. "Belum lama. Baru beberapa menit." Jawabnya sambil tersenyum. Ia tau Riza orang yang tepat untuk putrinya. Riza merupakan sosok pria yang lembut dan penuh kasih. Inilah yang membuatnya tenang melihat Jihan bersanding dengan pria itu. "Kamu ingin sesuatu Sayang? Papa akan berikan apapun yang kamu mau." Ucapnya namun Jihan menggeleng. Ia benar benar tidak menginginkan apapun sekarang.
__ADS_1
Suasana makan malam tampak ramai dari biasanya karena keluarga Meta ikut bergabung sekalian menjenguk Jihan. "Eh....Kamu sedang hamil jangan pakai sambal. Makan ayam sama nasi atau sayur saja. Jangan sambal." Meta segera meletakkan sambal jauh dari Jihan. "Memangnya kenapa? Kemarin kemarin aku makan sambal boleh." Ucap Jihan. "Itu beda. Ini pedas dari cabai rawit. Sudahlah menurut saja. Ini juga untuk kebaikan kamu." Jihan menghela napasnya hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Mereka sedang mengobrol setelah makan malam usai. Jihan makan buah di suapi oleh suaminya. Meta menghela napas. Sekarang bukan hanya Lita. Gita pun ikut ikutan menempel pada Jihan. Malah anak sambungnya itu lebih manja pada Jihan ketimbang padanya atau pada papanya. "Kamu menggunakan sihir apa?" Tanya Meta membuat ibu hamil itu mengernyitkan kening karena kebingungan. "Iya. Kenapa anak anakku nempel terus sama kamu. Padalah kamu itu galak loh." Ucap Meta membuat Jihan tersenyum mengejek. "Bilang saja iri." Ucapnya membanggakan diri. "Haish...Gadis sepertimu kenapa bisa mendapatkan ustadz Riza sih." Kata Meta membuat mereka menahan tawa. "Aku..." Jihan menunjuk dirinya sendiri. "Siapa yang mendapatkan dia? Dia yang mendapatkanku." Ucapnya dengan enteng. "Tanya sendiri kalau tidak percaya." Lanjutnya membuat Riza mengangguk sambil tersenyum. Toh memang dia yang mengejar Jihan. "Kak Jihan. Adiknya cewek atau cowok?" Tanya Lita mengusap perut Jihan diikuti saudara tirinya. "Belum tau. Ada dua di dalam. Cewek semua boleh. Cowok semua boleh. Sepasang Cewek Cowok juga boleh." Jawab Jihan membuat kedua bocah itu mengangguk. "Kalau Gita minta satu boleh?" Ucapnya mampu membuat Wanita itu tertawa. "Coba tanya sama Om Riza. Boleh tidak." Gita menatap suami dari teman Mamanya. "Jangan dong. Ini kan anak anak Om. Kalau mau disayang boleh. Tapi kalau di bawa pulang jangan. Coba minta sama Mama sama Papa." Ucap Riza membuat Rudi yang sedang minum tersedak. "Belum ada rencana mau tambah Ustadz. Kita masih mengulang masa pacaran. Dua ini saja sudah bikin kita kalang kabut." Ucapnya sambil terkekeh.
__ADS_1