Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Perjuangan


__ADS_3

Jihan sudah duduk dengan anak anaknya di ruang kerja. Wanita itu sengaja mengumpulkan mereka karena ingin menyampaikan sesuatu. "Ibu mau bicara sama kalian." Ucap Jihan begitu serius. "Jaffan, Jalwa. Ibu paham dan Ibu mengerti. Ibu juga masih ingat dulu kalian bilang tidak menginginkan adik. Ayah kalian juga begitu. Namun tidak di sangka Ibu mengandung. Bukan hal mudah memberikan kalian pengertian untuk bisa menerima kehadiran calon anggota baru keluarga kita. Ibu mengalami masa masa yang sulit. Karena Ibu pernah kecelakaan dulu, Ibu seringkali bolak balik ke rumah sakit tanpa kalian ketahui. Hati Ibu sakit saat dokter mengatakan jika lebih baik kandungan Ibu di gugurkan saja." Jihan menjada kalimatnya. Sementara mereka berdua terkejut baru mengetahui semua fakta ini.


"Ibu hanya merasakannya sendiri. Ibu selalu di desak tapi Ibu tetap ingin mempertahankan kandungan Ibu. Masa masa sulit saat mengandung juma terus berlanjut. Ibu bertengkar hebat dengan Ayah, Ibu sakit, dan Ibu juga hampir bercerai waktu itu. Ibu lagi lagi hanya merasakan sendiri bersama janin yang ada si perut Ibu. Saat melahirkan Juma pun tak selancar kalian. Jika kalian ingat, Ibu pernah tidak pulang selama lima hari. Itu karena Ibu tidak sadarkan diri. Namun Ibu merasa lega bisa melahirkan adik kalian dengan selamat. Oleh karena itu, jangan sakiti adik kalian. Lebih tepatnya jangan saling menyakiti satu sama lain. Juma masih anak anak seharusnya kalian paham. Dia sudah mengerti apa yang kalian ucapkan. Hati Ibu sakit mendengar dia berkata jika hanya Ibu yang menyayanginya. Jika keadaan seperti ini, Ibu tidak akan tenang jika meninggal sewaktu waktu. Ibu tau bagaimana rasanya tidak diinginkan. Ibu paham betul. Jadi apa yang dialami Juma juga Ibu merasakannya." Lanjut Jihan panjang lebar. "Jangan berkata seperti itu Ibu. Jaffan minta maaf. Jaffan tidak bisa menahan diri." Ia memeluk sang Ibu dengan erat diikuti saudara kembarnya.

__ADS_1


Jihan mengelus lembut pipi putra bungsunya yang masih tertidur pulas. Sejak kemarin Juma tampak murung. Ia enggan bicara pada kakaknya padahal Jaffan sudah berkali kali meminta maaf dan Juma juga bilang jika sudah memaafkan. "Belum bangun?" Tanya Riza ikut tidur memeluk istrinya dari belakang. "Belum." Jawab Jihan. "Dulu kamu nggak pengen Juma ada kan Mas? Apa sekarang juga masih begitu?" Riza menggeleng. "Tidak Dek. Aku menerimanya. Demi allah Mas menerimanya." Jawab Pria itu cepat. "Syukurlah. Aku tidak ingin ada yang menyakitinya. Bukan hanya Juma tapi semuanya. Aku tidak mau keluarga kita saling menyakiti." Ucap Jihan.


"Ibu. Kita mau kemana?" Tanya Juma saat dalam perjalanan bersama Ayah dan Ibunya. "Jalan jalan. Kamu mau kemanapun Ayah sama Ibu akan turuti." Jawab wanita itu untuk menghibur anaknya. "Mau ke pantai." Jawabnya sambil tersenyum. "Boleh. Antar pangeran kita ke pantai Mas." Kata Jihan. "Iya. Kita ke pantai." Riza tersenyum melihat bagaimana cara sang istri menghibur putra bungsunya.

__ADS_1


Riza dan Juma menggandeng tangan Jihan menyusuri bibir pantai. "Juma senang?" Tanya Jihan di jawab anggukan semangat. "Kita duduk dulu ya Dek. Capek." Keluh Riza. "Duduk disana ada yang jual kelapa muda." Ajak Jihan.


Malam hari Jihan sudah sampai rumah. "Jangan sampai bangun." Bisiknya saat Riza menggendong Juma masuk ke dalam rumah. "Kalian sudah makan?" Tanya Jihan pada anak anak yang menyambut kedatangannya. "Belum. Kita tunggu Ibu." Jawab Jalwa.

__ADS_1


Selesai bersih bersih sebentar Jihan dan suami langsung ikut bergabung untuk makan malam. "Sambelnya mau lagi dong Ma." Julian mendekatkan piringnya. "Wajah kamu sudah merah begitu. Jangan banyak banyak." Tegur Riza. "Enak Yah." Jawabnya sembari menahan pedas. "Awas kalau sakit perut." Jihan memperingati.


Riza menghampiri Istrinya yang masih duduk di balkon kamar. "Ayo tidur." Ajaknya duduk di samping wanita itu sambil memeluk. "Belum ngantuk Mas." Jawabnya. "Ada yang kamu pikirkan?" Tanya Riza mengelus lembut kepala Jihan yang kini ada di pangkuannya. "Tidak ada. Hanya belum mengantuk saja." Jawab wanita itu sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2