
Jihan bahagia menjalani perannya sebagai seorang Ibu di usia yang masih sangat muda. Temannya saja masih haha hihi jalan jalan atau bahkan masih kuliah. Namun Ia tak pernah menyesal. Mungkin memang ini jalan yang terbaik. Pagi hari selesai menyiapkan sarapan wanita itu segera memandikan kedua anaknya di temani sang suami. Hanya menemani ya. Tidak membantu. Riza hanya menggendong saja sambil menunggu giliran satunya selesai dimandikan. "Pinter ya. Tidak nangis. Tidak rewel." Ucap Jihan sambil menyabuni tubuh bayi cantik itu dengan hati hati. "Mas Carikan Baby sitter ya dek?" Tawarnya sudah berkali kali namun Jihan menolak. Riza menawari lagi siapa tahu Jihan kali ini setuju. Bukannya apa apa. Merawat anak kembar bukanlah hal yang mudah. Riza hanya takut istrinya kelelahan. Mana mertuanya tidak membantu seperti orang pada umumnya. Ya memang dia akui keluarga Al Rasyid itu agak lain. Lebih bisa dibilang menjengkelkan. "Nggak perlu Mas. Aku mau rawat anak anak aku sendiri." Jawabnya ternyata masih sama.
Semuanya sudah berkumpul di ruang makan. Hanya ada Riza, Istri dan adik iparnya karena semalam Papa pulang untuk mengurusi masalah penjualan hasil panen di perkebunan. "Kak." Panggil Mark tidak terlalu jelas karena sambil mengunyah makanannya. "Di telan dulu kenapa sih. Ga jelas tau." Ketus Jihan membuat suaminya tersenyum. "Ada uang cash nggak. Aku ada hutang sama teman aku 300 ribu kemarin." Jihan menatap adiknya sambil memincingkan mata. "Uang yang kakak kasih kurang? Kenapa bisa hutang?" Tanyanya meminta penjelasan. "Nggak. Kemarin aku nggak ada uang cash. Jadinya minjem dulu. Mau aku transfer dia nggak punya rekening." Jawabnya jujur. "Nih. Pakai uang ini. Segera bayar hutang. Itu lebih baik." Kata Riza meletakan 10 lembar seratus ribuan di atas meja. "Kebanyakan ini." Mark meraihnya sambil tersenyum membuat Jihan mendengus sebal. Ucapan dan ekspresi juga isi hati Mark berlainan. Jihan tau itu. Ia paham Mark girang karena sisanya pasti akan diberikan. "Simpan untuk kamu." Nah kan. Jawaban Riza dengan cepat diangguki oleh remaja itu. "Makasih kak." Ucapnya sambil tersenyum bahagia. "Sering sering begini." lanjutnya dalam hati karena uangnya di rekening akan utuh jika Riza memberi uang cash juga. Mark memang mendapat jatah uang jajan dari kakak dan kakak iparnya. Duh...hidup enak tambah enak nih....
__ADS_1
Jihan pergi ke kamar anak anak setelah memastikan suami dan adiknya berangkat. Wanita itu duduk sambil berceloteh pelan mendampingi si kembar yang tertidur pulas. Mendengar ponselnya berbunyi Ia segera menjauh agar tidak membuat kedua buah hatinya bangun.
Meta dan kedua anaknya sudah bersama Jihan saat ini. Wanita itu tadi menelpon untuk memberi kabar akan berkunjung. Mereka masih di kamar bayi duduk melingkar di karpet sambil menjaga Jaffan dan Jalwa. "Kak. Adeknya kok nggak bangun bangun?" Tanya Gita dengan lirih. "Baru minum susu. Kekenyangan terus tidur deh. Mungkin bangunnya nanti." Jawab Jihan membuat kedua bocah itu mengangguk paham. "Kita main disana ya." Kata mereka di jawab anggukan oleh dua wanita itu.
__ADS_1
Tinggal Jihan sendiri di rumah karena Meta sudah pulang di jemput suaminya tadi. "Mbak Jihan." Panggil seseorang dari luar pagar. "Iya." Jihan bergegas menghampiri. "Eh Bu Siti. Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya ramah. "Ah tidak mbak. Saya cuman mau antar rambutan. Lagi panen di rumah." Wanita itu memberikan sekresek besar buah rambutan. "Terimakasih ya Bu. Mari mampir dulu." Kata Jihan menawari. "Sama sama. Lain kali saja. Saya pulang dulu ya." Ucapnya sambil tersenyum sambil berpamitan.
Riza sedang bersama istrinya sedang duduk di halaman belakang sambil mengajak dua buah hati mereka. "Jangan banyak banyak Mark. Nanti batuk kamu." Tegur Riza memperhatikan Iparnya yang sedaritadi tak berhenti makan rambutan. "Enak. Di kebun papa ada nggak kak?" Jihan menggeleng pelan menanggapi adiknya. "Gelengan itu ada dua arti lho kak. Ada yang artinya enggak dan juga nggak tau. Nah kakak jawabannya yang mana nih?" Ucap Mark meminta penjelasan. "Nggak ada. Papa nggak tanam. Bikin kesal juga ya kamu. Kan kamu pernah pergi kesana sama kakak." Jihan mendengus sebal atas kecerewetan adiknya. Sementara Riza. Pria itu hanya diam menyaksikan pertengkaran kecil kakak beradik itu.
__ADS_1