
Jihan baru sampai di rumah bersama keluarganya di kejutkan dengan sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah. "Assalamualaikum." Ucap Jaafar menghampiri mereka yang baru keluar. "Waalaikumsalam." Jawab Riza kemudian mengajak iparnya untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Temui kakakmu dulu nak." Ucap Papa melihat Jihan sibuk membantunya menata barang. "Nanti Pa. Ini masih belum beres." Jawabnya. "Biar Papa saja. Kamu temui kakak kamu. Beri kesempatan pada orang yang mau berubah." Ucap Pria itu langsung di angguki oleh putrinya.
__ADS_1
Jihan membawa nampan menghampiri dua orang yang sedang mengobrol di ruang tengah. "Anak anak mana Mas?" Tanyanya. "Di belakang sama Mark. Lagi siram tanaman." Jawabnya lalu mempersilahkan Jaafar untuk minum teh dan makan kue yang dibawakan Sang Istri. "Aku ke dapur dulu." Pamit Jihan. "Maafkan Kakak dek." Ucap Jaafar sembari menggenggam pergelangan tangan adiknya. "Kakak mohon maafkan kakak." Ucapnya sembari menahan air mata agar tidak jatuh. Ia menyadari semua perlakuannya sangat keterlaluan dan sulit untuk dimaafkan. Namun Ia berharap Jihan dapat berbesar hati. "Sudah aku maafkan. Jangan tanya tanya terus. Bosen aku. Mau ke dapur dulu." Ucapnya pedas membuat Riza tersenyum. "Dia memaafkan aku kan?" Tanya Jaafar pada iparnya. "Apa yang di ucapkan itu yang ada di hatinya. Meskipun aku terbilang orang baru. Namun Aku cukup paham tentang itu kak." Jawab Riza.
Jihan sedang memasak untuk makan siang. "Lagi bikin apa Kak?" Tanya Mark menghampiri kakaknya. "Bikin soto. Sudah jadi sih. Tinggal rebus bihunnya aja." Jawab Jihan. "Kenapa basah begitu?" Tanyanya setelah membalikkan badan menatap rambut dan kaos adiknya yang basah. "Main sama anak anak tadi." Jawabnya. "Mandi sana. Sebentar lagi masuk waktu dhuhur. Habis itu makan siang." Mark mengangguk. Pemuda itu mengecup pipi kakaknya kemudian bergegas pergi.
__ADS_1
"Sudah main airnya. Jaffan, Kamu di tunggu Ayah ke mushola itu lo. Ayo mandi." Ucap Jihan melihat dua bocah itu masih asyik bermain selang air di belakang rumah. "Iya Ibu." Jawabnya patuh. "Katanya mau siram tanaman malah siram diri sendiri." Gumamnya sambil memberikan handuk pada anak anak.
Semuanya makan siang bersama setelah selesai sholat. Seperti biasa Jihan menyiapkan makan untuk mereka kemudian makan sambil menyuapi anak anak. "Jaafar. Kamu tinggal sendiri sekarang?" Tanya Papa Jihan. "Iya Om. Semenjak beberapa tahun lalu." Jawabnya. "Minta sambel." Jihan menggeleng menanggapi sang kakak. "Nggak usah macem macem. Perutnya sakit nanti. Baru juga beberapa hari sembuh. Mau sakit lagi?" Tanyanya. Jaafar menggeleng sambil tersenyum. Meskipun mulutnya pedas tapi Jihan sangat perhatian. "Progress pembangunan rumah kamu gimana Nak?" tanya Papa. "Belum lihat lagi Pa. Tapi terakhir kali Jihan kesana waktu itu masih pondasinya. Itu juga belum rampung." Jawab wanita itu sambil menyuapi kedua anaknya bergantian. "Sudah punya rumah kenapa bangun rumah lagi?" Tanya Jaafar menimbrung. "Kalau bosen disini bisa pindah pindah." Jawab Jihan membuat Riza menahan tawanya. "Ibu. Nggak mau pakai seledri." protes Jalwa. "Oh. Ada seledri nya ya tadi?" Tanya Jihan dan gadis kecil itu hanya mengangguk menanggapi Ibunya. "Nggak suka sayur ya?" Jalwa menggeleng. "Suka Paman. Tapi kalau seledri tidak. Baunya tidak enak." Jawabnya.
__ADS_1
Jihan akan menemani anak anak tidur siang membiarkan mereka mengobrol. "Pamitan dulu." Ucapnya selalu membiasakan. "Kita tidur siang dulu ya." Kata Keduanya mencium tangan Papa, Riza, Jaafar dan Mark bergantian. "Iya Sayang." Jaafar memeluk dan mencium kening kedua ponakannya.
"Ibu. Sekarang kenapa Paman baik sama kita?" Tanya Jalwa. "Mungkin sudah sadar. Sekarang ayo tidur. Nanti sore kita jalan jalan ke taman sama Kakek juga." Jawab Jihan agar mereka tidak bertanya macam macam. Keduanya mengangguk kemudian mulai memejamkan mata dalam dekapan Ibunya.
__ADS_1