
Riza sedang menemani istrinya berbelanja di mall. Wanita itu akan membagikan hadiah untuk para karyawan nya di cafe menjelang hari raya yang terhitung seminggu lagi. "Sudah lengkap. Tinggal bahan buat kue kering sama toplesnya sekalian." Ucap Jihan mengajak suaminya untuk pindah tempat.
Sampai di rumah Jihan bergegas menuju dapur untuk membuat kue. Sementara suami dan adiknya sedang menurunkan belanjaan. "Mau buat apa saja dek?" Tanya Riza menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan bahan. Jujur Ia merasa khawatir jika nanti Jihan kelelahan. Namun apa boleh buat. Keras kemauan sang istri tak mampu di tentangnya meskipun dengan bujuk rayu sekalipun. "Nastar, brownies kering, kukis, dan banyak lagi." Jawabnya sambil fokus menakar bahan. "Aku bantuin ya." Jihan mengangguk. "Sama aku juga kak." Mark ikut bergabung. "Kamu bikinnya sambil duduk saja dek. Nanti kalau butuh apa apa tinggal panggil Mas." Ucapnya sambil menuntun istrinya duduk di kursi.
__ADS_1
Pagi hari Jihan sudah berada di cafe bersama suaminya. Wanita itu membagikan THR dan bingkisan untuk semua karyawan. "Makasih Mbak. Ini banyak banget." Ucap mereka begitu bahagia. "Jadi pengen peluk." Celetuk salah satu dari mereka membuat Jihan tersenyum. "Ouh...kemari." Semuanya bergantian memeluk wanita hamil. "Eh....Yang laki laki jangan. Cari cari kesempatan saja. Astaghfirullah." Ucap Riza melihat chef Huda mendekat mengundang gelak tawa dari semua orang. "Kalau peluk nggak boleh. Cium boleh dong ustadz?" Godanya. "Jangan coba coba." Jawab Riza memeluk istrinya posesif.
Selesai dari Cafe Jihan dan suami pergi ke rumah Papa. Pria paruh baya itu berjalan cepat menghampiri putrinya yang baru turun dari mobil. "Sayang." Ucapnya sambil memeluk Jihan dengan hangat. "Pa." Riza mencium tangan mertuanya membuat pria itu tersenyum. "Jihan bawa kue buat papa." Kata wanita itu membuat Papanya melepas pelukan sambil menatap tajam. "Kamu bikin sendiri?" Tanyanya sambil bersedekap dada. "Kan papa sudah bilang jangan kecapean." Ucapnya kemudian menggandeng tangan Jihan untuk masuk ke rumah.
__ADS_1
Riza mengobrol berdua dengan Mertuanya sementara sang istri masih pergi ke kamar mandi sebentar. "Istrimu tidak bisa diam ya Za. Kamu pasti kuwalahan menjaganya." Ucap pria paruh baya itu menatap box kue kering di depannya. "Iya Pa. Riza sampai kalang kabut." Jawabnya sembari terkekeh. "Tapi papa salut karena kesabaran kamu." Ucapnya sambil menepuk punggung sang menantu.
Lima belas menit perjalanan mereka sudah sampai di rumah Meta. "Assalamualaikum." Ucap Jihan sambil mengetuk pintu. "Waalaikumsalam." Meta keluar bersama suaminya. "Jihan. Ustadz Riza. Mari masuk." Ajak Rudi. "Iya. Ayo masuk." Meta meraih tangan Jihan. "Nggak. Kita cuma mau antar kue kok." Ucap Jihan kemudian suaminya memberikan box kue yang di bawanya pada Rudi. "Yah. Kenapa nggak mampir dulu sih." Keluh Meta sembari memeluk adiknya. "Tuh. Minta pulang mulu daritadi." Ucap Jihan menyindir suaminya. "Daritadi belum istirahat. Aku khawatir." Ucap Riza mendapat anggukan dari pasangan suami istri itu. "Yasudah kalau begini aku juga setuju dengan ustadz Riza. Istirahat. Kamu jangan sampai kelelahan." Meta mencium kedua pipi wanita hamil itu sebelum berpisah.
__ADS_1
Sampai di rumah Jihan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. "Nggak mandi dulu Dek?" Ucap Riza sambil membawakan handuk untuk sang Istri. "Um...Nanti. Kamu duluan saja." Jawabnya sambil memainkan ponsel. "iya." Kata Pria itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang gerah.
Riza menghampiri istrinya yang sudah tertidur pulas. Perlahan Ia membernarkan posisi tidur Jihan dengan sangat berhati hati. Pria itu membersihkan tangan dan kaki sang istri dengan tissue basah lalu ikut berbaring setelah selesai. Jemarinya mengusap lembut rona alami di pipi Jihan. Riza sangat bersyukur karema kehidupannya begitu bahagia dengan kehadiran sang istri. Meskipun perjuangannya tidak mudah namun semua terbayar begitu manis. "Mas mencintaimu sayang." Gumamnya mengecup kening dan pipi Jihan bergantian.
__ADS_1