
Pagi hari. Barang barang Jihan sudah siap. Wanita itu turun ke bawah diikuti suaminya yang berjalan di belakang. Beberapa jam lagi keduanya akan berpisah. Jihan akan berangkat ke sekitar pukul 10 nanti. Riza tak rela. Namun mau bagaimana lagi. Ia juga tak ingin melarang.
"Pagi." Sapa Wanita itu memasuki ruang makan. "Pagi." Jawab mereka kompak. Jihan duduk memulai sarapannya. "Ibu nggak berubah pikiran?" Tanya Jaffan. "Semalam kita kan sudah sepakat." Jawab Jihan memasukan potongan sandwich ke dalam mulutnya. "Juma nggak kasih izin." Kata si bungsu membanting sendoknya hingga suara benturan nyaring dengan piring terdengar. "Juma. Tidak sopan seperti itu. Ada Ayah, Kakek dan kakak kakakmu." Tegur Jihan. "Pokoknya Juma nggak kasih ijin. Kalau Ibu bersikeras pergi Juma nggak mau ngomong sama Ibu. Juma nggak mau makan." Ucapnya kemudian berlalu pergi. Jihan menghela napas. Anaknya uang terakhir itu sangat.....Sangat sulit untuk di deskripsikan. Posesif, manja dan keras kepala parah yang di turun darinya.
__ADS_1
"Sayang. Buka pintunya." Jihan mengetuk pintu kamar Juma berkali kali namun tidak ada jawaban. "Sayang. Jangan begini." Ucap Jihan. "Kenapa Ibu masih di rumah? Penerbangan Ibu sebentar lagi. Kalau Ibu mau pergi pergi saja. Jangan pedulikan Juma." Jawabnya sembari terdengar suara isakan isakan kecil. "Ibu tidak pergi. Ibu di rumah." Kata Jihan sambil menghela napas. "Ibu sudah membatalkan pendakian. Ibu nggak jadi pergi." Lanjutnya lagi mencoba meyakinkan agar remaja tampan itu mau membuka pintu kamarnya. Benar saja. Pintu kamar Juma langsung terbuka. Mata si bungsu bengkak ketara sudah menangis cukup lama. Jihan tersenyum di peluk erat oleh putranya. "Ibu tidak boleh pergi. Ibu tidak boleh kemana mana." Ucapnya. "Yah. Karena si manja ini Ibu benar benar tidak jadi pergi. Ibu di rumah." Jawab Jihan mengecup kening Juma. Semua orang bersyukur. Apalagi Riza. Saat ini harus diakui anak terakhirnya itu sangat luar biasa karena bisa membuat istrinya tinggal. Ia berhutang budi pada Juma.
"Ibu. Sini biar Juma saja." Kata remaja itu menghampiri Jihan yang sedang menyiram tanaman bersama dua kakaknya. "Kenapa kamu?" Tanya Jaffan melihat adiknya begitu girang. "Nggak papa." Jawab Juma sambil tersenyum.
__ADS_1
Sore hari Jihan sudah memakai pakaian olahraganya. Wanita itu sedang mendribble bola berlarian kesana kemari dengan Juma. "Mereka memang sama. Sama sama keras kepala, tidak punya rasa lelah dan tidak bisa diam." Kata Riza di angguki oleh kedua putra putrinya yang duduk di sebelah. "Dari dulu Ibu memang begitu Yah?" Tanya Jaffan. "Iya." Jawab Riza. "Lihat mereka beralih." Kata Jalwa melihat Ibu dan adiknya kini sudah memegang raket. "Astaghfirullah. Sabar. Biarkan saja. Asal tidak pergi." Gerutu Riza.
"Kenapa pada melongo disini?" Tanya Mark yang baru datang bersama istri dan kedua anaknya. "Tuh." Tunjuk Jaffan. "Kakak." Panggil Mark membawa putranya untuk menghampiri wanita itu agar berhenti. "Eh. Adam. Musa." Sapanya. "Bibi." Dua bocah itu berlari menghampiri dan memeluk Jihan. "Jangan peluk. Lagi keringetan." Ucapnya. "Mbak Jihan." Zulfa tersenyum memeluk wanita luar biasa berstatus Iparnya itu. "Hey. Jangan peluk. Keringetan tau. Bau." Zulfa menggeleng. "Wangi kok." Jawabnya jujur. "Ya udah. Mandi dulu sebentar ya. Tunggu di dalam." Jihan berlari diikuti anaknya untuk mandi.
__ADS_1
Selesai mandi Jihan dan Juma menghampiri mereka yang sedang berkumpul di teras belakang rumah sambil membawa eskrim dan cemilan untuk dimakan bersama. "Katanya mau muncak?" Tanya Mark sambil terkekeh. "Ini. Bungsu ngambek." Jawab Jihan duduk bersama anak anak dan keponakannya mulai makan eskrim. "Dingin." Kata Musa di suapi Eskrim oleh Bibinya. Dua bocah laki laki itu selalu menempel dan duduk di pangkuan Jihan. "Oh iya mbak. Tadi di bawakan peyeum sama tape ketan hitam buatan Ibu di panti." Ucap Zulfa. Jihan tersenyum. "Makasih ya. Mas nanti goreng peyeum nya ya. Buatan kamu enak." Riza mengangguk menanggapi sang istri. "Mau di goreng sekarang?" Tanya Riza sambil mengecup kening Jihan. "Nanti. Ini masih makan eskrim." Jawab Jihan. "Kak. Ada telpon nih." Kata Mark. "Dari siapa?" Ayah dua anak itu melirik iparnya. "Peter." Jawab Mark membuat Jihan tersedak. "Siapa Peter?" Tanya Riza. "Rekan bisnis aku." Jawab Jihan merebut ponselnya dari Mark dan mengangkatnya.