
Jihan selesai menyiapkan menu sahur langsung menuju ke kamarnya untuk membangunkan Riza yang masih tidur. "Mas. Bangun. Sahur dulu." Kata Wanita itu mengguncangkan lengan suaminya. "Jam berapa sih Dek?" Tanya Riza langsung mendudukkan diri takut diomeli istrinya. "Jam 3. Bangun cuci muka. Kamu biasanya kan sholat dulu. Aku mau bangunin yang lain." Kata Wanita itu keluar kamar.
"Ayo bangun sayang. Segera cuci muka biar ngantuknya hilang." Jaffan dan Jalwa duduk kemudian segera turun dari ranjang. Keduanya menuju kamar mandi lalu mencuci muka bersama di temani Ibunya.
__ADS_1
Jihan menggandeng anak anaknya menuju ruang makan. Disana semuanya sudah berkumpul. "Masa masih ngantuk begitu. Tadi malam kan langsung tidur." Kata Jaafar. "Ayo segera sahur." Jihan langsung menyiapkan makan untuk semuanya. "Ibu suapi kalau gitu." Jaffan dan Jalwa mengangguk. Mereka begitu malas untuk makan. "Makan sendiri dong. Ibu kan juga mau makan." Tegur Riza namun keduanya menggeleng. "Aku suapi Dek." Kata pria itu makan sambil menyuapi istrinya. "Susunya jangan lupa di minum ya." Riza mengingatkan. "He'em." Jawab Jihan sambil mengunyah. "Nanti tidur lagi selesai sholat subuh. Ayah nggak mau besok besok ngantuk begini. Jadi Ibu yang repot kan." Tegur Riza. "Besok kita nggak ngantuk lagi kok Yah." Jawab mereka.
Pagi hari. Jihan duduk di ruang keluarga bersama yang lain membuatkan anak anaknya tidur lelap di sofa. "Bikin list dulu apa apa aja yang mau di beli." Kata wanita itu. "Memangnya berapa banyak yang mau di bagikan?" Tanya Mark. "Sekitar 250 orang. Pas seperti umur kakak." Jawabnya. "Isinya apa aja?" Kini Jaafar yang bertanya. "Ada minyak goreng, gula, beras, mie instan, telur, teh, kopi sama kurma kali ya." Papa hanya mengangguk setuju. "Yasudah pesan itu." Jihan meraih ponselnya kemudian menghubungi seseorang. "Cewek atau cowok Dek?" Tanya Riza. "Cowok. Jangan mulai lagi kamu. Mau tidur di luar lagi?" Tanyanya membuat Riza seketika menggeleng dengan cepat. "Bagus." Jihan berdiri sambil membawa catatannya. Wanita itu tampak mengobrol dengan seseorang kemudian menyebutkan semua pesanan yang sudah di daftar.
__ADS_1
"Dek. Kamu kenapa?" Tanya Riza melihat mata sembab istrinya. Pria itu menuntun Jihan untuk duduk di sofa. "Mas. Aku pengen Kak Jaafar tinggal sama kita." Jawab Jihan tiba tiba menangis lagi. "Dek. Iya boleh. Kenapa? jangan begini Dek. Kamu bikin Mas takut." Riza merengkuh tubuh sang istri membawa wanita itu dalam pelukannya. Jihan menceritakan semuanya yang di katakan kakaknya tadi. Riza menghela napas. Ia ikut prihatin dengan iparnya itu. "Sudah. Jangan menangis lagi." Ucapnya menenangkan sang istri. Pria itu mengecup pipi dan kening istrinya dengan lembut kemudian menangkup wajah Jihan. "Kamu nggak inget puasa." Jihan mencubit perut suaminya ketika pria itu hendak mencium bibirnya. "Astaghfirullah." Riza beristighfar ketika tersadar. "Nyebelin." Kata Jihan beranjak pergi.
Malam hari mereka baru saja selesai sholat teraweh. "Jangan lari lari nanti jatuh." Tegur Jihan. "Kakak ambil baju baju kakak kapan?" Tanya Jihan. "Besok saja. Sekarang lagi males banget." Jawab Jaafar. "Mau eskrim." Jalwa berlari memeluk perut Ibunya. "Hey. Jangan di tubruk. Nanti adiknya kaget." Tegur Mark. "Biar paman ambilkan." Kata Jaafar bergegas pergi untuk mengambilkan es krim kedua ponakannya.
__ADS_1