
Semuanya sedang sarapan bersama. Riza sudah berangkat tadi karena sedang mengurus acara di kampus. Tinggal Jihan, anak anak dan Papa. "Ibu jadi berangkat bareng kita kan?" Tanya Jalwa. "Iya. Jadi. Tapi Adek kalian mau mampir dulu ke Mall. Mau beli bola basket baru. Nggak papa?" Si kembar kompak mengangguk. "Nggak papa kok. Nanti pulangnya kita mampir." Jawab Jaffan.
"Pa. Kita berangkat dulu ya." Pamit Jihan mencium tangan pria paruh baya itu diikuti anak anaknya. "Papa mau dibawakan apa pulang nanti?" Tawar Jihan. "Nggak usah dibawakan apa apa. Papa nggak pengen apa apa." Jawabnya sambil tersenyum. "Yasudah kalau ada apa apa telpon Jihan. Kita berangkat dulu. Assalamualaikum." Mereka bergegas berangkat. "Waalaikumsalam." Jawab Papa mengantar mereka sampai ke depan.
__ADS_1
Sampai di tempat acara Jihan memisahkan diri dari anak anak. Wanita itu memasuki ruangan khusus sementara anak anak duduk di bangku yang sudah di sediakan. "Mau sama Ibu." Kata Juma. "Ibu ada acara. Kamu duduk sini aja. Lihat Ibu dari sini." Kata Jalwa pada adiknya yang manja.
Acara di mulai. Pembawa acara menyambut Jihan yang menaiki panggung. Wanita itu langsung mendapat tepuk tangan meriah dari semua penonton yang hadir. "Selamat pagi Mbak Jihan. Wah dari TV cantik lihat langsung begini makin cantik. Saya sampai deg degan loh." Ucap pembawa acara itu membuat Jihan tersenyum. "Selamat pagi. Selamat pagi semua." Sapanya ramah. "Silahkan duduk Mbak. Kita mau ngobrol nih. Biar dapat inspirasi dari berbagai bidang." Jihan mengangguk kemudian duduk di sofa yang telah di sediakan. "Mau undang mbak Jihan itu susah lo. Meskipun ada orang dalam." Semuanya tergelak. "Sudah hampir 3 bulan ya. Maaf padat banget jadwalnya. Tapi Alhamdulillah hari ini bisa datang." Kata Jihan.
__ADS_1
"Wah luar biasa sekali ya. Ini bisa menjadi motivasi bagi anak anak muda seperti kita untuk tetap berjuang dan pantang menyerah. Nah ini ada pertanyaan sedikit pribadi dari audiece. Mbak Jihan Anaknya tiga ya. Dua juga berkuliah disini. Ayahnya dosen saya lo. Gimana kehidupannya sebagai Ibu rumah tangga?" Jihan tersenyum. "Ya di rumah seperti ibu rumah tangga lainnya. Ya masak, ya bersih bersih, ya belanja. Ada asisten rumah tangga sebenarnya. Tapi suami sama anak anak itu agak rewel jadinya saya urus sendiri." Jawab Jihan. Pertanyaan pertanyaan lain masuk dan itu menjurus ke arah kehidupan pribadi. Sebisa mungkin Wanita itu menjawabnya dengan senang hati.
Jihan menghampiri anak anaknya setelah melayani sesi foto. "Ibu. Haus." Kata Juma. "Kita ke kantin." Remaja itu menggeleng. "Itu minum Ibu ada." Ucapnya melihat botol air mineral tinggal setengah yang di pegang Jihan. "Tinggal setengah. Apa cukup?" Juma tersenyum kemudian duduk diikuti Ibunya. Remaja itu mulai minum. "Kamu keringetan." Ucap Jihan mengelap dahi putranya dengan tissue. Semua mata tertuju pada pasangan Ibu dan anak yang begitu manis itu. "Dek." Riza menghampiri Istrinya. "Pulang sekarang?" Tanyanya sambil duduk. "Mau mampir ke Mall dulu Yah. Juma minta bola basket baru." Jawab Jalwa. "Iya. Sekalian mau beli kebutuhan buat muncak hari Rabu. Besok Ibu harus berangkat. Kalian yang akur di rumah." Pesan Jihan pada anak anak dan suaminya. "Kakak mau muncak?" Tanya Mark riba tiba datang. "Hm. Mau mengulang masa muda dulu. Sudah belasan tahun kakak nggak ke gunung." Jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1