
Siang hari Juma sudah ribut minta di belikan eskrim. "Minta Ayah antar." Jawab Jihan masih sibuk masak untuk makan siang. Bocah tampan itu menolak seperti biasanya. Ia ingin diantar Jihan membuat sang Ibu menghela napas. "Tunggu sebentar." Jawab Jihan. Juma langsung patuh dan duduk tenang di kursi menunggu Ibunya selesai.
Jihan menggandeng tangan putranya menuju minimarket yang berjarak beberapa meter dari rumah. "Si tampan. Mau beli apa?" Sambut Ibu ibu paruh baya. "Mau beli eskrim Nek." Jawab Juma sambil mencium tangan wanita itu. "Pintar" Ucapnya sambil mengusap kepala Juma dengan lembut.
Riza mengobrol dengan tetangganya membiarkan Istri dan anaknya belanja sesuka hati. "Istri kamu cantik Za." Ucap Ibu itu sambil tersenyum. "Budhe kalau Riza kesini selalu bilang begitu." Jawab Riza sambil terkekeh. Ia tau istrinya sangat cantik. Tidak ada yang bilang jika Jihan tidak cantik. "Anak kamu manja ya." Pria itu dengan cepat mengangguk menanggapi lawan bicaranya. "Iya. Paling kecil paling manja. Kemana mana harus sama Ibunya. Tidur saja sama Ibunya." Ia menjawab dengan jujur. "Kalo begitu ceritanya sulit kalau mau tambah momongan." Riza menjawab dengan gelengan. Ia menjelaskan jika tidak ada niat untuk tambah momongan lagi. Anaknya sudah banyak dan itu sudah sangat sangat cukup.
"Sebanyak ini habis?" Tanya Riza saat dalam perjalanan pulang. "Kalau tidak habis malah mengherankan Mas." Jawab Jihan sambil tertawa kecil. Riza hanya tersenyum mendengar jawaban istrinya. Dua kantong kresek besar beratnya lumayan sedang Ia bawa. Satu lagi dengan ukuran sama di bawa istrinya. Hanya untuk jajan Juma Ia menghabiskan 400 ribu. Memang tidak masalah. Lagipula Juma juga jarang jajan kalau tidak benar benar ingin sekali. Bocah tampan itu lebih suka cemilan yang di buatkan Ibunya.
__ADS_1
"Casper. Kakak boleh minta?" Tanya Jaffan yang sedang makan eskrim bersama saudara saudaranya. Tak menjawab Juma hanya mengangguk sambil sibuk makan eskrim dari suapan sang Ibu.
Riza baru datang ikut duduk bergabung. Pria itu langsung tiduran sambil meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri. "Kalian sudah puas jalan jalannya?" Tanya Jihan karena kemarin Ia dan suami mengajak anak anak berkunjung ke tempat tempat wisata di Jogja sambil membeli oleh oleh. "Sudah Ma." Jawab Jason. Ini kali pertamanya Ia dan Julian berlibur ke Jogja. Ternyata sangat menyenangkan. Remaja itu meminta agar kapan kapan berkunjung kesini lagi. "Tentu. Setiap tahun kita kunjungi makam Kakek, Nenek sebelum puasa." Jawab Jihan sambil tersenyum.
Riza keluar saat mendengar keributan di masjid dekat rumahnya. "Ada apa Mas?" Tanya Jihan menghampiri Pria yang masih berdiri di teras rumah itu. "Nggak tau. Mas kesana dulu." Ucapnya berlalu pergi setelah mengecup kening sang istri.
Riza membawa Dika pulang ke rumahnya setelah berhasil menenangkan warga. Mereka setuju untuk memilih jalur damai setelah berunding cukup alot. "Astagfirullah kenapa Mas?" Tanya Jihan melihat sosok suaminya membawa remaja penuh luka. "Minta baju ganti dulu Dek. Nanti Mas ceritakan." Jawabnya. Wanita itu bergegas meminta baju anaknya untuk di berikan pada Dika. Riza menyuruh remaja itu segera mandi lalu menceritakan kejadian tadi kepada anak anak dan istrinya.
__ADS_1
Setelah selesai mengobati luka luka di wajah Dika Jihan memberikannya makan. Ia tersenyum miris melihat bagaimana Dika makan begitu lahap. "Terimakasih Tante." Ucapnya di sela sela mengunyah. "Sama sama." Jawab wanita itu sambil tersenyum.
Jihan duduk sembari memangku putra bungsunya. Mereka semua mendengarkan cerita Dika yang di besarkan di pasar oleh para preman sejak bayi karena Ia dibuang orang tuanya. Tak pernah mengenyam pendidikan, hidup di lingkungan miskin dan Ia di paksa untuk mengemis. Belum lagi segala penyiksaan yang di lakukan oleh orang tua angkatnya membuat Dika tak tahan dan memilih untuk kabur.
Selesai menyuruh Dika beristirahat Jihan menghampiri suami dan anak anaknya yang berkumpul karena ingin membicarakan sesuatu. "Mas. Gimana kalau Dika kita bawa ke Jakarta." Ucap Jihan langsung mendapat pertentangan dari Juma. "Juma nggak mau punya saudara lagi Bu. Juma nggak mau." Kata Bocah itu kesal dan berlalu pergi. "Ibu. Juma ngambek. Kita juga sedikit keberatan sih Bu." Jaffan menyampaikan pendapatnya. "Ibu bawa ke Jakarta itu biar dia di pesantren. Biar dia dapat penghidupan dan pendidikan yang layak." Jelas Jihan memberi pemahaman.
Juma berbaring di ranjang memeluk guling nya dengan erat. "Sayang." Panggil Jihan dengan lembut sambil menepuk punggung putra bungsunya. "Ibu nggak sayang Juma lagi kalau masih cari anak." Jawabnya tanpa mengubah posisi. Riza menghela napas melihat kelakuan putranya. Pria itu tak bisa membantu jika sudah begini. Hanya Jihan yang bisa mengatasi. "Sayang. Sini dulu Ibu mau bicara." Juma duduk namun enggan menatap Ibunya. Wanita itu mulai memberikan pengertian pada putranya. Ia akan membawa Dika untuk ke pondok pesantren dan menyekolahkan disana. "Tidak ada lagi saudara. Juma tidak mau." Kata Bocah itu berbalik kemudian memeluk Ibunya dengan erat.
__ADS_1