Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Janji Mark


__ADS_3

Riza menghampiri Istrinya yang sibuk memberi makan ikan bersama anak anak. Wanita itu tidak ikut sarapan bersama. Setelah memakaikan dasi dan menyiapkan makan Jihan pergi begitu saja. "Dek. Mas berangkat dulu." Pamit Riza. Jihan mengangguk kemudian mencium tangan sang suami di balas ciuman lembut keningnya dan anak anak bergantian. "Assalamualaikum." Ucap Riza. "Waalaikumsalam."


Beberapa saat setelah Riza pergi Mark datang menghampiri ketiga orang yang terlihat begitu asyik. "Coba ikut berenang ikannya sana." Kata pemuda itu. "Nggak mau Om. Dingin." Jawab keduanya. "Kamu nggak ngajar?" Tanya Jihan melihat Mark masih dengan pakaian santai. "Nggak. Ayo jalan jalan." Ajaknya ingin menghibur sang kakak. Melihat Jihan sedih seperti itu membuat hatinya terluka. Meskipun tak ketara karena Jihan selalu terlihat bahagia di depan anak anak namun Mark sangat tau apa yang dirasakan wanita itu. "Ayo jalan jalan Om." Keduanya begitu bersemangat. "Ayo. Kemanapun kalian ingin pergi. Om turuti." Ucapnya bersungguh sungguh. "Kakak ada pemeriksaan kesehatan Mark. Kakak sudah ada temu janji sama dokter." Kata Jihan. "Iya Kakak ku sayang. Sekalian juga." Ia menggandeng tangan kakaknya untuk segera bergegas.

__ADS_1


Jihan, Mark dan anak anak mampir dulu ke rumah sakit. "Tunggu di sini dulu sama Om. Ibu cuman sebentar." Kata Wanita itu bergegas masuk ke ruangan dokter. "Om. Ibu sakitnya kapan sembuh sih?" Tanya Jaffan. "Nanti Juga sembuh. Kita berdoa saja." Jawab Mark sambil tersenyum menahan sesak di dadanya. "Om. Malam waktu Ibu di bawa ke rumah sakit. Jalwa dengar Ayah memarahi Ibu. Semenjak itu Ibu terlihat murung terus. Jalwa tanya kenapa Ayah memarahi Ibu sampai begitu Ibu tidak mau menjawab. Kira kira Om tau kenapa? Kenapa Ayah membentak Ibu keras hingga Ibu sedih dan sakit?" Tanya gadis kecil itu. Mark bingung harus menjawab bagaimana. "Itu masalah orang dewasa Sayang. Nanti Ibu akan menjelaskan ketika sudah waktunya. " Jawab Mark sambil mengusap kepala keduanya dengan lembut.


Jihan keluar dari ruangan dokter. "Bagaimana kak? Ada progressnya kan?" Tanya pemuda itu langsung menghampiri kakaknya. "Masih sama. Jangan terlalu berharap lebih." Jawab Jihan sambil tersenyum tipis. Napas Mark tercekat. Pemuda itu memeluk Jihan dengan erat. Apa yang di rasakan wanita itu Ia juga ikut merasakannya. "Kakak baik baik saja. Ayo. Katanya mau jalan jalan." Mark melepaskan pelukannya menatap sang kakak dengan mata yang berkaca kaca. "Jangan cengeng. Kakak nggak suka lihat kamu begini." Jihan mengusap air mata Mark yang sudah turun ke pipi. "Aku akan menjaga dan membahagiakan kakak. Aku janji." Ucapnya sambil tersenyum kemudian mengecup pipi wanita cantik di depannya. Ia menggandeng tangan Jihan dan Jalwa sedangkan Jaffan menggandeng tangan kiri sang ibu. "Ayo kita bersenang senang." Ajak Mark.

__ADS_1


Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah restoran grill yang terletak di dekat mall. Jihan makan sambil menyuapi ketiganya. "Hati hati masih panas." Wanita itu meniup daging yang sudah matang kemudian menyuapkannya pada Jalwa. "Habis ini mau kemana kita?" Tanya Mark. "Mampir ke masjid dulu buat sholat dhuhur. Abis itu ke pantai saja." Jawab Jihan dengan semangat. "Nah. Habis ke pantai mampir ke rumah Papa. Papa ada di sana katanya." Lanjut wanita itu. "Memangnya kakak tidak capek?" Tanya Mark. "Enggak lah. Masa begitu saja capek." Jawab Jihan.


Berkali kali mencoba menghubungi istrinya tapi tidak di jawab. Riza menghubungi adik iparnya. "Assalamualaikum." Ucap Pria itu ketika panggilan sudah terhubung. "Waalaikumsalam." Jawab dari sebrang sana. "Kalian dimana?" Tanya Riza. "Kami sedang di rumah Papa. Jangan menyusul. Sebentar lagi akan pulang." Pemuda itu memberikan peringatan sebelum Riza bertindak. "Baiklah. Hati hati kalau pulang. Assalamualaikum." Ia langsung mengakhiri panggilan setelah mendapat jawaban dari salam yang Ia ucapkan.

__ADS_1


Sekitar selesai sholat sholat Isya Jihan dan yang lain sudah sampai di rumah. Wanita itu langsung menuju kamar setelah meletakkan pakaian kotor anak anak di tempat cucian. "Dek." Panggil Riza ketika melihat sang istri. Jihan mencium tangan suaminya kemudian berlalu menuju walk in closet untuk mengganti pakaian. "Dek." Riza menyusul sang istri dan berdiri di belakang Jihan yang sedang melepas Jilbabnya. "Mau sampai kapan kamu diami aku seperti ini? Mas minta maaf Dek." Ucap Riza begitu sendu namun istrinya tetap membisu. Jihan berdiri menghampiri suaminya. "Dan mau sampai kapan kamu cemburu, curiga dan berpikir buruk tentang aku? Mau sampai kapan meragukan aku? Ingat baik baik Mas. Semua yang aku lakukan terasa sia sia dan percuma karena kemarin malam. Aku tau bahwa kepercayaan mu padaku itu tidak ada." Ucap Jihan sambil memegangi dadanya. "Dek." Riza panik ingin merengkuh tubuh sang istri namun Jihan dengan cepat menjauh.


Riza menatap punggung istrinya. Pria itu tak berani mendekat atau memeluk karena sang istri membatasi dengan guling di tengah tengah. Jihan tak pernah semarah ini sebelumnya. Marah juga tak akan lama. Paling sebentar mengomel lalu baik lagi. Di diami berhari hari seperti yang di alami Riza saat ini membuat pria itu frustasi. Ia tak tau lagi harus bagaimana untuk mendapat maaf dari sang istri.

__ADS_1


__ADS_2