
"Kita tidak beli oleh oleh? Aku pengen kasih ke karyawan." Kata Jihan yang sedang duduk berdua dengan suaminya. Riza tersenyum menanggapi sang istri. "Kamu mau beli oleh oleh apa hm?" Tanya Pria itu sembari mengelus lembut kepala istrinya. "Nggak tau. Yang asli sini kan kamu. Yang tau makanan sini ya kamu lah. Masa aku." Jawabnya kemudian segera melangkah pergi setelah mengambil ponselnya di atas meja.
__ADS_1
Riza hanya memperhatikan istrinya yang sedang berbalas pesan dengan seseorang sambil senyum senyum. "Kamu chat an sama siapa sih Dek? Seru banget." Tanya Pria itu mampu membuat sang istri menoleh. "Nggak sama siapa siapa." Jihan meletakkan ponselnya dan berbaring di karpet. Riza mengangkat kepala istrinya dan menaruh di paha untuk bantalan. Ia mulai mengelus kepala Jihan dengan lembut sembari mendoakan yang baik baik. "Dek." Panggilnya hanya di jawab deheman. "Kamu pengen punya anak berapa?" Tanya Riza membuat Jihan seketika membuka mata. Wanita itu menatap suaminya yang sedang menatapnya juga. "Kamu pengen punya anak?" Tanya Jihan. Riza mengangguk sembari tersenyum. "Aku tidak terpikirkan tentang itu." Jihan berkata membuat suaminya berubah ekspresi seketika. "Maksudnya?" Riza butuh kejelasan sekarang. "Kita menikah sesuai wasiat dan juga menjalani kehidupan rumah tangga seperti umumnya. Apa lagi? Selain itu aku tidak memikirkan." Jawab Jihan. "Apa belum ada aku di hatimu? Lalu kenapa kamu selalu melayani Aku jika aku meminta?" Jihan mendudukkan tubuhnya menatap manik mata suaminya dalam dalam. "Aku melaksanakan kewajibanku dan tidak lebih dari itu. Untuk cinta...Aku tidak memilikinya. Hatiku tidak pernah diisi oleh siapapun." Jawab Wanita itu bergegas pergi meninggalkan Riza yang menatap ya nanar kemudian menghela napas perlahan. Mungkin Ia harus memahami istrinya yang masih muda dan banyak impian. Pria itu mencoba memaklumi sang istri yang belum siap menjadi seorang Ibu.
__ADS_1
"Dek." Panggil Riza dengan lembut sembari memeluk wanita yang sedang sibuk dengan ponselnya itu. "Aku mau ke kamar mandi dulu. Mau pipis." Katanya kemudian meninggalkan suami. Riza meraih ponsel istrinya. "Tidak di kunci." Gumam pria itu sembari membuka riwayat chat. "Tidak ada nama laki laki. Di berbalas pesan dengan Meta." Gumamnya meletakkan kembali ponsel Jihan.
__ADS_1
Jihan duduk di batu besar dekat sungai yang mengalir jernih. Wanita itu tampak senang mengamati pemandangan yang begitu indah dan sejuk karena jauh dari polusi. "Dulu sewaktu aku pulang mengaji pasti mampir kesini." Riza mulai bercerita. "Sekarang sangat jarang ada anak anak yang main di sungai dan sawah. Masa kecil aku sangat ramai orang main air atau menangkap ikan. Suasananya damai dan kekeluargaan karena banyak para sesepuh yang mengayomi. Namun mereka sudah tutup usia. Jadi sudah tidak ada lagi wejangan dari para Mbah." Lanjutnya. "Mbah itu apa?" Tanya Jihan. "Mbah itu orang tua. Kakek atau nenek." Jawabnya membuat Jihan mengangguk paham. "Ada telpon dari Bunda Dek." Riza memberitahu sang istri. "Ya angkat sana. Angkat jauh jauh." Kata Jihan. Pria itu mengangguk kemudian pergi setelah memberi penuturan pada sang istri untuk tidak kemana mana. "Kakak ngapain?" Tanya Mark. "Cuman pengen rasain airnya. Dingin ternyata." Jihan tidak beranjak tetap diam di tempat.
__ADS_1
Riza memangku kaki istirnya sembari mengolesi obat gatal. Kaki Jihan merah merah dan terasa gatal setelah keluar dari sungai tadi. "Kan sudah di bilang jangan macam macam. Kenapa tidak dengar sih." Tutur pria itu sambil menahan kesal nya karena Khawatir. "Namanya juga orang penasaran." Riza gemas dengan istrinya yang selalu bisa menjawab. "Kita pulangnya kapan?" Tanya Jihan. "Besok kita pulang." Jawab Riza menanggapi istrinya.
__ADS_1