Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Suami Baru?


__ADS_3

Pagi hari Jihan kembali ke rumah setelah mengajak Chester jalan jalan sebentar. "Kamu senang Ches?" Tanyanya melihat serigala itu tampak bersemangat. "Astaga. Bisa tidak jangan mengagetkanku." Kesalnya saat membuka pintu sudah ada Riza yang berdiri di depan. "Maaf. Ayo Sarapan. Aku sudah masak nasi goreng buat kamu." Ajaknya menuntun wanita itu untuk segera bergegas. "Ini masih jam enam. Kenapa sarapan? Biasanya juga jam tujuh." Jihan nampak heran dengan tingkah suaminya itu. "Tidak apa. Sengaja sarapan pagi sekali biar nanti kalau masakan aku tidak enak masih ada waktu untuk memasak lagi." Jawabnya sambil terkekeh.

__ADS_1


Tiga orang sudah duduk di meja makan dan mulai menyantap sarapannya masing masing. "Gimana? Enak nggak?" tanya Riza tak sabar ingin mendengar jawaban dari istri dan iparnya. "Enak daripada kemarin." Jawab Jihan jujur membuat suaminya tersenyum. Tidak sia sia dia belajar dari internet di jam kosong ketika berada di kampus. "Hari ini kakak jadi mengantarkan aku ke dokter mata kan?" Tanya Mark. "Ya jadi dong. Mata kamu itu harus segera di periksakan biar tidak semakin parah. Kemarin kemarin kan kakak sudah mau antar tapi kamu menolak terus. Dasar." ucap Jihan kesal.

__ADS_1


Jihan baru saja keluar dari walk in closet dengan celana cargo pendek dan kaos. Wanita itu menenteng sepatu dan memakainya sambil duduk di sofa. "Mas." Panggil Jihan melihat sang suami baru keluar kamar mandi. "Ya ada apa?" Tanya Riza. "Tolong kalau mau kesini bawain ikat rambut yang ada di meja." Katanya dan pria itu mengangguk. "Ini." Riza ikut duduk di samping istrinya. "Makasih." Ucap Jihan sembari mengikat rambut lurusnya asal memperlihatkan leher jenjang yang begitu menggoda. Riza menelan ludahnya mengamati sang istri yang begitu cantik. "Dek. Kalau keluar pakai pakaian yang tertutup begitu lo." Ucapnya pelan menasihati sang istri. "Aku nggak bisa kalau tiap hari disuruh pakai baju gamis seperti itu. Nggak relate sama kegiatan aku. Gerah tau. Kerjaan aku kan di dapur. Masa harus pakai gamis kalau masak." Jihan memberi alasan. "Ya bukan gamis juga nggak papa. Kamu kalau pakai Jilbab lebih cantik." Ucap Riza sambil tersenyum. "Menutup aurat itu wajib dek." Tuturnya. "I Know. Tapi aku belum siap." Katanya bergegas pergi untuk menghampiri Mark yang sudah menunggu di bawah.

__ADS_1


"Weh...Bu Bos. Rambutnya baru." Kata para karyawannya melihat rambut baru Jihan yang sebahu membuatnya tampak cantik dan fresh. "Iya Dong." Jihan tersenyum sambil mengikat rambutnya karena Ia akan segera bekerja. "Habis nyalon ya." Meta menggoda sembari menyenggol bahu wanita itu. "Iya. Tadi sekalian antar Mark periksa mata." Jawabnya. "Lita hari ini masuk sekolah?" Tanya Jihan dan Meta mengangguk. "Tadi tanyain kamu. Kangen katanya." Jihan tersenyum. "Padahal baru kemarin ketemu. Sudah kangen saja." Ucapnya sambil tersenyum. "Rambut baru suami baru dong Mbak. Itu baru berdamage." Kata salah seorang dari mereka menggoda Jihan. "Ide bangus. Mau dong suami baru."Jihan menyahuti sambil tertawa. "Aw ..." Wanita itu meringis merasakan telinganya di tarik seseorang. "Apa suami baru?" Kata Riza tiba tiba sudah berada di belakangnya. "Eh.... Kamu kok disini. Harusnya tidak boleh masuk." Kata Jihan sambil mengusap telinganya yang memerah. "Mau suami baru? Kamu kok tega sekali sama aku Dek." Kata Riza membuat sang istri geli. "Akh... sana keluar." Jihan mendorong tubuh suaminya membuat mereka semua tertawa. "Ustadz Riza. Sabar sabar ya punya istri begitu." Teriak Meta membuat semuanya kembali tergelak.

__ADS_1


__ADS_2