Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Gombalan Maut Dari Pengagum Rahasia


__ADS_3

Jihan sudah sampai di rumah. Wanita itu duduk bergabung bersama Papa dan adiknya. "Itu apa kak?" Tanya Mark penasaran. "Nggak tau. Tadi di beri." Jawab Jihan. "Buka Dek." Kata Riza dan istrinya mengangguk.

__ADS_1


Jihan membuka kotak pertama. Isinya sebuah lukisan bunga mawar yang begitu cantik. "Oh ada catatan." Kata Wanita itu mulai membuka lipatan kecil kertas yang ada di dalamnya. "Menggambarkan mu. Begitu cantik, menarik dan elegan." Gumam Riza membaca tulisan itu yang di kirim seseorang berinisial "R". "Astaghfirullah. Istri orang masih di goda saja." Kesal pria itu. "Sudah. Sekarang yang selanjutnya." Ucap Jihan menutup cepat kotak itu dan beralih ke kotak kedua. "Pot bunga? Pantas saja sedikit berat." Ucap Jihan sambil terkekeh. Ustadz Riza pernah berkata jika kak Jihan suka tanaman. Jadi aku beri pot bunga. Biar nanti ketika kak Jihan sedang menyirami tanaman selalu ingat aku seorang pengagum rahasia ini.' Mark terbahak bahak membaca tulisan di kertas yang di buka kakaknya. "Pandai menggombal." Kata Riza tak sadar dengan diri sendiri. Jihan membuka kotak terakhir yang masih tersisa. "Buah mangga. Coba baca tulisannya kak." Kata Mark menahan tawa. Papa hanya memperhatikan anak anaknya yang tampak heboh itu berbeda dengan Riza yang berwajah masam. "Ini mangga bukan sembarang mangga. Ini mangga manalagi. Kak Jihan kalau makan di jamin mau lagi. Sama halnya ketika aku melihat kak Jihan. Sekali jumpa pengen jumpa lagi." Hahahaha... Mark tertawa terpingkal pingkal. "Ya ampun. Ada aja." Ucapnya sambil memegangi perutnya yang sakit.

__ADS_1


Jihan sedang menikmati mangganya bersama Mark sambil merendam kaki di kolam renang. "Masih cemberut begitu. Lihat kakak iparmu kalau lagi cemberut." Ucapnya sambil menyenggol bahu adiknya. "Ih...Lain kali nggak usah kesana lagi kamu dek." Ucap Riza ikut duduk bergabung. "Mau nggak?" Tawar Jihan keluar topik pembicaraan. "Nggak." Jawab Riza cepat. "Mana mau makan. Orang dari saingannya." Ucap Mark sambil terkekeh. "Pokoknya nggak usah datang kesana lagi kamu. Nanti kalau mau jenguk anak anak biar Mas saja." Ucapnya. "Apa kamu bilang? Coba ulangi lagi." Jihan menatap suaminya garang. "Nggak usah ikut ke pondok pesantren. Nanti aku aja yang kesana." Ucap Riza menunduk. "Nggak. Nggak bisa begitu. Aku kan mau jenguk anak anak." Tegas Jihan. "Tapi Dek......" Keluh pria itu. "Mas. Aku tau apa yang kamu khawatirkan. Tapi nggak usah di anggap berlebihan selama aku masih setia sama kamu. Kamu pernah lihat aku genit ke pria lain. Enggak kan?" Tanya Jihan di jawab gelengan cepat karena memang begitu adanya. "Yaudah. Kalau mereka begitu ya suka suka. Selama aku tidak menanggapi kan tidak akan jadi perkara. Baru juga kemarin kemarin minta maaf sudah di ulangi lagi." Ucapnya. "Sudah diam. Kasihan kak Riza kakak omeli terus." Mark dengan jahil menyuapkan mangga pada kakaknya yang sedang mengomel.

__ADS_1


Sore hari seperti yang di janjikan Riza keduanya sekarang sedang beli sate. "Pakai lontong nggak?" Pria itu di jawab anggukan telah sang istri. "Mau kerupuk dong Mas." Kata Jihan. "Itu kerupuk udang lo Dek. Kamu kan ada alergi udang." Riza mengelus kepala istrinya kasihan karena mau makan apa apa begitu hati hati. "Kalau alergi kerupuk udang ada kerupuk rujak yang di sebelah itu Mas." Kata Penjual sate. "Mau?" Riza menawari. "Mau coba deh." Pria itu mengangguk kemudian segera membelikan istrinya di tempat penjual buah yang tidak terlalu jauh.

__ADS_1


Semuanya menghela napas. Daritadi Jihan hanya makan kerupuk tidak mau makan sate dan lontong yang barusan di beli. "Satu suap saja Dek." Bujuk Riza namun Istrinya tetap menggeleng. "Minum susu nya kalau begitu." Kata Papa. "Iya Pa. Nanti." Jawab Jihan.

__ADS_1


__ADS_2