Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Menguak Kisah


__ADS_3

Jihan menghampiri dua putranya yang sudah menunggu di ruang tengah. Ia akan pergi melihat tempat yang akan di sewa Jason dan Julian untuk membuka cabang baru. Riza sudah pergi ke ruko bersama Jaffan, Jalwa di rumah temannya sedangkan Dika memilih untuk menemani kakek di rumah. Jadi hanya mereka berempat yang berangkat. "Ayo." Ajak wanita itu sembari menggandeng tangan putra bungsunya. "Ayo Ma." Jawab mereka segera berdiri.


Jihan di ajak berkeliling mengamati seluruh interior bangunan. "Gimana Ma?" Tanya Jason setelah mereka duduk bersama. "Tinggal di cat ulang pasti bagus. Kalian sewanya komplit sama renov atau kalian renovasi sendiri?" Jason dan Julian saling pandang. "Belum diskusi masalah itu Ma. Nanti pemiliknya akan kesini. Kita tunggu sebentar lagi." Jawab Julian. "Kalau perabot dapur dan segala macam biar Mama yang urus. Kalian mau yang mana tinggal pilih. Sesuaikan sama tema cafe kalian." Jihan menyodorkan tabnya. "Tidak usah Ma. Kita beli sendiri saja." Ucap Julian tidak enak harus merepoti Mamanya lagi. Memang benar Jihan ada usaha properti tapi saudara kembar itu tidak ingin membuat Mamanya harus ribet lagi. "Hey kenapa begitu? Mama ini Mama kalian sudah sepatutnya membantu." Kata Jihan. "Hanya tidak enak saja selalu merepotkan Mama. Semuanya Mama yang urus." Jihan menggeleng menanggapi keduanya. "Apapun akan orang tua lakukan untuk anaknya. Begitu juga dengan Mama." Wanita itu mengusap lengan Jason dan Julian. "Makasih Ma." Ucap Mereka memeluk dan mencium Jihan. "Ih... Kenapa cium cium Ibu." Juma kesal mencoba memisahkan keduanya dari sang Ibu.

__ADS_1


"Kok lama." Ucap Riza langsung memeluk Jihan saat wanita itu sampai di teras rumah. "Apaan sih. Baru juga tiga jam." Jawab Jihan. "Ayah. Bukain." Juma menyodorkan susu kalengnya pada riza. "Itu tinggal di tarik. Banyak banget akal kamu supaya Ayah lepasin pelukan. Sayangnya Ayah nggak mau." Riza membukakan susu Juma sambil masih memeluk istrinya. "Sudah ah. Kalian ini. Aku mau masuk. Lepasin." Jihan melepaskan lengan suaminya dengan paksa kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.


"Yey semangka." Juma dengan semangat berlari ke arah wanita cantik yang sedang membawa nampan diikuti kakak perempuannya. "Juma nggak boleh makan. Makan semangka terus ngompol kamu nanti " Kata Jalwa meninggikan nampan yang sedang di bawa. "Ibu. Juma mau semangka." Ucapnya mengadu. "Coba sesekali mengadu ke Ayah." Jawab Jihan sambil duduk setelah meletakkan pisang goreng dan cemilan lainnya di atas meja. "Ayah mana pernah memihak Juma." Keluhnya. "Jalwa adeknya kasih." Kata Riza setelah menghela napas. "Iya Yah." Jawab gadis itu menyodorkan nampannya membiarkan adiknya memilih. "Ambil tiga begitu habis?" Tanya Jaffan. "Habis dong." Jawabnya ikut duduk di samping sang Ibu. "Pisang goreng Dik. Kamu jangan diam saja dong." Jihan gemas dengan putranya itu. Irit bicara hanya senyum dan mengangguk jika menanggapi sesuatu. "Hati hati masih panas." Jihan mengambilkan dengan garpu. "Makasih Bu." Ucapnya sambil tersenyum. "Sama sama. Makan yang lainnya juga." Kata Jihan di jawab anggukan.

__ADS_1


Riza, Jihan dan Dika sedang duduk bersama di teras belakang. "Kamu nggak tidur siang Dik?" Tanya Riza. "Nggak Yah. Dika nggak ngantuk." Jawabnya sambil tersenyum. "Dik. Sini dulu Ibu mau ngomong." Jihan menepuk tempat kosong di sebelahnya mengisyaratkan Dika untuk duduk.


Setelah remaja itu duduk Jihan mengusap kepalanya dengan lembut. "Dika. Kamu tidak ingin tau siapa orang tua kamu?" Tanya Jihan. "Kamu tetap bisa tinggal dengan Ibu dan tetap jadi anak Ibu. Tapi apa kamu tidak pernah tanya atau mencaritahu tentang orang tua kamu?" Kata Jihan ketika raut wajah putranya berubah menjadi khawatir. Ia takut Dika salah paham akan mengembalikan ke orang tuanya lagi maka dari itu menjelaskan. "Dika pernah tanya Bu. Kata orang yang mengasuh Dika. Ibu Dika membuang Dika karena dihamili oleh majikannya. Ibu Dika seorang pembantu rumah tangga dan majikannya tidak mau tanggung jawab. Ibu Dika sudah meninggal Beberapa tahun lalu saat ketigakalinya kami bertemu. Ibu memang mencari Dika. Yang pertama Ibu tidak menemui Dika langsung tapi menemui orang tua asuh Dika. Yang kedua hanya bicara sedikit dengan Dika. Ibu bilang kalau dia Ibu Dika. Ibu juga meminta rambut Dika entah untuk apa. Yang terakhir Ibu memberi Dika banyak uang. Jika tidak salah ada tiga juta waktu itu tapi langsung di ambil orang yang mengasuh Dika. Sejak saat itu Ibu tidak pernah datang dan tiba tiba saja Dika dapat kabar jika Ibu meninggal karena bunuh diri." Jelas Dika. Jihan mengusap air matanya. "Dika mau ketemu Ayah Dika?" Tanya Wanita itu. "Tidak Bu. Dika sudah bahagia begini." Jawabnya sambil tersenyum. "Bagaimanapun itu. Ibu senang kamu bahagia." Ucap Jihan memeluk putranya.

__ADS_1


Riza duduk sambil merangkul istrinya. "Rambut buat apa ya Dek?" Tanya Riza setelah mendengar penjelasan Dika tadi. "Di buat tes DNA untuk alat memeras majikannya itu. Tapi sayang lama kelamaan Ibu Dika yang mengemis cinta juga tak terbalas. Wanita itu frustasi dan bunuh diri." Jawab Jihan menjelaskan. Ia memang menelusuri semua tentang Dika dan baru mendapat hasilnya pagi tadi. "Kasian dia." Gumam Jihan membayangkan betapa sulitnya hidup Dika.


__ADS_2