Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Saran (Langsung lanjut ke eps Perbaikan)


__ADS_3

Rombongan mobil sport berhenti. Jihan turun sembari menggandeng tangan Papanya memasuki perusahaan. Wanita itu tampil menawan dengan dress formal yang elegan. "Selamat pagi Bu Jihan dan keluarga. Semuanya sudah siap." Ucap Dina menyambut kedatangan bosnya.


Jihan memasuki tempat acara. Wanita itu menghampiri meja Mia, Carissa dan Dewi lengkap dengan suami mereka masing masing setelah mengantar keluarganya duduk. "Wah Ibu CEO cantiknya." Ucap ketiga wanita itu memeluk Jihan bergantian. "Banyak basa basi." Jawab Jihan ikut duduk. "Suami kamu ikut? Kalian sudah baikan?" Tanya Satria. "Eh Bangsat. Ya sudah dong." Jawab Jihan. "Ji." Kesal Mia karena suaminya di panggil tidak enak. "Duh bingung sih. Lagian punya nama juga Satria sih. Kenapa nggak Arif atau siapa gitu." Cerocos Jihan. "Syukurlah kalau sudah baikan. Komunikasi memang penting. Selesaikan dengan kepala dingin." Sahut Reno. "Papa bijak sekali tumben." Ucap Carissa membuat semua tergelak. "Kejem banget. Lagian Papa bener kan Ma." Tambahnya lagi. "Iya Ji. Aku yakin kalau suami kamu nggak akan macam macam." Kata Adit. "Banyak banyakin olahraga malam Ji. Biar rumah tangga makin hot." Mia memberi saran. "Apaan sih. Kok pembahasannya jadi melantur begitu. Dasar." Kesal Jihan meninggalkan meja sahabatnya untuk bergabung dengan keluarga.

__ADS_1


Della memperhatikan meja Bosnya yang juga ada Riza duduk disana. "Mereka anak Bu Jihan?" Tanyanya mengamati remaja tampan yang juga duduk dalam satu meja. "Iya. Dua yang cewek cowok itu anak kandungnya Jaffan dan Jalwa. Dua laki laki kembar identik itu anak angkatnya Jason dan Julian. Yang paling kecil itu anak kandungnya juga Juma. Sebenarnya ada satu lagi anak angkat namanya Dika tapi sekarang sedang mondok." Jawab salah satu temannya.


Jihan naik ke atas panggung untuk memberi sambutan. "Selamat Siang." Ucap wanita itu dengan senyumnya yang begitu menawan. "Semoga kita dalam keadaan sehat dan selalu bahagia. Terimakasih atas dua belas tahun waktu yang sangat luar biasa. Terimakasih telah memberikan yang terbaik untuk kemajuan perusahaan. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat. Suka dan duka telah kita lalui bersama. Saya percaya anda sekalian telah bekerja dengan setulus hati hingga bisa membesarkan perusahaan kami. Terimakasih juga saya ucapkan kepada para konsumen yang telah memberikan kepercayaan yang luar biasa. Kami berjanji akan terus berusaha mempertahankan dan meningkatkan kualitas. Bersama sama kita maju untuk lebih baik. Sebagai rasa terimakasih saya untuk 12 tahun kebersamaan ini. Saya akan memberikan sedikit bonus di masing masing rekening anda dan sedikit hadiah." Mereka semua bersorak mendapat notifikasi dari ponsel yang berisi bonus di transfer dari perusahaan. Tak hanya itu Jihan juga memberikan paper bag bagi mereka semua. "Selamat menikmati makan siangnya. Sekali lagi terimakasih." Ucap Jihan. "Terimakasih Bu." Jawab mereka bertepuk tangan.

__ADS_1


Jihan menghampiri meja sahabatnya sambil menggendong Juma. "Ayo ikut Om yuk." Ajak Satria namun Juma menolak. "Sama Tante kalau gitu." Juma menggeleng. "Ayo Sama Om Reno. Sini." Jihan menatap suami sahabatnya tajam. "Jangan di ganggu. Lagi rewel." Kesalnya. "Ibu ayo pulang." Rengeknya. "Aku pulang dulu ya." Pamit Jihan. "Hati hati." Ucap Mereka. "Anak anaknya nggak ada yang deket sama Ayahnya ya." Ucap Reno melihat kepergian Jihan. "Iya. Lagian suami Jihan juga nggak terlalu respect sama anak anak." Sahut Dewi membenarkan.


Riza mendorong tubuh istrinya hingga terlentang di sofa. Ia menindih tubuh Jihan dan melepaskan pakaian wanita itu dengan perlahan. Riza mulai mencumbu indah sang istri dan melakukan penyatuan yang begitu lembut dan penuh cinta dengan wanita itu.

__ADS_1


Selesai dengan kegiatan panas keduanya berendam bersama. "Jangan mulai lagi deh Mas." Ucap Jihan merasakan tangan nakal suaminya yang mulai bergerilya. Riza tan menjawab dan enggan menyingkirkan tangannya yang berada di bawah sana. "Mas." Keluh Jihan. "Kamu juga nggak tahan kan Dek. Satu kali lagi." Riza melakukannya lagi. Tubuh istrinya begitu membuat candu membuatnya enggan untuk berhenti.


Sampai eps END jangan di baca. Langsung lompat ke episode selanjutnya (Perbaikan)

__ADS_1


__ADS_2