
Mobil berhenti di sebuah rumah minimalis dua lantai nan mewah. Selesai dengan pekerjaannya di kampus Riza langsung menuju rumah Istrinya karena mendapat pesan dari adik ipar jika mereka sedang berada disana. Pria itu turun dengan dengan wajah bahagia langsung bergegas masuk ke dalam sambil mengucapkan salam.
Denting musik terdengar mengiringi dua orang yang sedang bernyanyi dengan merdu. Riza berhenti sejenak memperhatikan istri dan iparnya bermain piano bersama sambil membawakan lagu someone like you yang di populerkan oleh Adele. Baru kali ini pria itu mendengarkan suara luar biasa sang istri.
I heard that you're settled down
That you found a girl and you're married now
I heard that your dreams came true
Guess she gave you things, I didn't give to you
Old friend, why are you so shy?
__ADS_1
Ain't like you to hold back or hide from the light
I hate to turn up out of the blue, uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it
I had hoped you'd see my face
And that you'd be reminded that for me, it isn't over
I wish nothing but the best for you, too
"Don't forget me, " I beg
__ADS_1
I remember you said
"Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead"
"Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead"
"Oh Mark. Adikku ini sangat luar biasa." Kata Jihan memeluk adiknya setelah selesai. "Kakak juga luar biasa." Balasnya sambil mengeratkan pelukan. "Kak Riza daritadi?" Tanya remaja itu membuat Jihan melepaskan pelukan dan segera menoleh. "Assalamualaikum." Tak lupa dengan salam Pria itu langsung menghampiri sang istri. "Waalaikumsalam." jawab keduanya kompak. "Coba aku diajari Dek." Ucapnya ikut duduk di samping Jihan setelah mengecup kening istrinya pelan. "Ok." Jihan mulai mejelaskan sambil mempraktekkan dasar dasar bermain piano untuk mengajari Riza.
Sepasang suami istri sedang duduk bersantai di teras belakang. "Kita malam ini tidur di sini kan Mas?" Tanya Jihan mendongak menatap Riza yang sedang memangku kepalanya. "Kita pulang ya Dek. Tidak enak. Aku kan yang jadi Imam. Masa tidak datang." Lanjutnya membuat Jihan mengangguk pasrah. "Terimakasih sudah mengerti." Ucap Riza kemudian mendaratkan ciuman lembut di kening istrinya. Jihan sangat pengertian tentang keadaanya meskipun terkesan cuek dan jutek namun sebenarnya sangat respect pada suaminya. Terbukti seperti saat ini wanita itu memilih untuk memahami dan mengalah daripada mengedepankan egonya sendiri.
Jihan berjalan cepat menghampiri suaminya yang sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya. "Ayo pulang sekarang Mas." Ucap Wanita itu sudah membawa kunci mobil. 'Lah. kok semangat sekali.' Pikir Riza karena tadi istrinya masih sedikit tak rela di ajak pulang. Ya meskipun tak bicara secara langsung tapi Riza cukup tau apa yang di rasakan Jihan. "Iya. Kamu pelan pelan dong jalannya. Buat Mas jantungan saja. Astaghfirullah." Ucap Pria itu sembari mematikan kran. "Nanti mampir ke penjual buah ya. Kita beli ini." Jihan menunjukkan foto buah di layar ponselnya. "Sawo?" Tanya Riza dan Jihan mengangguk semangat.
"Kalian kok lama?" Ucap Mark melihat sepasang suami istri itu baru sampai rumah padahal mereka pulangnya barengan hanya beda mobil saja. "Masih beli ini." Jihan mengangkat kantong kresek di depan wajah adiknya. "Apa tuh? Telur?" Tanya Remaja itu sambil mengerutkan keningnya. "Bukan. Ini sawo. Rasanya gimana Mas?" Tanya Jihan ketika suaminya baru datang setelah menutup pagar. "Manis kaya kamu Dek." Gombalan mautnya keluar lagi membuat kakak beradik itu memutar bola matanya malas. "Pak ustadz mulutnya manis sekali. Belajar dari siapa hm?" Tanya Jihan menatap suaminya sambil menyipitkan mata. "Nggak perlu belajar Dek. Semua laki laki Mas rasa akan begitu setelah menemukan tambatan hatinya." Nah...lo....kata kata pria itu semaki dalam sedalam palung Mariana. "Kirain belajar dari tetangga kamu yang istrinya dua itu." Jihan terkekeh kemudian segera masuk ke dalam meninggalkan dua orang yang masih mematung di tempatnya.
__ADS_1
Tak terasa waktu berbuka telah tiba. Tiga orang sedang berkumpul untuk berbuka bersama setelah sholat magrib usai. "Eh...Kulitnya ya jangan kamu makan dong Dek." Ucap Riza ketika melihat istrinya akan menggigit sawo yang masih ada kulitnya. "Bukannya langsung makan?" Tanya Jihan di jawab gelengan. Riza mengambil buah itu dari tangan istirnya kemudian mengupas dengan pisau. "Nah. Makan." Ucapnya sambil menyuapi sang istri. "Manis." Gumam Jihan membuat suaminya tersenyum.