
Riza kelimpungan. Sejak semalam istrinya hanya menjawab singkat semua yang Ia tanyakan. "Tolong pakaikan dasiku Dek." Kata Riza menghampiri Jihan. Tanpa menjawab wanita itu meraih kain panjang dari tangan sang suami lalu mulai mengikat setelah mengalungkan di kerah kemeja sang suami. "Sudah." Ucapnya singkat kemudian melanjutkan menyiapkan makan. "Aku sarapan di kamar sama anak anak Pa." Pamitnya sembari membawa nampan yang berisi makanan. "Biar aku yang bawa Dek." Jihan menggeleng. "Aku bisa sendiri." Jawabnya. "Mau kemana Za?" Tanya Papa melihat menantunya berdiri dari duduk. "Mau susul istri Pa." Jawab Riza. "Biarkan dulu. Kamu tau kan istri kamu bagaimana. Biarkan dia tenang dulu." Ucapnya membuat Riza terpaksa duduk kembali.
Jihan sedang menyuapi anak anaknya sarapan. "Panasnya sudah turun." Kata wanita itu. "Ibu. Kemarin kemarin kenapa yang jenguk Ayah saja? Padahal kita kan mau ketemu Ibu." Kata Jalwa. "Maaf sayang. Ibu tidak ikut ke pengajian Ayah. Jadi Ayah jenguk sendiri tanpa kasih tau Ibu. Katanya sekalian mampir." Jawab Jihan sambil mengelus pipi putrinya. Gadis itu tampak mengangguk kemudian tersenyum.
__ADS_1
Hanya tinggal Riza yang tersisa di ruang makan. Mark sudah berangkat ke kampus sedangkan Papa baru saja berangkat ke perkebunan. Pria itu menghela napas panjang. Ia tak menyangka kebohongannya akan berdampak seperti ini. Riza hanya tidak mau membuat istrinya khawatir yang nantinya akan membuat Jihan merengek minta untuk menjenguk anak anak. Dari kemarin Ia sudah minta maaf pada sang istri. Wanita itu menjawab Iya tapi sikapnya masih dingin semenjak semalam.
"Sudah turun panasnya?" Tanya Riza menghampiri Jihan yang sedang menemani anak anak menonton kartoon di kamar. "Sudah." Jawabnya singkat. "Kalau gitu aku berangkat dulu Dek." Riza mencium kening dan pipi sang istri. Jihan menganggukkan kepala kemudian mencium tangan suaminya. "Ayah berangkat dulu ya " Pamitnya pada anak anak. "Iya Ayah. Hati hati." Jawab keduanya mencium tangan Ayahnya. "Assalamualaikum." Riza mencium kening si kembar. "Waalaikumsalam."
__ADS_1
Jaafar baru sampai di rumah adiknya. Pria itu langsung menuju kamar keponakannya karena kata Asisten rumah tangga di rumah Jihan dan anak anak sedang berada disana.
Siang hari Riza sudah pulang. Pria itu menghampiri Ipar dan mertuanya yang sedang mengobrol. "Sudah pulang Za? Cepet banget. Ini baru saja selesai dhuhur." Kata Jaafar. "Sudah Kak. Kebetulan semua kerjaan aku sudah selesai. Sudah tidak ada kelas lagi. Aku ke kamar dulu ya." Pamitnya langsung mendapat anggukan. "Menantu Om kenapa lesuh begitu?" Tanya Jaafar sambil terkekeh. "Istrinya ngambek gara gara anak sakit. Riza kemarin nggak ajak istrinya jenguk sih makannya begitu." Jawab Papa.
__ADS_1
"Ustadz." Bibi kaget melihat Riza masih berpakaian formal lengkap memasuki dapur. "Istri saya sudah minum susu Bi?" Tanyanya. "Belum. Ini lagi mau Bibi buatkan." Jawabnya. "Biar aku saja Bi." Kata Riza mengambil alih gelas yang di pegang wanita paruh baya itu. Riza menambahkan beberapa es batu ke dalam gelas kemudian membawanya pergi setelah berpamitan.
Riza menghampiri istrinya yang sedang duduk membaca buku. "Assalamualaikum." Ucap Pria itu ikut duduk kemudian mencium kening sang istri. "Waalaikumsalam." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang dia baca. "Minum dulu susunya." Kata Riza menempelkan gelas dingin itu di pipi Jihan. 'Dasar. Pasti mau minta maaf makannya boleh minum es.' Batin wanita itu karena tingkah licik suaminya. "Dek. Mas minta maaf." Ucap Riza. Nah kan...Dugaan tidak pernah meleset. Pria itu meletakkan gelas yang dibawanya di atas meja. Riza berlutut kemudian memeluk pinggang sang istri. "Mas jangan begini." Jihan mencoba melepaskan lengan suaminya namun tidak berhasil. "Maaf. Mas minta maaf." Jihan menghela napas. "Iya iya. Jangan begini." Pria itu mendongak sambil tersenyum kemudian mencium dan memeluk Istri tercinta. "Kamu maafin Mas kan Dek?" Tanyanya. "Iya." Jawab Jihan. "Awas. Aku mau minum dulu." Riza mengangguk kemudian kembali duduk di samping Jihan. "Mandi sana. Ganti baju terus makan." Ucapnya sebelum meneguk susu dingin yang dibuatkan sang suami. "Temani." Mulai manja dia. Mentang mentang sudah dimaafkan. "Mandi dulu sana." Jawab Jihan kembali membuka novelnya. "Sampai mana tadi." Gumam wanita itu. "Temani mandi sekalian Dek. Minta tolong gosok punggung aku." Kata Riza belum juga berangkat. "Banyak mau. Mandi sendiri. Aku sudah mandi." Tegasnya. "Iya." Riza bergegas pergi setalah mencium basah pipi sang istri.
__ADS_1