Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Bertemu


__ADS_3

Jihan dan keluarga sudah sampai di Jakarta semalam. Wanita itu kini sedang berada di Mall dengan Suami, dan anak bungsunya karena yang lain masih tidur. Ia juga membawa beberapa asisten karena akan belanja banyak hari ini. Jihan membelikan pakaian dan beberapa keperluan Dika untuk mondok karena Dika tak memiliki pakaian sama sekali. Ia juga membelikan untuk anak anak agar mereka tidak merasa di abaikan. "Dika kamu suka yang Mana?" Tanya Jihan meminta pendapat. "Yang mana saja Bu." Jawabnya kini sudah mengubah panggilan. Karena dia ingin merasakan bagaimana mempunyai seorang Ibu dan Jihan mengizinkannya. Dika sangat bahagia juga merasa sungkan dalam satu waktu. Karena seumur umur baru kali ini ada yang memperhatikannya.


"Ibu. Mau eskrim." Juma menarik tangan Ibunya setelah urusan belanja beres. "Jangan canggung begitu. Biasa saja." Ucap Riza menggandeng tangan Dika mengikuti anak dan istrinya. Pria itu tau ini kali pertamanya bagi remaja itu mengunjungi Mall. Dika terlihat begitu grogi dan asing memandang sekitar. Bahkan saat naik lift tadi Ia juga takut.

__ADS_1


Jihan duduk makan eskrim sambil menyuapi putranya sementara Dika makan sendiri. Penampilannya jauh lebih baik dari kemarin. Rambutnya sudah di rapinya dengan badan yang sudah bersih. Dika sebenarnya berkulit kuning langsat. Tapi karena tidak terawat jadi kotor dan kusam. Untung saja Jihan menyuruhnya mandi super bersih hingga kulit remaja itu benar benar cerah kembali.


Semuanya berkumpul untuk membuka belanjaan. Dika hanya diam hanyut dalam pikirannya. Rumah Jihan sangat mewah. Dalam sekali belanja wanita itu menghabiskan uang berjuta juta. "Yang untuk Dika ini di kemas ya Bi. Besok dia berangkat ke pesantren." Kata Jihan. "Baik Mbak." Jawab wanita itu langsung melaksanakan perintah majikannya. "Dika. Kamu senang tinggal di pesantren?" Tanya Papa. "Senang Kek. Dika ingin belajar agama. Dari kecil Dika tidak mengenal islam. Sholat saja Dika tidak bisa." Jawabnya sambil menunduk. Pria paruh baya itu menepuk pundak Dika pelan mengapresiasi niat baik remaja itu.

__ADS_1


Seorang wanita berjalan tegap menghampiri dua orang pria yang duduk bersama. "Kakak." Ucap Mark ingin memeluk namun Jihan menolak dengan isyarat tangannya. Ia kemudian duduk di kursi dekat suaminya. Mark menyampaikan maksud dan tujuannya yang tak lain dan tak bukan adalah untuk meminta maaf. "Kakak sudah memaafkan." Jawab Jihan singkat dan terkesan dingin tak seperti yang lalu. "Itu kan yang kamu inginkan. Jangan temui kakak lagi." Lanjutnya begitu menusuk hati. "Kak. Jangan begini." Mark sudah tak bisa menahan air matanya memeluk wanita itu dengan erat. "Ini kan yang kamu mau Mark? Kamu mau kakak tidak mengganggu hidup kamu lagi kan? Kamu mau kakak jauh jauh. Kamu bosan dengan kakak makannya sampai kakak bagaimanapun kamu tidak mau bertemu. Begitu kan?" Ucap Jihan sambil menangis pilu. "Asal kamu tau seberapa besar sayang dan cinta kakak sama kamu sampai kakak tidak peduli dengan diri kakak sendiri asal kamu bahagia. Kakak rela mengorbankan masa remaja kakak untuk selalu menjaga kamu. Kakak ikhlas. Demi allah kakak senang melakukannya. Kakak tidak minta imbalan apapun. Kakak hanya ingin bertemu kamu agar ikatan kita tidak pernah putus. Tapi kakak salah. Bukan kakak yang memutus. Kamu yang menginginkannya Mark. Kakak tidak akan lagi menganggu kamu." Jihan melepaskan pelukannya kemudian pergi.


Riza memeluk istrinya untuk menenangkan wanita itu. "Sudah. Jangan menangis lagi." Ucap Riza sembari menepuk lembut punggung Jihan. "Pusing." Keluhnya tiba tiba membuat Riza panik. "Kamu mimisan Dek." Ucapnya bergegas pergi untuk mengambil obat sang istri. Jika banyak pikiran sang istri selalu seperti ini membuat Riza tau apa yang harus dilakukan.

__ADS_1


Jihan sudah tertidur pulas membuat Riza lega. "Kalian keluar biar Ibu istirahat." Mereka mengangguk segera keluar satu per satu setelah mengecup kening wanita itu. "Juma mau disini Yah." Ucapnya. "Boleh tapi jangan berisik." Bisik Riza langsung di setujui. Juma ikut berbaring sambil memeluk Ibunya membuat sang Ayah tersenyum. Ia tau seberapa besar cinta Juma pada Ibunya. Riza mengusap pipi sang istri lalu mengecup kening wanita itu dengan lembut sebelum ikut tidur.


__ADS_2